Mother

Mother
219 Extra Part


__ADS_3

Marva terus saja melihat toko perlengkapan bayi. Mau beli, tapi takut Rei marah. Usia kandungan Rei memang masih dia bulanan, masih lama sebelum anak itu lahir. Taki dia sudah tidak sabar. Dia ingin membeli, tali dia juga tahu, Rei pasti tidak akan suka.


Sudahlah, tidak usah saja.


"Enggak jadi?"


"Enggak."


"Terus buat apa dari tadi kita di dalam sini, selama satu jam!"


"Aku enggak mau nanti Rei marah."


"Takut istri nih ye!"


"Bukan takut, tapi sayang. Kamu juga pasti begitu kan Ar, kalau nanti Freya kembali padamu, pasti kamu tidak mau membuat dia marah?"


"Iya. Memang hanya kita saja yang paham. Mereka mah para jomblo mana mengerti, sih!"


Dia pria itu tertawa.


"Tumben kalian berdua akur!"


Arby dan Marva melihat seseorang yang ada di mal itu.


"Itu Nuna?"


Mereka langsung menghampiri Nuna.

__ADS_1


"Kamu sendiri?"


"Enggak juga sih, tadi sama teman. Tapi dia sudah pulang duluan karena ada pekerjaan mendadak."


Nuna akhirnya ikut para rombongan pria itu, yang membuat banyak orang melihat mereka. Nuna sendiri biasa saja, dia terlihat santai ada di antara mereka.


"Tapi kamu tumben pergi sendiri, kencan ya?" tanya Ikmal.


Monic hanya tertawa saja, yang bagi Ikmal, entah kenapa dia artikan sebagai jawaban iya.


"Siapa pria itu, apa pekerjaannya? Dia tinggal di mana, dari keluarga mana?"


Monic langsung melihat Ikmal.


"Ya ampun Ikmal Sayang, kamu kenapa kepo begitu?" tanya Monic, sambil merangkul lengan Ikmal.


Yang lain tersenyum, bukan karena Monic memanggil Ikmal dengan sebutan Ikmal sayang, atau karena Monic merangkul Ikmal, tapi karena pertanyaan Ikmal.


"Rasakan, Nuna sudah bertemu dengan calon jodohnya."


"Ya ampun, apa sekarang Ikmal yang patah hati? Sudah cukup Arby dan Marva!"


Ikmal terus saja memberikan pertanyaan pada Monic, yang dijawab gadis itu dengan tawa ringan saja.


"Ish, Nuna kenapa kamu menyebalkan? Ingat, kamu tidak boleh berpacaran dengan siapa lun tanpa izin dariku!"


"Lah, memang dia bapaknya?"

__ADS_1


"Bukan, dia memang bukan bapaknya, tapi dia sahabat merangkap penjaga merangkap calon suami."


Ikmal dan Monic tidak mempedulikan ocehan yang lain, tapi berbeda dengan Arby.


"Ikmal benar, Nuna. Kamu tidak boleh dengan sembarang orang. Dia harus bisa melewati Ikmal, aku dan Freya dulu," ucap Arby sungguh-sungguh.


Mereka diam, kalau Arby juga berkata seperti itu, apalagi menyebut-nyebut Freya, berarti ini serius.


"Iya, para sahabat tersayangku. Tentu saja diapa lin yang dekat denganku juga harus dekat dengan kalian. Kalau tidak, mana mungkin aku juga mau."


"Kalau begitu, kenapa tidak sama Ikmal saja? Kan dia sudah pasti lulus seleksi?" tanya Vian.


Ikmal dan Monic mendengkus. Mereka, selain Arby, tidak tahu seberapa besar jalinan yang kuat antara mereka berempat.


"Aku rasa pria itu pun tidak akan mudah. Lihat saja bagaimana nasibku dulu. Lihat saja bagaimana Rei yang selalu dijaga oleh sahabat-sahabatnya. Kalian tahu sendiri kan bagaimana Freya, Nania dan Aruna. Mereka berlima itu seperti para bodyguard perempuan yang saling menjaga."


Benar, para perempuan itu bisa menjadi sangat galak, apalagi kalau ada yang mengganggu salah satu dari mereka.


"Arby, apa dulu Freya tidak ngidam apa-apa?"


"Ngidam lah, dia ngidam selalu ingin memeluk dan menciumku. Terus ingin melihat wajahku, dan mengendus aroma tubuhku."


Yang lain, selain Marva dan Agam tentu saja, tertawa. Ingat bagaimana dulu kisah Freya dan Arby saat hamil?


.


.

__ADS_1


.


Baca kisah Nuna di Jodoh Untuknya.


__ADS_2