
Semakin hari tentu saja semakin sibuk, tapi jika dilalui bersama teman-teman yang baik, semuanya akan terasa lebih ringan. Itulah yang dirasakan oleh Rei, tapi tidak untuk Marva. Pekerjaannya semakin menumpuk, itu berarti ada seseorang yang semakin terasa dicuekin.
"Ayolah, segera kalian kembali. Bantu aku di sini."
"Kamu pikir kami di sini tidak sibuk?"
Marva menghela nafas, lalu mematikan ponsel itu sebelum sepupu-sepupunya mengoceh tidak jelas.
Marva mengoceh juga, meski saat ini dia sendirian. Ayahnya Marva adalah anak laki-laki satu-satunya, sedangkan saudaranya yang lain perempuan semua. Dia bukan cucu laki-laki satu-satunya, tapi karena ayahnya anak laki-laki semata wayang, jadi beban paling banyak ditanggung oleh dia, yang nantinya akan diturunkan pada Radhi.
Tapi Marva berjanji, tidak akan membebankan banyak hal pada Radhi, dia akan mendidik anak perempuannya juga menjadi pengusaha wanita. Juga bukankah masih ada Chiro juga? Juga calon anak-anak dari sepupunya yang lain.
Orang lain berpikir lahir dari keluarga kaya sangat menyenangkan, tanpa memperhatikan beban yang juga banyak tentunya. Harus pintar memilih pasangan hidup, agar tidak ditipu dan hanya diinginkan hartanya saja. Pintar dalam memilih teman, jangan baik kalau ada maunya saja. Juga pintar dalam menilai tekan bisnis, jangan sampai terjebak oleh mulut manis berkedok penipu.
Marva, Arby, Ikmal, Vian, dan Marcell sudah diajarkan sejak kecil, dan hanya satu orang saja pembangkang, yang saat ini tidak diketahui di mana keberadaannya.
Tempat peristirahatan terbaik di rumah ini adalah kamar yang dulu Rei temlati, bukan karena dia masih mengingat mantan istrinya itu, tapi di kamar ini, anak-anaknya bisa lebih tenang. Selain itu juga tidak ada orang lain yang masuk ke sini selain asisten rumah tangga untuk membersihkan kamar. Viola jelas tidak pernah masuk, karena tidak ada alasan untuk masuk ke kamar mantan madunya itu. Orang tua juga kakeknya apalagi, jelas tidak mungkin.
"Ayo kita jalan-jalan, kamu mau ke mana?"
"Kamu mau mengajak aku jalan?"
"Iya, tapi sama Radhi dan Raine, ya. Nanti kalau mereka nangis, kita juga yang disuruh pulang cepat."
__ADS_1
Vio mengangguk setuju, karena memang selalu seperti itu, mereka akan langsung disuruh pulang saat menghadiri pesta perusahaan lain dan tidak membawa si kembar.
Marva menggendong Radhi, sedangkan Vio menggendong Raine. Marva melihat kalau Vio mengecupi pipi Raine dengan gemas, karena pipinya Raine semakin terlihat montok dengan kulit mulusnya yang bertabur bedak bayi.
"Kamu wangi banget sih, Sayang. Mama sayang dan gemas banget sama kamu."
"Ain ... ain."
"Rain mau main? Kita ke mall yuk, main di mall. Sama beli boneka yang besar, ya?"
"Ya ya ya."
Vio tertawa melihat tingkah lucu Raine. Kakek dan kedua orang tua Marva juga ikut tersenyum melihat keakraban itu.
Seolah tidak pernah ada jejak perempuan lain yang tertinggal. Semua seolah bersih tanpa noda.
Send
Rei yang melihat video kiriman dari bik Tuti, merasa sedih. Seharunya dia yang mengecup kedua pipi anak-anaknya. Menggendong mereka dan mengajak bermain. Menyuapi juga memandikan, bukan perempuan lain yang nanti akan mereka panggil mama.
"Jangan sedih, akan ada waktunya kamu di posisi itu," ucap Naya yang diam-diam memperhatikan Rei.
"Ingat, darah lebih kental daripada air."
__ADS_1
Naya berkata sambil dia sendiri memperhatikan wajah Chiro di ponselnya.
"Benar, kalian selangkah lebih maju daripada mereka," ucap Monic.
"Mereka liburan nanti mau ke sini, mencari tahu tentang keberadaan kita, jangan lupa pakai masker. Aku sudah menutup identitas mereka. Mereka menyebut Rei itu Reinata, bukan Kirei, jadi tidak terlalu mudah juga."
"Terus kami?"
"Kan kalian ceritanya ada di negara yang berbeda. Yang gawat itu ya aku. Si Arby jelek itu masih penasaran saja. Mereka juga tidak ada yang menyangka kan, kalau Rei ada di sini bersama kita."
"Terus kamu gimana?"
"Tenang saja. Aku bakalan bikin mereka sibuk di tempat lain."
"Kamu belajar semua itu dari mana sih, Nay?" tanya Rei yang masih saja penasaran dengan identitas Naya yang sebenarnya.
"Hm, enggak tahu juga, ya. Tapi aku bisa saja dengan sendirinya, aku juga lupa." Naya sedikit memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Ayo makan!" Monic langsung mengalihkan pembicaraan, karena khawatir dengan kondisi Naya.
Sambil makan, Rei masih memperhatikan video yang bik Tuti kirimkan.
Bunda senang kalian sehat dan baik-baik saja.
__ADS_1