
"Jangan bengong, Kak!" tegur Rei, yang menyadarkan Marva dari lamunan masa lalunya.
"Rei, berjanjilah kamu tidak akan meninggalkan aku dan anak-anak lagi!"
"Tentu saja aku tidak akan meninggalkan anak-anak, karena mereka adalah anak-anakku. Tapi aku tidak bisa berjanji untuk tidak meninggalkan kamu, Kak. Kalau kamu menyakiti hatiku dengan sangat dalam, aku akan meninggalkan kamu dengan membawa anak-anak. Aku bersikap seperti ini bukan karena aku sudah memiliki keluarga kandung, sehingga aku terlihat sombong. Kamu tahu sendiri kan, aku yang dulu saja bisa pergi meninggalkan kalian, apalagi aku yang sekarang. Rei yang dulu dan Rei yang sekarang tidak sama. Mungkin aku masih terlihat lemah, tapi kalian tidak tahu apa yang bisa aku lakukan. Bersahabat dengan Freya selama bertahun-tahun tentu saja mengajarkan aku banyak hal. Freya tidak suka orang yang lemah, apalagi itu seorang perempuan, dan itu tentu saja mendatangkan kebaikan sendiri untuk aku! Jadi, selalu bersikap baiklah padaku, agar aku punya alasan untuk selalu bersama kamu."
Marva terdiam, melihat istri yang ada di hadapannya ini. Bukan hanya secara fisik saja Rei berubah, tapi juga cara dia berbicara.
Secara fisik, Rei memang berubah. Menjadi lebih cantik dan tentu saja terawat. Dulu perempuan ini sangat kurus, dan kelihatan lemah. Sekarang, tubuhnya lebih berisi dan terlihat pas. Apalagi di bagian tertentu, yang menguntungkan dia sebagai suaminya.
Wajah Marva tiba-tiba memerah, dan dia sedikit memalingkan wajahnya dari hadapan Rei.
Ya ampun, sepertinya aku ketularan Arby, jadi mesum.
Pokoknya aku harus bisa membujuk uncle untuk membiarkan aku pulang. Dia benar-benar ingin menghukum ku karena sudah melibatkan dia dalam kebohongan kami.
"Kakak pusing, atau sakit kepala?"
"Tidak, kenapa?"
__ADS_1
"Wajah kamu memerah. Sebaiknya sekarang kamu tidur dulu, aku juga harus kembali kerja."
Marva mengangguk, lebih baik saat ini Rei menyingkir dulu dari hadapannya. Kalau tidak, dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya dan malah melakukan malam pertama di brankar rumah sakit. Bisa-bisa dia ditertawakan oleh saudara-saudaranya itu.
Enggak elit banget! Kere ya, enggak punya uang buat bayar hotel?
Pasti itu yang nanti akan dikatakan oleh si mulut ember Arby!
Marva sudah membayangkan tinggal bersama Rei dan anak-anak mereka. Senyum di wajahnya merekah. Mengingat Vio, senyum di wajah itu langsung menghilang.
Katakan saja dia jahat, meninggalkan perempuan yang sudah bertahun-tahun bersamanya. Tapi hati siapa yang memberi? Jika dia pria brengsek, bisa saja dia selingkuh sana-sani, toh sejak dulu, meskipun dia sudah menikah, masih banyak perempuan yang mendekatinya, rela menjadi yang kedua atau sekedar selingkuhan diam-diam. Tapi hati Marva tidak tergerak sedikit pun pada para perempuan cantik anak para pengusaha itu.
Kepergian Rei yang meninggalkan dia dan anak-anak mereka, kembali membuat Marva cemas. Apa dia bisa menjadi ayah yang baik. Apa dia bisa membesarkan anak-anaknya dengan baik seorang diri?
Memang ada Vio
Memang ada papa mamanya
Memang ada kakeknya
__ADS_1
Tapi itu tidak sama
Dia dan Arby memiliki masalah yang sama menyangkut anak.
Apa aku harus begini, atau sebaiknya begini?
Apa aku jangan begini, atau jangan begini?
Selalu saja Marva berpikir berkali-kali sebelum dia berbicara atau melakukan banyak hal pada si kembar.
.
.
.
.
Mau ngucapin makasih buat kalian semua, yang sudah antusias dengan cerita ini. Tadi aku sudah nulis panjang lebar tentang curhatan cerita Mother ini, tapi aku hapus lagi. Ya intinya gitu, mau bilang makasih karena aku enggak nyangka cerita ini pembacanya jadi banyak. Benar-benar enggak nyangka dan terharu aku.
__ADS_1
Sehat selalu untuk kita semua😊😊😊