Mother

Mother
156 Pamitan


__ADS_3

"Ya ampun, aku pikir malam tahun baru nanti kita bisa jalan-jalan, ternyata tidak."


"Sama, kita ada jadwal praktek. Kamu sendiri gimana, Nay?"


"Aku mau jalan-jalan sama Ecan."


Mereka sarapan dengan terburu-buru. Malam tahun baru masih tiga hari lagi, tapi sebagian dari mereka sudah ada jadwal praktek.


"Kamu mau langsung ke rumah sakit, Nay? Atau ke klinik?"


"Aku mau ketemuan sama Mico dulu."


"Awas kepergok Arby, nanti dia bisa bersikap seperti suami yang diselingkuhi oleh istrinya." Yang lain tertawa, kecuali Freya yang manyun.


"Itu apaan, Nay?" Monic bertanya tentang map coklat yang ada lambang rumah sakitnya.


"Oh, data yang mau aku kirim."


"Aku duluan," Naya langsung keluar dari apartemennya untuk bertemu dengan Mico.


Malam harinya


"Kamu kenapa sih, Mic? Dari tadi menghela nafas terus?" Mico diam saja, tapi pandangan matanya tertuju pada Arby.


"Mic, kamu enggak apa?" Ikmal kembali bertanya.


"Ya."


Pria itu lalu tidur-tiduran di sofa.


"Pulang sana, di sini bukan tempat kamu," ucap Arby, karena memang ini apartemennya.


"Ya sudah, aku ke tempat Freya saja."

__ADS_1


"Jangan! Kamu di sini saja. Tidur di sini juga boleh."


Mico tersenyum puas. Memang mudah bagi Mico untuk membuat Arby kesal. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena si bebeb Freya. Cukup sebut nama Freya, maka Arby akan kelimpungan.


"Marva enggak ke sini?"


"Ya kan dia juga punya istri."


"Vio?"


"Memang istrinya siapa lagi?"


"Tangguh juga ya itu, Vio."


Arby diam saja, sejak tadi dia terus memandang foto-foto Freya yang tidak ada kata bosan.


Tiga hari kemudian


"Ecan Sayang, maafkan mommy, ya. Mommy todak bisa jalan-jalan sama kamu. Tadi ada telpon dari klinik, katanya ada keracunan masal di sana. Jadi mommy harus ke sana sekarang."


"Iya, mommy usahakan ya."


"Kamu mau pergi sekarang, Nay?"


"Iya."


"Biar aku antar," ucap Arby.


"Aku sendiri saja. Kamu ajak Chiro jalan-jalan saja."


"Ya sudah, deh."


"Besok kita jadi jalan, kan?" tanya Monic.

__ADS_1


"Jadi, dong. Masa enggak," jawab Zilda.


"Kalian jangan menunggu aku, ya. Aku tidak kembali ke apartemen, kalian langsung susul aku saja ke rumah sakit besok. Jangan lupa makan yang teratur dan istirahat yang cukup. Nanti aku kasih cuti yang panjang untuk kalian di klinik. Hm, apa lagi, ya. Jangan sedih-sedih, always happy, oke!"


Freya lalu memeluk Monic lebih dulu, memeluknya dengan lama dan erat. Lalu memeluk Zilda, Letta dan kemudian Rei. Juga mencium pipi mereka.


"Mommy pergi ya Ecan. Jadi anak soleh. Ecan harus ingat kalau mommy sangat sayang pada Ecan. Nurut apa kata daddy, ya."


Cup


Freya memeluk dan mencium Chiro.


Cup


Lalu, yang tidak disangka-sangka, Freya memeluk dan mencium Arby, membuat pria itu kaget, tapi juga senang, tapi bingung.


"Jaga Ecan untuk aku, ya. Jangan biarkan dia menangis terlalu lama."


Senyum di wajah Arby langsung hilang.


Freya bukan hanya memeluknya, tapi juga memeluk Ikmal, Mico, Marcell, Vian dan Marva. Memeluk, tapi tidak mengecup pipi.


"Aku pergi duluan ya, jangan rindukan aku, loh."


Pintu apartemen tertutup diiringi senyuman Freya.


Hening


Hening


Hening


"Mommy, Ecan mau ikut sama mommy saja. Ecan mau ikut mommy, Daddy." Isak Chiro itu menyadarkan mereka.

__ADS_1


Arby, Ikmal dan Monic saling berebutan ke luar, disusul oleh yang lain yang masih bingung kenapa mereka harus berlari ke luar.


__ADS_2