
Hai apa kabar? Masih disimpan di rak buku, kah?
Maaf sudah lama enggak up. HP aku rusak, dan ini pinjam HP orang, wkwkwkkk.
Tetap dukung aku ya, dan doakan aku bisa rajin up.
Happy Reading
🍁🍁🍁
Setiap hari, REI akan mendapatkan kiriman foto atau video dari si kembar. Hal itu tentu saja membuatnya semangat dalam belajar. apalagi sekarang dia dikelilingi oleh teman-teman yang baik. Tidak hentinya dia mengucapkan syukur.
Dia tidak pernah menyangka, kalau Freya dan sahabat-sahabatnya sebaik itu, padahal dulu mereka itu sering dianggap sombong oleh murid-murid di sekolahnya.
Dia juga tidak pernah menyangka, kalau Freya ternyata istri dari Arby.
Di lain tempat
Marca sedang bermain dengan anak kembarnya. Dia jadi teringat kata-kata Arby, yang mengatakan kalau wajah Radhi tidak mirip dia, tapi mirip dengan mamanya yang diragukan siapa.
Orang-orang tentu saja tidak dapat dibohongi, kalau Radhi memang tidak mirip dengannya, juga tidak mirip dengan Vio. Melihat Radhi, akan membuat dia selalu teringat dengan Rei.
Di mana perempuan itu sekarang?
Apa dia sedang kuliah?
Mengingat tidak ada satu pun pemberiannya dan kakeknya yang dia bawa, tentu saja Rei harus bekerja keras untuk membiayai kuliah dan hidupnya.
"Kenapa kamu pergi begitu saja? Kita bahkan belum bicara apa pun."
__ADS_1
"Radhi, Raine, ayo mandi!"
Vio menggendong Raine, sedangkan Radhi digendong oleh baby sitter. Terdengar tangisan saat Vio menggendong Radhi.
"Biar aku saja yang memandikan mereka."
Meski mengalami kesulitan, tapi Marva tidak menyerah. Sesekali dia menghela nafas, dia seperti pria duda yang harus membesarkan kedua anaknya sendiri.
"Mar, ponsel kamu berbunyi."
"Iya, tunggu sebentar."
Vio tersenyum, sejak kehadiran bayi-bayi ini, Marva lebih banyak bicara, dan suasana rumah juga lebih nyaman.
Kakeknya Marva lebih ramah, dan tidak lagi banyak mengeluh. Kedua anak itu sangat dimanjakan di rumah ini.
Marva mengelap tubuh anaknya dengan handuk yang sangat lembut, lalu diambilnya ponsel yang terus berdering.
"Lama banget angkatnya!"
"Aku lagi memandikan anak-anak aku."
"Kamu seperti duda!"
"Yang duda itu kamu, bukan aku."
"Sialan! Sebentar lagi juga kamu jadi duda, kamu kan selingkuh, sampai punya dua anak sekaligus!"
"Sialan!"
__ADS_1
Marva terus saja adu mulut dengan Arby yang sekarang tidak mau dipanggil Arby lagi itu.
"Terus kamu mau apa telepon aku?"
"Aku mau ke Jepang. Tinggal di sana."
Marva terdiam, dia tahu bagaimana perasaan Arby.
"Ya sudah, bagaimana baiknya kamu. Aku akan selalu mendukung kamu. Nanti aku akan main ke sana bersama si kembar."
"Ikmal, Marcell dan Vian juga ikut tinggal di sana. Kamu tidak mau ikut?"
"Enggak untuk saat ini. Masih urus perusahaan."
"Bagus deh, aku juga cuma basa-basi!"
"Sia ...."
Belum sempat Marva menyelesaikan perkataannya, Arby langsung mematikan ponselnya.
Marva memandang Radhi dan Raine yang kini sudah memakai baju mereka. Pria itu menghela nafas, seperti ada beban berat di hatinya, tapi apa?
Dia seperti sudah menghamili seorang gadis dan kabur begitu saja tanpa mau bertanggung jawab.
Raine sedang memegang boneka kecil, sedangkan sebelah tangannya dimasukkan ke dalam mulut.
Radhi sedang dipangku oleh Marva, dan tangan mungilnya itu menarik-narik kerah baju Marva dan sesekali meremas dagu Marva meski tidak sakit.
"Kamu mirip banget sama bunda kamu," bisik Marva. Dia mengecup wajah Radhi, dan terus memandang wajah mungil itu, seolah sedang memandang Rei.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu, kalau sejak tadi bik Tuti terus merekam kegiatan mereka secara diam-diam, dan mengirimkannya kepada Rei.