
Vio di suatu tempat hanya menyibukkan dirinya, berusaha menyingkirkan rasa sakit yang ada di hatinya. Dia sibuk bekerja, bahkan bisa sampai lupa makan dan minum. Pekerjaannya memang sangat banyak, dia sendiri tidak tahu kapan akan selesai. Dilihatnya jam di pergelangan tangannya, sudah jam dua belas malam. Dia menguap beberapa kali, meskipun begitu, dia tetap melanjutkan pekerjaannya.
Apa dia sedang menyiksa diri?
Menyibukkan diri memang bisa mengalihkan hati dan pikiran kita dari rasa sakit. Tapi tidak seperti itu juga kan. Dia akan tidur menjelang subuh, dan bangun sedikit setelah subuh. Begitu terus setiap hari selama beberapa hari ini.
Vio akan menghubungi Radhi dan Raine, sekedar kebanyakan keadaan mereka. Sungguh, dia menyayangi anak-anak itu meski tidak terlahir dari rahimnya.
Vio cantik!
Jika ditanya siapa yang lebih cantik, Vio atau Rei? Tentu saja jawabannya sesuai tipe selera masing-masing orang, dan ujung-ujungnya tergantung hati apakah cinta atau tidak.
Vio sendiri tidak tahu, kenapa hatinya bisa begitu mencintai seorang pria yang statusnya masih suaminya, meski sudah di ujung tanduk.
Seharusnya Vio membenci Marva. Tapi tidak, dia masih mencintai pria itu dengan sangat dalam.
Apa dirinya kurang mengalah selama ini?
Dia menerima pernikahan Marva dengan Rei, meski hatinya sangat sakit.
Dia ikhlas membesarkan Radhi dan Raine, meski bayang-bayang perempuan itu selalu ada dalam wajah Radhi.
Apa dia kembali harus mengalah dan berkorban sekali lagi?
__ADS_1
Dan untuk yang terakhir kalinya?
Surat dari Freya selalu dia bawa ke mana pun dia pergi. Seolah hanya surat itu saja penguat dirinya selain doa dan ibadah.
Setiap orang pasti akan merasakan kesakitan.
Tapi kenapa harus kesakitan seperti ini dan kenapa harus dia yang merasakannya?
Kenapa bukan orang lain saja?
Apa dia harus berdoa agar bertukar peran dengan Rei?
Putus cinta saat berpacaran dengan putus cinta setelah menikah, tentu saja rasanya berbeda.
Dia akan menyandang gelar janda, yang mungkin sebagian orang akan mencibir gelar itu.
Janda yang didapatkan karena suaminya lebih memilih perempuan lain, yang masih muda meski umur mereka memang tidak terpaut terlalu jauh.
Dunia seolah memusuhinya saat ini, tidak ada yang mendukungnya. Saudara-saudara Marva juga tidak ada yang membelanya, mungkin.
Itu karena dia tidak punya anak.
Memiliki anak atau tidak, tentu saja bukan kuasanya.
__ADS_1
Kenapa dia yang disalahkan?
Bagaimana jika mereka atau orang yang sangat mereka cintai sepenuh hati tidak bisa memiliki anak? Apakah mereka akan menyalahkan diri sendiri dan pasangan mereka?
Beranikah mereka menyalahkan Sang Pencipta?
Seandainya Marva yang tidak memiliki anak, apakah dia harus meninggalkan Marva? Haruskah dia dan orang-orang menyalahkan dan mencibir Marva?
Bahkan mereka yang sudah menikah belasan hingga puluhan tahun, baru bisa memiliki anak. Ada juga yang tidak bisa memiliki anak tapi tetap bersama dan bahagia.
Betapa beruntungnya pasangan dan keluarga yang berhati besar itu.
Semoga Tuhan membalas dan memberikan kebaikan untuk ketulusan dan keikhlasan mereka dalam menerima segala kekurangan pasangan dan anak menantu mereka tanpa ada niat untuk menyakiti dan membuangnya.
Vio tahu dan sadar, resiko dalam mencintai adalah patah hati.
Patahnya bukan sekali, tapi berkali-kali, berkeping-keping.
Tapi mereka masih saja menghancurkan hatinya, dan Vio tidak tahu kenapa dia masih bisa bertahan hingga saat ini meski telah terinjak berkali-kali.
Jawabannya hanya satu.
Mungkin dia bodoh, tapi dia mencinta Marva dengan tulus.
__ADS_1
Setulus-tulusnya ....