Mother

Mother
199 Jangan Pulang


__ADS_3

"Kenapa kamu ikut memarahi Nuna, Ar?"


"Biar mendramatisir, dan biar mereka segera bubar. Nanti kalau Chiro terbangun tidak ada aku, dia bisa sakit! Kenapa kamu yang baper? Cinta?"


"Enggak."


"Enggak, nanti malah mewek mulu tuh kaya yang di dalam."


Setelah memastikan semuanya aman, mereka kembali masuk, tanpa sadar ada yang mengawasi merea dari jarak tertentu.


Flashback off


Jadi seperti itulah, rencana brilian super licik dari Arby. Mereka kini hanya bisa berdoa, semoga enggak ketahuan.


Kalau ketahuan, tetap saja salah Marva. Aku mah polos dan enggak tahu apa-apa.


Keesokan harinya


Rei datang membesuk Marva, yang syukurnya sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Dia membuka pintu, dan dilihatnya di sana sudah ada Arby dan yang lain.


"Aku membawakan kalian makanan. Kamu di sini juga?"


"Iya, aku mau melihat bagaimana keadaan Marva. Jangan sampai adikku kembali menjadi janda karena pria yang sama," sindir Agam.


"Jangan bicara begitu, Gam."

__ADS_1


Rei lalu memberikan makanan itu pada mereka, lalu mengambil posisi untuk menyuapi Marva.


"Ayo Kak, makan dulu."


Betapa bahagianya hati Marva, karena Rei kembali memanggilnya kak. Rei dengan telaten menyuapi Marva.


"Cepatlah sembuh, kasihan anak-anak."


"Aku akan cepat sembuh, demi kalian."


Di belakang Rei, Arby dan yang lain memasang tampang ingin muntah.


Dasar, pembual ulung, batin mereka.


Aku belajar semua ini dari kamu, Arby, batin Marva seolah tahu apa yang mereka pikirkan.


"Sebenarnya, apa yang terjadi sehingga Marva bisa kecelakaan?"


"Kecelakaan tunggal, Marva menabrak pohon," jawab Arby.


Lebih tepatnya, Arby yang menyuruh Marva menabrak sebatang pohon besar tak bersalah. Karena belum meyakinkan, dia menyuruh anak buahnya untuk membuat penyok mobil itu, lalu mendandani Marva seperti orang yang telah mengalami kecelakaan fatal dengan makeup anti luntur.


"Buat wajahnya kelihatan bengkak!"


"Itu, bibirnya bikin kelihatan sobek!"

__ADS_1


"Apa kalian keroyok saja sekalian, biar lebih meyakinkan?" tanya Arby yang sejak tadi berceloteh.


Andaikan Arby menjadi sutradara dan produser film, dia pasti sudah memenangkan banyak piala penghargaan.


"Kenapa bisa seperti itu, Marva?"


Marva diam saja, semakin banyak dia bicara, semakin banyak dia berbohong.


Chiro mendekati Marva, dan meneliti lebam di wajah itu. Arby yang siap siaga, langsung menggendong Chiro. Chiro itu seperti Freya, anaknya sangat teliti dan cerdas, jadi harus berhati-hati.


Mereka melihat Rei yang telaten menyuapi Marva. Suasana kembali canggung setelah Rei selesai dengan tugasnya sebagai istri, merawat suaminya. Bagaimana pun juga, ini adalah pernikahan dadakan.


Delia menatap Rei, perempuan yang kembali menjadi menantunya. Kejadian tadi malam, membuat Delia sadar, bahwa kebahagiaan anaknya lah yang terpenting. Terserah orang mau bicara apa, mau menggunjing seperti apa.


Sedangkan Rei, sudah menyiapkan diri untuk kembali dihujat sebagai pelakor. Dekatnya dengan dokter Agam, tapi menikahnya dengan orang lain. Tidak ada yang tahu status hubungan mereka selama ini.


"Kapan aku boleh pulang?" tanya Marva sat dokter masuk.


"Tunggu sampai kamu benar-benar sembuh. Kamu masih harus menjalankan perawatan di rumah sakit. Apa kamu tidak ingat, kamu baru saja melewati masa kritis?"


"Aku bisa dirawat di rumah, Rei yang akan merawat ku. Ya kan, Rei?"


Sebelum Rei menjawab, Arby dulu yang bicara.


"Jangan begitu Marva, apa kamu tidak kasihan pada Rei? Di rumah sakit dan di rumah itu berbeda. Di sini banyak dokter dan perawat yang bisa membantu."

__ADS_1


Syukurin, biarin enggak ngerasain malam pertama.


Sialan kamu, Ar!


__ADS_2