
Sebuah mobil sudah menunggu sejak tadi. Mereka harus melakukan ini dengan cepat. Saat mobil Freya dan sahabat-sahabatnya datang, mereka langsung bersiap.
Mereka dengan tenang turun dari mobil.
"Tuh kan ketinggalan, kalian duluan deh."
Orang itu langsung menarik tangan orang yang ditunggunya.
"Heh berhenti. Freya, Freya!"
"Ya ampun, mampus aku. Kalau sampai Arby tahu, aku yang dicincang!"
Mereka kembali masuk ke dalam mobil, kali ini Zilda yang mengendarai mobilnya.
"Halo Ar, gawat!"
"Apa lagi? Kalau masalah Rei, nih langsung ngomong sama si Kurva!"
"Bukan, tapi Freya. Freya dibawa kabur sama cowok!"
"Apa? Sialan, awas saja kalau Freya sampai kenapa-kenapa."
Sambungan langsung diputus oleh Arby.
"Kenapa, Ar?"
"Freya dibawa."
"Mommy kenapa, Daddy?"
"Tidak apa-apa. Ayo kalian juga ikut."
Freya tiba di tempat dengan para pengawal yang menjaganya ketat.
__ADS_1
Dia melihat ada keluarganya di sana.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" Di sana banyak orang. Kedua orang tuanya, kakak adiknya juga keluarga Abraham, Arthuro, dan keluarga yang lain.
"Ada apa lagi sih, ini? Aku ini dokter, loh. Banyak pasien yang harus aku periksa, bukan orang kerjaan seperti kalian!" katanya tajam menatap Frans.
Tidak lama kemudian tim dari Arby datang, disusul dengan tim dari klinik dengan suara decitan mobil yang sangat keras, tanda bahwa Zilda mengebut.
Tidak susah mengikuti Rei dan Freya sekarang, karena mereka sudah memasang GPS.
"Ada apa ini? Kenapa semuanya berkumpul di sini?" Mereka juga tidak tahu kenapa semuanya berkumpul.
"Langsung saja. Kami mau kamu mengakui kalau kamu kan yang melakukannya, Freya"
"Melakukan apa?"
"Menyebarkan berita itu?"
"Jangan bohong, pasti kamu yang melakukannya."
"Kalau begitu buktikan. Buktikan kalau aku yang melakukannya!"
"Kamu pernah mengancam kami kalau tidak mau memberikan apa yang perempuan itu mau."
"Aku tidak pernah mengancam. Aku hanya bilang, kalau aku menuntut kalian, orang-orang pasti akan tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Dan sekarang mereka sudah tahu. Siapa lagi yang berkepentingan dalam hal ini?"
"Mana aku tahu, mungkin karena musuh kalian banyak. Manusia egois dan jahat, pasti banyak yang benci!"
Brak
"Freya, jaga bicara kamu!"
__ADS_1
"Eyang, jangan memarahi mommy aku!"
Mereka tersadar kalau ada Chiro dan si kembar di sana.
"Chiro, masuk kamar!"
"Enggak mau, nanti Eyang memarahi mommy aku lagi."
"Arby, bawa masuk Chiro, Radhi dan Raine ke kamar!"
"Chiro enggak mau, Daddy. Kalau Daddy memisahkan Chiro dan mommy lagi, Chiro enggak mau lagi tinggal sama Daddy. Chiro mau ikut mommy saja ke luar negeri. Biarin Daddy sendirian di sini."
Deg
Mana mungkin Arby membiarkan itu terjadi. Chiro ada separuh nyawanya.
"Kakek, lihat nih gara-gara Kakek, Chiro jadi nangis dan marah sama aku. Lagian Kakek kenapa sih main tuduh saja."
"Diam kamu Arby."
Arby langsung duduk di samping Freya dan berusaha menenangkan anaknya yang menangis di pelukan Freya.
"Bukan aku yang melakukannya, meskipun memang sangat ingin. Sayangnya saja keduluan orang lain. Tapi bagus juga, sih, setidaknya ada yang satu pemikiran dengan aku."
"Kalian dengar sendiri, kan. Pasti dia menyuruh orang lain, kalau bukan dia sendiri yang melakukannya."
"Bukan aku, dan aku tidak pernah menyuruh orang lain."
"Kalau bukan kamu, terus siapa?"
"Bisa saja Marva, karena dia ingin menunjukkan pada orang-orang soal siapa sebenarnya Rei."
"Atau bisa saja Vio, karena dia tidak suka dan sakit hati dengan keluarga ini," lanjut Freya.
__ADS_1