Mother

Mother
168 Licik


__ADS_3

"Ayo makan, kamu sekarang jadi kurus, Rei."


Agam menyuapi Rei makan, tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Di saat yang sama, Marva diam-diam menyewa pengacara lain untuk mengurus perceraiannya.


"Terima kasih, karena kalian sudah banyak membantu aku. Aku berhutang budi pada kalian."


Mereka diam saja mendengar perkataan Marva.


"Oya Lexa, aku juga belum sempat berterima kasih padamu."


"Untuk?"


"Karena sudah menyebarkan berita itu mewakili aku."


"Maksudnya?"


"Jangan pura-pura tidak tahu Lexa. Kita satu pemikiran. Kamu mewakili aku menyebarkan berita tentang ibu kandung anak-anak aku. Terima kasih sudah mau melakukannya untuk aku."


"Aku tidak melakukannya untuk kamu."


"Aku tahu. Aku juga melakukannya bukan untuk diriku, tapi untuk Rei. Aku sudah memintanya untuk bersabar, biar aku yang mengurusnya sendiri. Aku sudah berjanji akan membuat dia bersama anak-anak kami. Hanya saja memang tidak bisa terburu-buru, aku harus bermain bermain cantik, kan!"


"Dasar licik!"


"Kamu dan suami juga sahabat-sahabatmu juga sama liciknya, Lexa. Tapi aku salut kamu bisa mendapatkan semua bukti itu sebelum aku melakukannya. Kamu sudah seperti agen rahasia.


Mereka tertawa.

__ADS_1


"Sebenarnya aku malas membantu kamu."


"Karena Vio?"


"Aku ini juga perempuan, Marva. Aku bisa merasakan bagaimana jika di posisi Vio, tapi aku juga bisa merasakan bagaimana jika di posisi Rei."


"Kamu sudah siap dikeluarkan dari keluarga, Marva?" tanya David.


"Sudah. Tapi aku rasa kakek tidak akan sekejam itu padaku."


"Kamu yakin akan meninggalkan Vio? Nanti kamu menyesal. Sudah jelas kalau Vio sangat mencintai kamu, sedangkan Rei masih abu-abu. Kalau pun Rei mau kembali kepada kamu, bisa saja itu hanya karena anak-anak, bukan karena cinta. Kamu akan kembali menyakiti dirimu sendiri dan Rei. Coba pikirkan baik-baik. Ingat, jangan sampai kamu menyesal!"


Marva diam saja, menyesal atau tidak, tentu saja dia tidak akan tahu, karena belum menjalaninya.


"Kamu sendiri, kamu juga tetap bersikeras bersama Lexa meski kamu tahu Lexa tidak mencintai kamu." David langsung tertawa mendengar perkataan Marva, sedangkan Zion menggelengkan kepalanya.


"Oya, Hannie, Yosuke, tolong kalian perhatikan kedekatan Rei dengan Agam ya, di klinik."


"Enggak mau!"


"Enak saja!"


"Jangan libatkan kami dalam kisah cinta kamu yang ribet itu."


"Ayolah Hannie, kamu juga pasti yang paling mengerti aku, kan. Bagaimana rasanya ingin bersama seseorang tapi tidak direstui keluarga? Menyakitkan, kan?"


Hannie diam saja, memang tidak enak rasanya menikah tanpa restu keluarga, tapi toh dia tetap melakukannya juga.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu, Marva!" ucap Kenzi.


"Kamu salah kalau meminta tolong seperti kepada Hannie. Mereka perempuan, mana tega membantu kamu bersama Rei tapi itu menyakiti hati perempuan lain."


"Itu benar, lain halnya dengan kalau Vio yang lebih dulu selingkuh."


"Jangan berpikiran macam-macam, Marva! Jangan sampai kamu menjebak Vio untuk selingkuh, ya!" gertak Lexa.


"Ya ampun, aku tidak sejahat itu, Lex."


"Bisa saja kan kamu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau."


"Iya, tapi enggak begitu juga, kali!"


Marva mendengkus saat mendengar tuduhan Lexa padanya.


"Jadi, apa rencana kamu selanjutnya?"


"Setelah aku dan Vio resmi berpisah, aku akan mengejar Rei."


"Kamu benar-benar tidak bersyukur, Marva. Apa kurangnya Vio? Apa karena dia belum memberikan kamu anak juga?"


"Bukan."


Marva menghela nafas. Kenapa sepertinya banyak yang menentang dia bersama Rei? Mereka berpikir kasihan dengan Vio dan Rei. Tidak kah mereka kasihan dengannya? Apakah mereka tidak mengerti bagaimana kalau berada di posisi dia?


"Itu karena aku peduli dengannya, karena aku kasihan padanya, makanya aku ingin melepasnya, agar dia bisa menemukan kebahagiaan lain di luar sana."

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau kebahagiaan dia hanya dengan bersama kamu?"


__ADS_2