Mother

Mother
221 Extra Part 3


__ADS_3

Sekarang usia kehamilan Rei sudah beranjak 7 bulan. Marva meminta Rei mengurangi sedikit pekerjaannya, dan Rei menuruti itu.


Rei merasakan hidupnya sudah sempurna, memiliki suami, hampir memiliki tiga orang anak, sahabat-sahabat, dan ternyata memiliki keluarga kandung yang masih hidup.


Ya, meskipun semua ini dia dapatkan dengan menyakiti hati perempuan lain.


Rei sering merasa bersalah pada Vio, tapi juga mengatakan dan meyakinkan dalam hati kalau ini sida takdirnya.


Apakah itu cara pelakor membela diri dan menenangkan diri sendiri?


Ya, mungkin ada pelakor yang dengan sengaja merusak rumah tangga orang, dan merasa bangga kalau dia sudah merebut suami dan ayah dari keluarga lain. Menikmati kekayaan yang seharusnya menjadi hak orang lain.


Karma pasti ada. Tidak di dunia, tapi mungkin di akhirat. Rei dalam hati terus berdoa, meminta ampun atas segala kesalahannya.


Apakah mereka (para pelakor lain) juga memiliki hati kecil seperti aku yang memiliki rasa bersalah? Atau mereka tetap tidak peduli dengan perasaan orang lain? Tetap menjalani kehidupan mereka tanpa takut balasan akan menimpa. Andai aku juga bisa seperti itu. Menikah kembali dengan Marva memang keputusan aku, tapi tetap saja, aku merasa bersalah. Apa pun keputusan yang aku ambil saat itu, tetap saja akan menyakiti hati orang lain.


Aku sadar, kalau sejak saat itu hidupku tidak akan tenang. Aku hanya bisa meminta maaf padamu, Vio.

__ADS_1


Mungkin karena hormon kehamilannya, Rei jadi sangat sensitif. Dia terus berusaha mensugesti dirinya kalau semua ini bukan salahnya.


Terkadang pikiran negatif nya itu membuat perutnya keram dan sedikit kontraksi. Orang lain gampang mengatakan agar tidak setres, terutama keluarga Marva. Tapi prakteknya yang susah.


Dia selalu memiliki anak dengan cara merebut suami milik perempuan lain?


Ya, mungkin sudah takdir aku seperti ini.


Rei melihat tumpukan barang kebutuhan bayi yang diberikan oleh sahabat-sahabatnya. Hanya mereka saja yang tidak menggunjingnya sebagai pelakor, sedangkan yang lain berbisik di belakangnya, bahkan mungkin menyumpah serapahi dirinya.


Mereka diam, mendengar perkataan Zilda yang apa adanya.


"Aku tahu loh, rasanya diselingkuhi itu seperti apa," ucap Zilda lagi.


Rei memandang mereka. Benar, kalau bukan karena mereka bersahabat, sudah pasti para perempuan hadapannya ini akan mengucilkan dirinya. Rei ingat saat Freya (yang hilang ingatan) tahu kalau dirinya merebut Marva dari Vio, wajahnya terlihat tidak suka, merasa kesal dan benci.


"Aku enggak sabar menunggu kelahiran si kecil," ucap Monic, mengusap perut Rei.

__ADS_1


Mereka sedang mendekor kamar bayi, yang bernuansa biru putih, warna yang netral untuk bayi, apa pun jenis kelaminnya.


Keluarga Rei juga sudah berkumpul di bawah. Marva sudah membeli rumah baru untuk keluarga kecil mereka. Dia tidak ingin tinggal di kediaman keluarga Arthuro atau keluarga Rei, karena dua keluarga itu selalu saja berebutan, membuat dirinya pusing.


Target Frans kini juga ada pada Freya, berharap kalau Freya akan kembali pada Arby, terus berkomunikasi dengan keluarga Freya.


Frans dan Yujin masih ribut, bersama dengan keluarga Freya. Bukan ribut bertengkar, tapi nostalgia dengan masa lalu mereka.


.


.


.


Kadang aku masih belum rela namatin cerita ini, tapi takut pada bosan 😑


Baca Jodoh Untuknya ya, karena ceritanya terus nyambung. Tokoh lama tetap ada, di tambah tokoh baru.

__ADS_1


__ADS_2