Mother

Mother
131 Bikin Baper


__ADS_3

"Bukan aku, Rei. Bukan aku yang menyebarkan gosip itu."


"Aku percaya padamu, seperti kamu yang selalu percaya padaku. Kalau kamu bilang bukan kamu, berarti bukan kamu."


"Iya, kami juga percaya kalau bukan kamu."


"Tapi kira-kira siapa yang menyebarkan berita itu, ya?" tanya Vian.


"Ada dua kemungkinan. Pertama, dia adalah musuh keluarga kalian, yang ingin merusak reputasi. Yang kedua, dia ingin membantu Rei, dengan menyebarkan berita itu," ucap Freya.


"Kenapa begitu?" tanya Zilda.


"Itu kan membuat Rei jadi malu," sambung Letta. Tapi Arby lah yang menjawabnya.


"Dengan menyebarnya berita ini, Orang-orang akan tahu kalau Rei adalah ibu kandung di kembar. Dia tidak lagi akan dituduh yang tidak-tidak jika nanti bertemu dengan Marva atau anak-anaknya."


"Yang Arby katakan memang benar. Memang ada sisi negatifnya, tapi coba lihat sisi positifnya. Rei tidak lagi harus membuktikan apa-apa, apalagi menunjukkan tes DNA karena itu akan sulit nantinya. Dengan berita ini, orang-orang akan tahu sendiri kebenarannya. Semua bukti yang ditunjukkan sangat rinci, mulai dari awal hingga saat ini."


"Benar juga, ya."


"Kira-kira, selain kita, siapa lagi yang mau membantu Rei?"


"Rei, apa kamu punya penggemar rahasia?"

__ADS_1


"Tidak ada, dan mana mungkin aku punya penggemar rahasia."


Bel apartemen Freya berbunyi, Rei membuka pintu.


"Hai, aku datang membawa pesanan Naya."


"Masuk, Gam." Dokter Agam masuk dan membawa beberapa berkas dari klinik.


Dia duduk di salah satu sofa, dan ruangan itu terlihat penuh meski tanpa kehadiran Marva dan anak-anaknya.


"Dokter Agam enggak kepo?" tanya Zilda yang penasaran.


"Kepo kenapa?"


Letta menyikut Zilda yang ember itu.


"Oh, aku sudah tahu."


"Apa?"


"Aku sudah tahu kalau si kembar itu anak-anaknya Rei."


"Apa? Tahu dari mana? Siapa yang bilang?"

__ADS_1


"Tidak ada. Saat melihat si kembar, apalagi Radhi, aku langsung tahu kalau dia anak Rei. Kalau keponakan tidak mungkin, karena Rei itu sebatang kara, dan tuan Marva adalah ayah kandung mereka, karena wajahnya mirip dengan Raine."


"Wah, dokter hebat."


"Tidak perlu orang hebat untuk tahu kebenaran itu. Wajah tidak bisa menipu. Cepat atau lambat, Radhi dan Raine juga akan tahu. Mereka akan beranjak dewasa, ya kali mau dikekepin terus di rumah," ucap Freya.


"Dokter enggak ilfil, kan, sama Rei?" tanya Monic.


"Kenapa harus ilfil. Setiap orang punya masa lalu. Baik atau buruk. Yang paling penting adalah masa depan."


Agam menghela nafas, kalau dulu dia tahu apa yang dialami oleh Rei, mungkin dia bisa membantu walau tidak banyak.


"Jangan pikirkan perkataan orang-orang, kalau mereka ada di posisi kamu, mungkin juga akan melakukan hal yang sama untuk menolong kakek kamu. Apalagi kamu kan juga tidak menjual diri kamu tanpa status pernikahan." Agam mengusap rambut Rei dengan lembut.


Para perempuan melihat itu sambil senyum-senyum. Sedangkan para pria saling lirik.


Marva punya saingan berat! batin mereka kompak.


Untung saja bukan Nania yang diperlakukan lembut seperti itu, bisa baper habis dia! batin Marcell.


Lain lagi Arby dan Freya yang terlihat biasa-biasa saja.


"Ya ampun, baper banget aku. Lembut banget dokter Agam. Aku juga mau diusap."

__ADS_1


Marcell langsung mendengkus mendengar perkataan Nania.


__ADS_2