Mother

Mother
89 Iri Dengan Mereka


__ADS_3

Di sana, Vio menghela nafas. Sebenarnya dia bukan tipe pencemburu dan curigaan, hanya saja dalam hal Rei, semuanya berbeda.


Apa aku yang terlalu cemas? Baiklah, kalau nanti Marva dan anak-anak pulang, aku akan memperbaiki hubungan kami. Yang menjadi istri Marva adalah aku, bukan perempuan lain.


Rei membawa kue yang baru saja dibuat untuk Naya dan keluarganya. Membiarkan Marva sendiri yang diam setelah mendengar perkataan Rei. Benar, hubungan mereka adalah masa lalu yang belum tentu menjadi masa depan.


Setelah beberapa waktu, kasus yang melibatkan Naya akhirnya selesai juga. Perempuan itu bisa kembali bekerja.


Seperti itu lah Vio, yang selalu cemas dan menaruh curiga. Tapi sikap anak-anak yang selalu baik padanya, dan tidak pernah menyebut nama Rei apalagi menceritakan kedekatan Marva pada Rei, membuat Vio merasa lega.


"Akhirnya kalian pulang juga. Mama kangen berat sama kalian ayah dan anak-anak kesayangan mama."


Vio memeluk Marva dan memeluk si kembar juga mencium wajah mereka, membuat si kembar tertawa geli.


"Aku mau minta maaf padamu. Aku tahu aku salah, dan terlalu curiga. Aku harap kamu mengerti kalau aku seperti itu karena terlalu takut kehilangan kamu. Sudah cukup bagiku merasakan di duakan, aku tidak mau itu sampai terulang lagi, apalagi kalau kita sampai berpisah."

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Aku juga minta maaf. Aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa."


Setidaknya, hingga saat ini tidak ada hubungan apa-apa. Tidak tahu kalau nanti.


Entah kenapa Marva membatin seperti itu. Dia hanya merasa, entah benar atau tidak, kalau hubungannya dengan Rei tidak bisa lurus begitu saja. Apa mungkin karena ada anak-anak di antara mereka?


Toh cepat atau lambat, Marva yakin kalah si kembar juga akan tahu siapa ibu kandung mereka. Tidak tahu dari mana atau siapa nanti mereka akan tahu.


Vio menggandeng tangan Marva, mengajaknya ke ruang keluarga.


"Dia baik-baik saja. Sudah bisa kembali bekerja."


"Syukurlah kalau seperti itu."


Vio dan Freya memang tidak akrab. Mereka tidak punya kesempatan untuk saling mengenal apalagi menjadi dekat. Kalau saja hubungan Freya dengan Arby berjalan dengan lancar, apa mungkin mereka akan menjadi saudara ipar yang akur? Apa mereka akan bersahabat? Siapa yang akan Freya dukung, Vio atau Rei?

__ADS_1


Masuk dalam lingkaran keluarga Arthuro memang tidak mudah. Meskipun Arby tidak menyandang nama Arthuro, tapi dia tetap menjadi bagian dari keluarga ini, namanya tetap tercantum dalam salah satu pewaris.


Hanya Marva yang menyandang nama Arthuro, itulah sebabnya kakek Frans sangat menginginkan Marva memiliki anak, terutama kaki-laki.


"Aku akan memanggil anak-anak, setelah itu kita makan. Aku sudah meminta koki untuk memasak makanan dan kue kesukaan kalian."


Mereka sekeluarga makan dengan tenang. Menunjukkan sikap keluarga terpandang. Radhi dan Raine jadi teringat saat mereka berada bersama dokter-dokter cantik itu. Sikap mereka tidak ada yang kaku. Mereka bahkan pernah melihat dokter Rei yang makan sambil duduk di lantai, begitu juga dengan dokter Naya. Saat Chiro tidak sengaja menyenggol sendok milik Naya hingga membuat makanan berantakan di lantai, dokter Naya tidak marah.


Yang dipanggil dengan nama Mico itu juga, terlihat santai menikmati cemilan sambil duduk selonjoran di lantai, membuat bungkus makanan berantakan.


Kalau di sini, apa-apa harus teratur. Kami juga mau main ke dapur dan membantu membuat kue.


Vio terlihat ceria, membuat Marva menghela nafas. Dia beberapa kali menyuruh anak-anak untuk tambah makanan.


Tidak bisa seperti ini terus. Pada akhirnya, pasti akan ada yang tersakiti. Entah itu Vio, Rei, anak-anak, atau diriku sendiri.

__ADS_1


Aku jadi iri dengan Arby, Ikmal, Vian dan Marcell, bahkan aku iri dengan Mico.


__ADS_2