Mother

Mother
129 Di Hatimu


__ADS_3

"Mico, cari lahan untuk membuat rumah sakit. Memangnya mereka saja yang bisa membuat rumah sakit, aku juga bisa."


"Jangan, biar aku saja yang mencarikan," potong Arby. Dia tidak rela kalah Freya selalu meminta bantuan Mico. Duda gagal move on itu langsung menghubungi asistennya dan di-loud speaker agar Freya bisa ikut mendengar.


"Ya, Tuan?"


"Kamu cari lahan yang bagus dan strategis untuk dijadikan rumah sakit."


"Baik Tuan, Anda mau lokasinya di mana?"


"Di hatimu, karena hatimu penuh dengan rasa sakit."


Tut


Arby langsung memutuskan panggilan itu dan melihat Freya yang melihatnya dengan kesal.


"Jangan cemburu." Freya mendengkus, bisa-bisanya pria itu masih sempat bercanda.


Pengacara Frans datang dengan membawa berkas yang diminta. Surat pengalihan saham 20 persen atas nama Freya, ditambah rumah, tanah dan komisi tiga ratus juta setiap bulannya.


Freya membaca surat itu dengan teliti, jangan sampai dia dibodoh-bodohi. Perempuan itu lalu tersenyum puas, karena apa yang dia inginkan sudah tercapai.


"Simpan yang baik, Mic."

__ADS_1


"Apa kamu puas sudah mendapatkan saham itu, Freya? Kamu benar-benar licik."


"Masih saja menyalahkan orang lain."


Arby menggelengkan kepalanya, kakeknya itu memang memiliki sifat keras.


"Daddy, kenapa sejak tadi eyang selalu memarahi mommy? Chiro tidak mau lagi ke sini." Si kembar juga kelihatan ketakutan.


"Mom, Dad!" Arby menatap kedua orang tuanya.


"Sudahlah, Ayah. Lagi pula Freya itu mommy Chiro, cicit ayah juga."


Arby paling tidak bisa melihat Chiro menangis, begitu juga dengan krang tua Arby yang sangat menyayangi anak tunggal mereka itu.


"Sudah Kek, jangan diperpanjang lagi. Biarkan aku yang menyelesaikan masalahku sendiri dengan Rei dan Vio. Jangan terus menekan aku!" ucap Marva.


"Untuk sementara ini, aku tidak akan tinggal di mansion. Aku dan anak-anak akan tinggal di tempat lain."


"Kamu mau tinggal di mana? Bersama perempuan itu?"


"Ck!"


"Biarkan Marva dan anak-anak tinggal bersama kami. Kami akan menemani Marva, Arby dan Chiro juga akan ikut. Kakek tenang saja," ucap Ikmal yang akhirnya ikut angkat bicara.

__ADS_1


"Benar ayah, kalau seperti ini terus, tidak akan baik untuk mental si kembar," ucap mamanya Ikmal.


"Baiklah, jangan lagi membuat masalah!"


"Tapi kenapa anak-anak harus dibawa juga?" tanya Vio.


"Kami mau ikut ayah. Tidak mau di sini."


"Kalian sama mama saja, ya? Atau kita menginap di rumah oma?"


"Enggak, kami mau sama Chiro saja."


"Ayo kita pergi."


Freya berdiri, melihat keluarganya yang sejak tadi membelanya meski Freya diam saja.


Belum sempat dia berkata apa-apa, tubuhnya sudah limbung. Mico yang posisi duduknya ada di sebelah kiri Freya, mencoba menahan tubuhnha, tapi langsung dicegah oleh Arby yang ada di kanan Freya.


"Mommy, ini gara-gara Eyang yang terus memarahi mommy. Eyang jahat sama mommy Chiro."


"Lihat apa yang Kakek lakukan! Kakek sudah membuat Freya pingsan dan Chiro menangis terus!"


Arby langsung membawa Freya, dan Mico menggendong Chiro. Para sahabat dan keluarga Freya menyusul di belakang.

__ADS_1


Mereka langsung ke rumah sakit, dengan Ikmal yang mengemudikan mobil. Mereka masuk melalui pintu khusus yang sudah pasti tidak ada wartawan dan hanya orang tertentu saja yang bisa menggunakannya.


Freya dibawa ke ruang UGD, dan langsung diperiksa oleh rekan sesama dokternya.


__ADS_2