Mother

Mother
155 Rasanya Kehilangan


__ADS_3

"Mama, dengan keikhlasan hati mama, tolong restui aku sama Rei." Marva bersimpuh di kaki mamanya.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan, Marva?"


"Aku sangat sadar, Ma. Tolong restui kami."


"Kamu tahu sendiri kan, keinginan kamu itu akan menyebabkan kekacauan di keluarga kita?"


"Aku tahu. Karena itulah aku meminta restu mama, hanya restu mama yang aku inginkan, selanjutnya biar aku yang mengurus dan menanggungnya sendiri."


"Tapi Marva ...."


"Ma, aku tidak pernah meminta apa-apa pada mama. Tapi untuk sekali ini saja, tolong aku."


Delia terdiam.


Marva memang tidak pernah meminta apa-apa padanya. Anaknya itu selalu menuruti apa yang keluarganya mau.


Dipandangnya wajah anaknya.


"Ma, aku ingin membesarkan dan memberikan kasih sayang yang utuh kepada anak-anak aku dan Rei."


"Tapi kamu dan Rei bisa memberikan kasih sayang kamu pada anak-anak meski kalian tidak lagi bersama."

__ADS_1


"Tapi itu berbeda, Ma. Tidak kah mama memiliki kasih sayang pada Rei yang sudah memberikan mama cucu-cucu? Rei juga sudah banyak berkorban untuk keluarga kita. Pengobatan neneknya gagal sebelum dimulai, impiannya untuk menjadi arsitek pun gagal. Dia pergi dari sini tanpa membawa apa-apa, bukankah itu sudah menunjukkan kalau dia perempuan yang baik? Dia tidak pernah mengusik keluarga kita. Ma, hati itu tidak bisa diduga. Siapa yang tahu kalau semuanya akan seperti ini? Kakek menghadirkan dia tanpa mempertimbangkan bagaimana hati aku."


Frans mendengar itu dari luar.


Benar, apa yang dikatakan Marva memang benar.


Semua itu di luar kuasanya.


Siapa yang menyangka Marva akan menyukai Rei?


"Ma, masih kurang kah aku berkorban selama ini?"


"Tidak, kamu sudah banyak berkorban."


"Nanti kita bicara lagi, Ma. Mama yang sehat, ya."


Marva hanya membutuhkan restu dari mamanya. Bagaimana pun juga, Marva sangat menyayangi dan menghormati mamanya itu.


Dia kembali ke kantornya, meninggalkan beberapa pasang mata yang melihatnya dari tempat yang berbeda.


Vio menghela nafas berat. Mencintai itu memang sakit.


Delia memandang sendu anaknya, bimbang dengan hati dan pikirannya sendiri.

__ADS_1


Carles melihat anaknya, dan melihat istrinya yang terlihat ingin menangis.


Frans pun sama. Memikirkan banyak hal tentang keluarga yang dia pimpin ini.


Dia lalu menghubungi sahabat lamanya, sekedar ingin mengobrol dan curhat, mungkin.


Dua jam kemudian


"Kamu membuat masalah sendiri, Frans."


"Mana aku tahu akan seperti ini jadinya."


"Ya kalau kamu tahu, maka jadinya tidak akan seperti ini." Pria tua yang seumuran dengan Frans itu tertawa.


"Kita ini sudah tua. Saatnya menikmati masa tua. Yang perlu kita dapatkan sekarang bukan lagi harta, atau ketenaran, tapi kebahagiaan anak-anak dan cucu-cucu kita."


Frans terdiam.


"Belajarlah dari pengalaman aku." Mata pria yang bernama Yujin itu memerah, mengingat masa lalu yang tidak bisa diperbaiki lagi, sampai kapan pun tidak akan bisa.


"Aku kehilangan anak, bahkan tidak tahu kapan dan di mana dia meninggal. Kamu tahu bagaimana sakitnya itu? Itu adalah penyesalan diriku yang paling mendalam."


Bibir Frans terasa kelu. Dia tentu saja sangat tahu apa yang menimpa sahabatnya lebih dari dua puluh tahun.

__ADS_1


"Jangan sampai kamu merasakan apa yang aku rasakan. Keluarga kamu sudah merasakan kehilangan, jangan sampai kalian kembali kehilangan untuk yang kedua kalinya. Perbaikilah selagi masih bisa diperbaiki."


__ADS_2