Mother

Mother
212 Dibandingkan


__ADS_3

Hari Minggu, waktunya untuk bersama keluarga. Marva mengajak Rei dan anak-anak nya ke mall. Membeli baju, perlengkapan sekolah yang baru, dan belanja bulanan. Memang sederhana, tapi bagi Marva dan Rei, ini menyenangkan.


Rei sengaja tidak memilih segala sesuatu yang harganya paling mahal. Bukan karena tidak punya uang atau pelit, tapi untuk mendidik kedua anaknya, kalau apa-apa itu tidak harus yang mahal banget.


Latar belakangnya dengan Marva sangat berbeda. Rei sudah biasa hidup sederhana, dan serba kekurangan. Toh dia baru bertemu dengan keluarganya sekarang, di saat dia sudah dewasa dan mapan.


Dia tidak tahu, meskipun sebenarnya sudah memiliki bayangan, bagaimana cara keluarga Arthuro membesarkan Radhi dan Raine. Apalagi mereka berdua cicit yang sangat diharapkan. Pasti sangat dimanja, apa-apa selalu yang paling mahal dan terbaik.


Rei tidak mau menyalahkan, atau menganggap cara seperti itu salah. Dulu, dia juga berpikir kalau dia sudah sukses nanti, dia mau memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk anaknya.


Dan ternyata ....


Dia telah memiliki anak sebelum dirinya sukses. Boro-boro sukses dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, memberikan yang terbaik untuk dirinya sendiri saja belum bisa. Itulah alasan yang paling mendasar dia pergi meninggalkan Radhi dan Raine, memberikan mereka yang terbaik dengan cara meninggalkan keduanya.


"Kenapa bengong?" tanya Marva.


"Enggak apa, Kak."


Mereka melanjutkan belanja, setelah itu makan di salah satu cafe dalam mall.


"Mar!" panggil seseorang.

__ADS_1


Beberapa orang pria dan wanita datang menghampiri Marva.


"Hai, kalian juga di sini. Ayo gabung!"


Marva meminta mereka bergabung, agar Rei dan teman-temannya itu bisa saling mengenal. Marva ingin Rei tahu siapa saja yang menjadi teman-temannya.


Teman-teman Marva melihat Rei. Ada yang terlihat sinis, ada yang cuek, ada juga yang terlihat ramah.


"Vio apa kabarnya, Mar?"


"Baik," jawab Marva sekenanya.


"Hai Rei, kami teman-teman Marva," ucap salah satu, mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Vio.


Pembicaraan selanjutnya tentang pekerjaan.


"Kok diam saja, enggak ngerti, ya? Beda banget ya sama Vio. Kalau Vio diajak bicara apa saja juga nyambung, apalagi soal bisnis," ucap seorang perempuan yang tadi juga bertanya kabar Vio.


"Jangan membandingkan Vio dan Rei. Mereka berbeda. Rei ini dokter. Kamu kalau bicara masalah kedokteran juga belum tentu mengerti!" hardik Marva.


"Ya kan bukan berarti enggak mau belajar dikit-dikit, biar bisa berbaur dengan yang lain saat ada pesta perusahaan atau pesta para pengusaha."

__ADS_1


"Aku hanya mengerti sedikit saja soal bisnis," ucap Rei sabar.


Pelakor dibandingkan dengan istri sah. Mungkin inilah judul yang tepat tentang pertemuan ini.


Ya, pasti akan ada saja orang yang akan membandingkan.


Istri pertama dengan istri kedua


Istri sah dengan pelakor


Istri pertama begini, istri kedua begitu


Istri sah seperti ini, pelakor seperti itu


Rei mulai ikut nimbrung dengan pembicaraan itu.


"Kamu tahu?"


"Hanya sedikit. Aku belajar banyak dari Freya, loh."


"Freya?"

__ADS_1


"Iya. Dulu setiap hari pasti ada saja yang dia bahas tentang bisnis. Sampai pusing aku mendengarnya." Rei tertawa pelan mengingat dulu.


"Mau enggak mau kan aku jadi sedikit mengerti. Dulu dia sering memaksa aku memantau harga saham, melihat kurva, menganalisa dan sebagainya. 'Siapa tahu saja nanti berguna, Rei!' Begitu katanya dulu."


__ADS_2