
"Agam, aku mau bicara." Freya menghampiri Agam yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Mau bicara apa?"
"Kita ke kafe depan saja."
Mereka berdua langsung menuju kafe depan rumah sakit.
"Kamu mau bicara apa, Nay?" Freya menatap lekat dokter Agam. Dia lalu bicara pelan, agar tidak ada orang lain yang mencuri dengar.
"Maksudnya bagaimana?" tanya dokter Agam.
Freya langsung mendekatkan wajahnya, dan berbisik di telinga dokter Agam. Kalau dari jauh, terlihat mereka yang seperti sedang berciuman.
Arby yang melihat itu merasa kesal. Sedangkan yang lain menahan nafas. Monic melihat Rei, sedangkan Rei diam saja.
Brak
"Ngapain kalian?"
"Ya ampun, kaget aku." Freya mengusap dadanya, merasa kesal dengan kehadiran pria itu bersama pengikutnya setiap hari.
Mico juga akhir-akhir ini sering bersama mereka.
"Dokter Agam dan Naya ciuman?" tanya Zilda.
"Sembarangan, Freya enggak seperti itu, ya!" ucap Arby.
Mereka melihat Arby, kenapa dia yang justru langsung membela Freya, bukannya barusan dah paham juga dan marah.
"Mana mungkin Freya berciuman dengan pria di tempat umum, apalagi bukan sama aku."
__ADS_1
Mereka mendengkus.
Entah itu pembelaan atau harapan.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Arby.
"Rahasia!" Freya langsung menatap dokter Agam, memberikan tanda apa yang dia katakan harus dirahasiakan.
Arby memanyunkan bibirnya.
"Agam, aku titipkan Rei padamu. Aku percayakan dia padamu, karena mungkin nanti aku tidak bisa menjaganya."
"Kamu mau ke mana, Nay?" tanya Rei.
"Mungkin nanti aku tidak ada waktu untuk kalian. Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaan kalian."
"Makanya, kamu harus istirahat, jangan kebanyakan kerja," ucap Marcell.
Arby, Ikmal dan Monic merasa tidak nyaman.
Cup
Pria itu mengecup bibir Freya sekilas.
Tidak ada tanggapan dari Freya, membuat mereka semua heran. Sepertinya perempuan itu sedang tidak fokus dan terlalu banyak pikiran. Arby merapatkan duduknya, dan memeluk Freya dari samping, begitu juga dengan Monic, dan disusul oleh Ikmal. Mereka berempat berpelukan dan menetralkan degup jantung masing-masing.
Mico, Marva, Marcell, Vian, Agam, Rei, Letta dan Zilda melihat itu merasa bingung, sebenarnya ada apa dengan mereka berempat.
Hanya Arby, Ikmal dan Monic saja yang tahu.
"Ingat baik-baik pesan aku, Agam."
__ADS_1
Agam mengangguk.
Mereka bertanya-tanya, apa yang dibicarakan antara Freya dan dokter Agam. Freya menghela nafas lega.
"Eh, ini kenapa kalian peluk-peluk, pengap tahu."
Mereka melihat Freya yang mulai makan. Dia sepertinya tidak menyadari kalau yang lainnya selalu melihat dirinya.
"Makan Ar, nanti kita jemput Chiro."
"Eh?"
"Aku mau jemput Chiro, kamu mau ikut enggak?"
"Mau mau mau."
Pria itu makan secepat mungkin. Saat bersama Freya dan Chiro adalah saat yang paling membahagiakan. Tidak ada yang bisa menggantikan itu. Bahkan sebisa mungkin dia akan mengerjakan pekerjaannya dengan cepat.
Marva terus saja melihat dokter Agam yang sejak tadi memandang Rei.
Salahkah dia yang ingin bersama Rei?
Egois kah dia jika mau memiliki keluarga yang sebenarnya?
Dia tahu dan sangat sadar, kalau akan menyakiti hati orang lain, tapi jika dia yang mengalah, itu akan menyakiti hatinya sendiri.
Haruskah dia kembali mengalah?
Mengalah karena keadaan.
Mengalah demi keluarga.
__ADS_1
Mengalah dan kembali mengorbankan dirinya ....
Lagi dan lagi, untuk yang kesekian kalinya dan tidak ada yang benar-benar tahu luka dan kesakitan yang selalu dia pendam selama ini.