
Rei tidak ingin pulang sebelum anak-anaknya juga diijinkan pulang. Pikiran buruknya berkata kalau mereka hanya ingin mencari alasan untuk memisahkan dia dengan si kembar, selain itu dia juga ingin memberikan ASI sebanyak mungkin untuk anak-anaknya. Rei ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan kedua buah hatinya, seolah sebentar lagi ajal menjemputnya.
Rei diam-diam selalu memberikan ASI untuk anak-anaknya, memeluk, mencium, membisikkan kata-kata sayang juga berkata, "Ini bunda, Sayang. Apa pun yang terjadi, bunda akan selalu mengingat kalian dan mendoakan kalian."
🌺🌺🌺
Hari ini mereka sudah dibolehkan pulang. Rei menggendong Raine, sedangkan Marva menggendong Radhi. Mereka tiba di mansion. Frans, Carles, Delia, Viola menyambut kedatangan mereka, lebih tepatnya menyambut kedatangan si kembar. Tanpa basa-basi, Viola langsung mengambil Raine dari gendongan Rei, membuat Rei hanya bisa menahan diri. Frans dan kedua orang tua Marva juga sangat antusias dengan Radhi.
"Radhi, Raine, ayah sudah menyiapkan kamar untuk kalian," ucap Marva.
Mereka lalu ke lantai atas, kamar di sebelah kamar Rei. Rei melihat kamar yang didesign warna biru dan pink, dengan mainan anak perempuan dan laki-laki. Kamar itu sangat mewah, apalagi untuk ukuran anak bayi.
Isi kamar ini sudah sangat lengkap, membuat Rei menghela nafas, entah apa yang ada dalam pikiran perempuan itu.
"Sayangnya mama, cantik banget sih, kamu?"
Deg
__ADS_1
Lagi-lagi hati Rei tidak karuan, mendengar Viola yang menyebut dirinya mama pada anak-anaknya. Marva pun diam saja, seolah ingin menunjukkan secara tidak langsung bahwa Viola lah ibu anak-anaknya.
Rei perlahan mundur, meninggalkan keluarga itu yang sedang bersuka cita atas kehadiran si kembar.
Setibanya di kamarnya, Rei menghela nafas berkali-kali. Dipandanginya kamar ini, yang membuatnya sesak.
Mereka makan malam dengan tenang, namun pikiran mereka semua sibuk berpikir tentang hal yang sama. Diam-diam mereka juga saling lirik. Sungguh aneh apa yang terjadi di keluarga Arthuro saat ini.
Tiba-tiba saja Rei teringat saat dia dan neneknya diusir dari rumah kontrakan karena menunggak terlaku banyak. Apa sekarang dia akan merasakan pengusiran lagi? Dulu, ada Freya yang datang bagai pahlawan yang menyelamatkannya. Bila dia diusir dari sini, dia rasa tidak akan ada orang lain yang seperti Freya.
🌺🌺🌺
"Apa semuanya akan baik-baik saja, Ayah?"
"Ya, tentu saja. Ayah sudah mengatur semuanya."
Rei memejamkan matanya, lalu perlahan berjalan ke kamar anak-anaknya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Rei memandang wajah anak-anaknya. Sudah tiga hari mereka pulang ke rumah ini, dan selama itu, dia tahu bagaimana mereka bersikap kepada anak-anaknya. Dia memandang wajah anak perempuannya, lalu di peluknya tubuh kecil itu.
Rei tahu, mereka lebih menyayangi Radhi, mungkin karena Radhi laki-laki yang nantinya akan meneruskan perusahaan milik Marva. Marva juga begitu, selalu tersenyum bahagia dan lebih sering menggendong Radhi dari pada Raine. Untuk Viola sendiri, dia memang tidak terlalu antusias dengan Radhi, dia lebih menyukai Raine, mungkin karena Raine lebih anteng daripada Radhi, jadi baginya tidak akan merepotkan saat menkadi ibunya nanti.
Apa aku harus pergi membawa Raine? Aku takut mereka akan bersikap tidak adil.
Sepanjang malam Rei ada di kamar anaknya tanpa tidur sedikit pun. Sejak dia kembali ke rumah ini, Marva selalu ada di kamar Viola, jadi dia bebas berada di kamar anaknya.
Pagi menjelang, Rei tidak turun untuk sarapan. Saat rumah sudah sepi karena para oenghuninya sibuk dengan aktifitas masing-masing, Rei mulai mengepak barang-barangnya yang sedikit itu.
Lebih baik pergi dari rumah ini dengan terhormat, daripada mencoba bertahan lalu diusir.
Untung saja saat hamil dulu, dia sudah mulai mengemas barang-barangnya, jadi dia sekarang hanya perlu memasukkan sisanya.
Rei kembali masuk ke kamar kembar. Air matanya mulai menetes. Dia ingin membawa Raine. Tapi dia sadar diri, kalau dirinya tak memiliki apa-apa untuk membahagiakan anaknya. Anaknya butuh susu, tempat tinggal yang layak, pakaian, mainan, dan lainnya. Dia bisa saja bekerja untuk memenuhi kebutuhan anaknya, tapi saat dia bekerja, siapa yang akan menjaga putrinya? Menyewa jasa orang membutuhkan biaya, dia juga harus bayar kontrakan. Dia jadi teringat saat merawat neneknya. Dia saja tidak becus menjaga neneknya yang sudah tua, lalu bagaimana menjaga bayi yang belum bisa apa-apa? Dulu dia harus menjual diri untuk pengobatan neneknya, lalu jika terjadi sesuatu yang buruk dengan anaknya, apa yang harus dia jual? Organ tubuhnya?
Sungguh, Rei benar-benar dilema saat ini. Dia memandang isi kamar ini. Kamar bayi dengan fasilitas lengkap dan mewah. Baju-baju dengan bahan yang sangat lembut. Rei tidak tahu, entah mana yang egois ... meninggalkan kedua anaknya atau salah satu dari mereka dan hidup susah bersama, atau meninggalkan keduanya dengan jaminan hidup yang layak dan tidak akan kekurangan apa pun?
__ADS_1