
Marva mulai belajar memasak. Di sini, dia sudah menyewa rumah kecil untuk dia tempati bersama Radhi dan Raine. Selama di sana, dia tidak pernah menyalakan ponselnya, juga melarang si kembar menghubungi siapa pun, termasuk Chiro.
Dia mulai belajar masak dari yang kecil-kecil dulu. Dia benar-benar ingin menikmati waktunya bersama si kembar, tanpa ada tekanan dari siapa pun.
Sesekali dia akan menghela nafas, saat teringat dengan Rei, kisah cinta yang tidak berjalan mulus. Bagaimana bisa dia melupakan Rei, kalau ada anak-anak di antara mereka.
Haruskah Marva menyesali takdirnya yang seperti ini?
Tidak!
Kalau dia menyesali jalan hidupnya, berarti dia menyesali kehadiran si kembar.
Aku akan mengikuti alur hidupku saja. Baiklah, aku tidak akan terpuruk seperti ini. Aku akan tetap menjalani hidupku dengan baik.
"Ayo anak-anak ayah yang cantik dan ganteng, sekarang kita makan dulu."
Mereka menikmati makanan buatan Marva.
"Bagaimana?"
"Ini enak."
"Apa ayah akan membuatkan kami makan setiap hari seperti uncle Arby yang membuatkan makanan untuk Chiro?"
"Ya, ayah akan membuatkan makanan setiap hari untuk kalian."
Si kembar tersenyum, lalu memeluk ayah mereka bersama-sama.
"Radhi, Raine, ada yang mau ayah sampaikan pada kalian."
"Apa, Ayah?"
__ADS_1
"Apa kalian keberatan kalau kita tinggal bertiga saja. Mungkin nanti ayah tidak lagi bekerja di perusahaan milik eyang. Tapi ayah akan bekerja di tempat lain, dan mengumpulkan banyak uang agar kalian tetap bisa makan enak, sekolah di tempat yang bagus, dan beli mainan juga baju-baju baru."
Si kembar diam, lalu saling menatap.
"Kami akan selalu bersama Ayah."
"Tidak perlu membelikan kami banyak mainan, juga baju baru."
"Iya, Ayah. Kami tidak akan marah pada Ayah."
Marva membalas pelukan anak-anaknya. Dia beruntung memiliki anak-anak yang pengertian seperti Radhi dan Raine.
"Kalian tidak masalah kan, kalau kita hanya akan tinggal bertiga saja?"
"Bertiga saja?"
"Iya. Tanpa mama Vio, bunda, eyang, kakek dan nenek."
Mereka melihat wajah Marva yang terlibat sedih. Mereka belum pernah melihat ayahnya yang seperti ini.
Membesarkan anak seorang diri, bahkan sejak bayi.
Baiklah, aku akan kuat untuk anak-anak aku. Aku tidak mau mereka mengalami nasib yang sama seperti aku.
"Ayah sayang pada kalian. Jadilah anak yang baik, dan selalu berbahagia."
Doa yang diucapkan Marva dengan sungguh-sungguh. Anak-anak adalah masa depannya. Dan dia akan membesarkan mereka dengan tangannya sendiri.
🌺🌺🌺
Rei terus berusaha menghubungi Marva. Dia ingin tahu di mana keberadaan anak-anaknya.
__ADS_1
Kamu boleh marah dan benci padaku, tapi jangan memisahkan aku dan anak-anak lagi. Jangan menggunakan mereka untuk menyakitiku, Marva.
"Kamu baik-baik saja, Rei?" tanya Monic.
"Enggak," jawabnya jujur.
"Enggak ada Freya, enggak enak, ya!"
"Kamu yakin, tidak mau kembali pada Marva?"
Monic, Zilda, dan Letta melihat Rei.
"Ya."
"Tapi kalau jodoh, kamu tetap akan bersama dia. Mau itu nanti atau sekarang, kalian tetap akan bersama," ucap Monic.
"Tahu dari mana, Nic?"
"Bukan tahu dari mana, tapi melihat pengalaman orang-orang di sekitarku."
"Iya juga, sih."
"Sudah Rei, ambil santai saja. Mungkin memang jalan hidupmu jadi pelakor."
"Zilda!" seru Monic dan Letta.
"Hehehe, maaf. Bukannya aku mau menyindir, tapi mungkin memang itu jalan hidup Rei, mendapatkan jodoh dengan cara seperti ini. Lagian kan, kamu bukannya sengaja menggoda Marva, tapi memang dia sendiri yang terus-menerus datang. Lagian ini yang dinamakan siapa yang menanam, dia yang menuai. Ini akibat ulah kakek Frans sendiri. Kan karena dia kamu jadi masuk ke dalam kehidupan mereka."
.
.
__ADS_1
.
Hari Senin, makasih yang sudah kasih vote dan berbagai dukungan, ya😊