Mother

Mother
145 Kenapa Aku, Bukan Dia.


__ADS_3

Dua pasang mata itu saling menatap.


"Ayo kita menikah lagi. Aku akan menikahi kamu secara sah, baik agama dan hukum."


Deg


Rei menatap Marva.


Pantas saja Vio merasa ketakutan. Dia mengajak aku menikah tanpa basa-basi.


"Menikah itu tidak seperti kamu mengajak piknik. Banyak yang harus dipikirkan. Kesiapan lahir batin, saling mengenal, saling memahami dan mendukung, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing."


"Dulu kita juga langsung menikah, tanpa diberi kesempatan untuk saling memahami."

__ADS_1


"Dulu dan sekarang berbeda."


"Tentu saja berbeda. Dulu kita belum memiliki anak, sekarang sudah."


"Maaf, aku tidak bisa menikah dengan kamu."


"Jangan terburu-buru mengambil keputusan Rei. Tidak bisakah kamu memikirkannya dengan hati tenang dan pikiran jernih?"


"Seharusnya dulu kamu tidak pergi begitu saja. Kenapa kamu tidak menunggu aku pulang? Bukankah saat di rumah sakit duku, aku sudah mengatakan padamu ada hal yang ingin aku katakan? Aku belum mengatakan apa-apa tapi kamu sudah langsung pergi begitu saja, meninggalkan aku dan anak-anak kita."


"Tapi kenapa tidak menunggu aku pulang dan mendengarkan perkataan aku?"


Rei diam, mengingat lagi masa-masa yang membuat hatinya teriris harus memilih jalan itu.

__ADS_1


"Saat itu, aku ingin melamar kamu. Menjadikan kamu istri yang sesungguhnya. Kita akan membesarkan anak-anak kita bersama, memberikan kasih sayang yang sebesar-besarnya pada mereka."


Rei menatap mata Marva, melihat kesungguhan di mata pria tampan itu.


"Ayo kita kembali bersama, kita besarkan Radhi dan Raine berdua."


"Aku ... tidak bisa. Kita tetap bisa memberikan kasih sayang kepada mereka meski tidak bersama."


"Jangan egois, Rei. Apa kamu tidak kasihan dengan mereka?"


Rei menatap tajam Marva.


"Kalau aku egois, aku akan kabur membawa mereka berdua. Tapi aku sadar diri kalau aku belum bisa memberikan mereka kebahagiaan. Jangankan mengurus dua bayi yang punya banyak kebutuhan, mengurus nenekku saja aku gagal. Mereka butuh susu, popok, baju, dan sebagainya. Aku ingin egois, tapi aku tidak sanggup membawa mereka dalam penderitaan. Atau bisa saja aku membawa salah satu dari mereka, lalu ... lalu saat mereka dewasa dan bertemu, yang satu akan bertanya, 'Kenapa bukan aku yang bunda bawa? Apa bunda tidak sayang padaku? Kenapa hanya dia yang bunda bawa? Kenapa bukan dia saja yang bunda tinggal?' Lalu yang satu lagi juga akan bertanya, 'Kenapa aku yang bunda bawa? Aku juga mau hidup enak sepertinya. Kenapa bunda membawaku dalam penderitaan? Apa bunda tidak sayang padaku dan lebih menyayanginya? Kenapa bunda memisahkan aku dengan ayah?' Lalu aku harus menjawab apa?"

__ADS_1


Marva terhenyak.


"Kalau aku egois dan tidak memikirkan mereka, sudah sejak awal aku membawa mereka, tanpa peduli apakah nantinya mereka bisa hidup dengan layak atau tidak. Aku lebih memilih dianggap sebagai ibu kejam yang meninggalkan anak-anaknya, asal mereka bisa mendapatkan yang terbaik. Aku tidak peduli dengan kontrak itu. Bisa saja aku kabur dengan membawa semua yang kalian berikan untuk menjamin kelangsungan hidupku. Apa kamu pikir selama beberapa tahun ini aku makan dengan enak dan tidur dengan nyenyak? Tapi Tuhan sangat baik kepada ibu yang egois ini. Tuhan mempertemukan kembali aku dan Freya di tengah kesulitan yang aku hadapi. Tanpa banyak bertanya, dia selalu membantuku. Mereka yang selalu menyemangati aku saat aku terpuruk."


__ADS_2