Mother

Mother
59 Kutukan


__ADS_3

Hari ini Marva mengajak anaknya ke Jepang, untuk mengunjungi Erlangga dan Chiro di sana, juga ketiga sepupunya yang lain. Hubungan mereka sebagai sepupu itu cukup rumit kalau tidak paham dengan silsilah keluarga.


Dia bersama kedua anak kembarnya tiba di apartemen Erlangga, langsung merebahkan dirinya di atas sofa sementara anaknya sudah dia tidurkan di kamar bersama Chiro.


"Jadi, sebenarnya siapa ibu dari anak-anakmu?"


"Kenapa kamu sangat penasaran?"


"Kan aku harus tahu siapa ibu dari keponakan aku. Kali saja nanti aku nemu di jalan, jadi bisa aku pungut dan aku bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk kamu."


"Sialan, kamu kira Rei itu apaan?"


"Rei? Jadi namanya Rei?"


Marva merutuki kebodohannya yang keceplosan dan terpancing oleh Erlangga.


"Rei siapa?"


"Reinata."


"Siapa tuh Reinata?"


"Teman satu sekolah kalian."


"Jangan-jangan Reinata teman satu kelas kita itu, yang dulu digosipkan jalan sama kamu ke hotel?" celetuk Ikmal.


"Memangnya kita punya teman yang namanya Reinata?" tanya Erlang.


"Ada. Anaknya pintar, dapat beasiswa dan pendiam banget. Tidak pernah ngobrol sama siapa-siapa. Enggak punya teman kayaknya, dia."


"Memangnya kamu enggak tahu?" kali ini Marcell yang bertanya.


"Aku hanya tahu ada perempuan di kelas kita."


"Ya adalah, Er. Memangnya kamu pikir dikelas kita cowok semua, apa!"


"Apa sih yang kamu tahun dan ingat?"


"Freya."

__ADS_1


"Freya lagi, Freya lagi!"


"Stop! Jangan sebut-sebut nama Freya di hadapan aku!"


"Kan tadi kamu duluan yang menyebut nama Freya, anjir!"


"Jadi, apa hubungan kamu sama Reinata?"


"Istriku."


"Masih?"


Marva tidak langsung menjawabnya, dia sendiri bingung.


"Aku belum mengucapkan kata talak, sih. Tapi ...."


"Tapi apa?"


"Aku dan dia hanya menikah siri."


"Ya berarti secara enggak langsung sudah pisah, dong. Ini kan sudah dua tahun lebih, tidak ada nafkah lahir batin yang kamu berikan."


"Itu karena dia meninggalkan aku begitu saja. Aku belum bicara apa-apa padanya, tapi dia malah pergi meninggalkan aku dan anak-anakku."


Marva lalu menceritakan semuanya. Mungkin dengan begini perasaannya akan menjadi lebih tenang. Toh mereka juga saudaranya, kan?


Ikmal dan yang lain, kecuali Erlangga, kerasa iba.


"Aku tidak tahu, siapa yang lebih kasihan. Kamu atau Erlang," ucap Ikmal yang diangguki Vian dan Marcell.


"Sepertinya keluarga kita kena kutuk. Ditinggalkan oleh istri bersama anak," ucap Erlang yang terlihat sangat merana.


"Tapi Marva masih ada cadangan, kan masih ada Vio," Marcell mencoba menyemangati, tapi justru mendapat lirikan tajam dari Marva.


"Coba deh, Mal ... kamu, Marcell dan Vian menikah. Aku ingin memastikan, apa kalian juga akan ditinggalkan oleh istri kalian, kalau benar, berarti keluarga kita memang kena kutuk!"


"Sialan!" umpat Ikmal, Vian dan Marcell bersamaan.


"Kamu tidak mencari Reinata?"

__ADS_1


"Sudah, tapi tidak ketemu. Tidak ada teman yang bisa ditanya. Aku juga tidak tahu di mana dia dulu tinggal. Dia tidak membawa ponsel yang aku berikan."


"Benar-benar suami yang luar biasa. Alamat lama istrinya saja dan lain tidak tahu. Tapi dia memang tidak punya teman sih. Teman kelas ya memang hanya status teman kelas saja."


"Terus aku harus bagaimana?"


"Nasibmu!" sahut Erlang.


"Nasibmu juga, dasar tidak sadar diri."


"Nasib kalian berdua yang ditinggalkan istri pas lagi sayang-sayangnya," Marcell tertawa geli.


"Kampret!" Erlang dan Marva melempar bungkus makanan pada Marcell.


"Semoga saja dia ada di Jepang," ucap Ikmal.


"Siapa? Freya atau Reinata?"


"Dua-duanya."


"Kalau Freya mungkin iya, tapi kalau Reinata sepertinya tidak. Dia tidak cukup banyak uang untuk tinggal di luar negeri. Lagi pula, dia pasti tidak ingin jauh-jauh dari makan neneknya yang ada di Jakarta."


"Dia kuliah di Jakarta, mungkin."


"Aku sudah cari di Jakarta dan sekitarnya, tapi tidak ada universitas atas nama dia. Dia sangat ingin jadi arsitek. Dulu aku selalu melihat di meja belajarnya buku tentang arsitektur."


"Mungkin dia ada di luar negeri. Singapura? Malaysia? Australia?"


"Lalu dia dapat biaya hidup dari mana? Bukannya aku meremehkan, tapi kalian juga tahu tinggal di luar negeri itu tidak mudah, tidak seperti liburan dua tiga hari lalu pulang."


"Mungkin dia sudah menikah lagi, karena impiannya kandas."


"Iya, Mar. Reinata itu pintar dan lumayan cantik, loh. Siapa tahu saja kan, lepas dari kamu malah mendekatkan pria yang jauh lebih baik. Bukannya dijadikan istri kedua dan siap dibuang kapan saja."


Marva mendengkus, bercerita pada saudara-saudaranya, bukannya menenangkan hati, tapi malah bikin senewen.


"Kamu doa kan saja yang terbaik buat dia. Mrskikun kakain todak lagi bersama, tetap saja kan dia ibi biologis dari si kembar."


"Tapi seperti ada yang mengganjal."

__ADS_1


"Mengganjal karena kamu merasa harga dirimu kamu tercabik. Bukannya menceraikan dia lebih dulu, tapi dia yang meninggalkannkamu lebih dulu. Kamu pasti gengsi, karena kamu yang ditinggalkan, bukan meninggalkan."


Marva berpikir, mungkin memang benar seperti itu. Karena dia yang ditinggalkan, bukan dia yang meninggalkan.


__ADS_2