
"Tentu saja kalian harus mengadakan resepsi besar-besaran. Sekalian kami ingin mengumumkan kalau kamu adalah cucu kakek yang sudah lama hilang."
"Baiklah, aku akan mengikuti kemauan kalian."
Rei mengikuti mereka sebagai tanda baktinya yang selama ini belum pernah dia lakukan. Sebagai rasa syukur karena mereka dipertemukan kembali.
☘️☘️☘️
Desas-desus tentang Marva yang menikah lagi dan hadirnya orang ketiga, membuat saham di perusahan merosot. Para pemegang saham meminta penjelasan pada Marva.
"Kalau untuk urusan pribadi, saya tidak perlu menjelaskan apa-apa pada kalian, karena ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan."
"Tapi urusan yang kamu bilang pribadi itu, sudah membuat kacau perusahaan."
"Masih bisa dikendalikan. Lagi pula, kita sebagai pengusaha tentu saja sudah biasa mengahadapi masalah perusahaan. Kita ini bukan pengusaha kemarin sore, yang baru kena angin dikit langsung tumbang. Kalau ada investor yang mau menarik sahamnya, silahkan. Tapi jangan harap bisa kembali lagi, masa dia yang pergi dia yang minta rujuk!"
Asisten Marva menahan tawa, kenapa ini diibaratkan seperti pernikahan?
Mereka terdiam. Yujin mengulum senyumnya, dia senang Marva bersikap tegas seperti ini. Tidak ada yang tahu bahwa istri kedua Marva adalah cucu dari Yujin, karena undangan memang belum disebar dan siapa juga yang menyangka, kan?
Keluarga Zanuar, Abraham dan yang termasuk family diam dengan santai. Sedangkan para investor yang tidak memiliki hubungan kekerabatan berpikir baik-baik.
Mereka berpikir, tentu saja para family itu tidak akan membiarkan keluarga Arthuro hancur.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan tetap bertahan," ucap salah satu investor, yang diikuti oleh investor lainnya.
☘️☘️☘️
Rei mengambil cuti tiga hari untuk mengurus pernikahannya, yang diikuti oleh keempat sahabatnya. Kalau saja rumah sakit itu bukan punya Arby, tentu saja mereka akan langsung dipecat. Arby melakukan ini hanya untuk Freya, bukan untuk perempuan-perempuan gemar belanja itu.
Gaun pengantin dari keluarga Freya
Perhiasan dari perusahaan Arby
Acara hiburan dari keluarga Freya
Kalau dilihat-lihat, semua dari keluarga mereka, termasuk gedung dan WO (bukan dari orang lain atau perusahaan lain).
"Pakai ucapan terima kasih, dan sehat selalu. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian."
"Cih, mau nikah tapi enggak modal!"
Mereka hanya tertawa. Mereka makan malam bersama di salah satu hotel besar yang nantinya akan menjadi tempat pernikahan Marva dan Rei.
"Kakek, coba ini. Ini enak banget!" ucap Freya pada Frans.
Mereka terbengong, melihat Freya yang terlihat cukup sopan pada Frans, dulu enggak akur.
__ADS_1
"Iya, terima kasih ya, cucu kakek. Kamu baik banget."
Frans menepuk punggung tangan Freya dengan lembut, hal itu tentu saja menjadi pusat perhatian mereka.
Apa bendera putih telah dikibarkan?
Apa karena Freya tidak ingat apa-apa maka semuanya terlihat baik-baik saja.
Mereka tentu saja masih sangat ingat, kalau Freya dan Frans itu seperti musuh bebuyutan, meski usia mereka terpaut sangat jauh.
Arby menggelengkan kepalanya, lalu menghela nafas.
Kalau Freya ingat, habislah kamu kakek, karena disindir terus oleh Freya.
Frans bahkan menyendokkan makanan ke piring Freya.
"Makan yang banyak, ya."
Rei hanya bisa meringis sambil menggaruk tengkuknya. Sedangkan yang lain, ada yang mau ketawa, ada juga sudah gatal ingin bicara.
"Eyang dan Mommy, sudah enggak musuhan lagi, ya? Dulu Eyang selalu memarahi mommy Chiro."
Tuh kan, si polos Chiro yang lebih dulu bicara
__ADS_1