
Rei menghela nafas, belum apa-apa dia sudah mendapatkan perlakuan seperti ini. Dia melihat ke sekelilingnya, untung saja sepi, kalau tidak, pasti dirinya sudah dicap sebagai pelakor.
Rei memasuki taksi yang sudah dia pesan.
Rei melihat penampilannya dari bayangan kaca taksi. Dia bukan lagi Rei yang dulu. Dia sudah punya cukup uang sekarang, meski memang tidak sekaya keluarga Arthuro, tapi dia jelas bukan lagi Rei si gadis miskin penjual kue.
Dia punya pendidikan yang bagus, pekerjaan yang baik, uang yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Apa lagi yang kurang?
Dia yakin suatu saat nanti akan mendapatkan pasangan yang bisa menerima masa lalunya. Yang tidak ilfil dengan dirinya karena telah menjual diri demi kesembuhan neneknya.
Dia ingin, bukan hanya calon suaminya saja yang akan menerima dia dengan tulus, tapi juga keluarga suaminya. Ada hal yang bisa Rei ambil hikmahnya, bahwa dirinya bukan lah perempuan mandul, jadi tidak perlu khawatir soal keturunan.
Seperti Marva dam Viola.
Bukan berarti dia mengatakan Viola itu mandul, hanya saja mungkin mereka belum diberikan rejeki untuk memiliki anak bersama, sehingga dia lah yang harus menjadi pengganti.
Ngomong-ngomong soal anak, bagaimana kalau nanti Viola punya anak sendiri? Apakah doa akan tetap menyayangi si kembar? Apakah Marva akan tetap peduli dengan Radhi dan Raine, saat istri sahnya sendiri akhir ya bisa memberikan keturunan yang sebenarnya?
Hati Rei menjadi gelisah. Bagaimana nanti nasib anak-anaknya? Apa akan dibuang seperti dirinya?
Rei berdoa, semoga kebahagiaan selalu menyertai anak-anaknya. Dia tidak. peduli dengan dirinya, selama anaknya bahagia, maka dia juga akan bahagia
__ADS_1
Jangan mencemaskan sesuatu yang belum terjadi Rei, dan belum tentu akan terjadi.
Malam harinya, para wanita itu berbagi pengalaman mereka hari ini.
"Aku diteror."
"Aku juga."
"Aku biasa saja."
"Aku lah yang meneror mereka. Coba kalau kalian lihat bagaimana wajah Arby, Ikmal, Marcell, Vian dan Marva. Oh, sama asistennya si Arby itu." (Baca: Jarak)
Naya tertawa saat mengingat kejadian tadi siang.
"Hampir bersamaan, Marva dan Viola. Kenapa kamu bisa tahu?"
"Tahu lah, istrinya pasti kalut melihat kamu malam itu. Maaf ya Rei, tapi tentu saja bagi istrinya, kamu itu pelakor."
Monic, Metta, dan Zilda mau tertawa, tapi takut Rei salah paham.
"Kalian kalau mau ketawa, ya ketawa saja. Aku tidak masalah, karena kalian tahu cerita yang sebenarnya, bagiku itu sudah cukup."
"Tenang saja, kami akan terus mendukung kamu."
__ADS_1
"Kalau seperti ini, aku takut untuk menikah," ucap Monic, yang dikatakan dengan sungguh-sungguh.
Naya menghela nafas, dia juga tahu apa yang Monic rasakan. Dia merangkul sahabatnya itu, mencoba menenangkan.
"Setiap orang pasti punya masalah, kalau tidak, berarti mati, dong." Monic tertawa, benar apa yang dikatakan oleh Naya.
Orang hidup pasti punya masalah, entah besar atau kecil. Yang penting bagaimana menyikapinya saja. Namun melihat teman-temannya yang seperti ini, tentu saja dia punya rasa khawatir sendiri.
Naya tahu, selain empat sekawan biang rusuh itu (Arby, Ikmal, Vian dan Marcell), tidak pernah ada pria yang dekat dengan Monic. Jodoh seperti apa yang akan Monic dapatkan nanti?
.
.
.
Yang mau bacaan ringan, kalian bisa baca
**Pernikahan Dini 2
Ada di bagian Akibat Pernikahan Dini. Jadi setelah Akibat Pernikahan Dini, aku bikin cerita baru di sana, judulnya Pernikahan Dini 2.
Kasihan tuh, Deo dan Yuri juga butuh perhatian kalian, wkwkwkk. Ceritanya ringan, enggak menguras emosi, jadi bikin santai. Mampir ya, tqyuuuuu**.
__ADS_1