Mother

Mother
88 Lebih Memilih Merebut Mereka


__ADS_3

Selama beberapa hari itu Marva mendiamkan Viola. Bicara hanya seperlunya saja. Dia akan tidur di kamar si kembar atau kamar yang dulu Rei tempati.


Kesempatan itu juga Marva gunakan untuk mengajak anak-anaknya pergi dengan bebas, bertiga saja. Entah ke taman bermain, pantai atau mall. Karena para dokter itu juga masih sibuk Jakarta–London.


Namun terjadi masalah, Freya yang ada di sana sedang mengalami masalah yang membuat keluarga Abraham dan Zanuar itu harus turun tangan.


Tentu saja Chiro akan ikut ke mana saja Arby pergi, dan si kembar juga tentunya minta ikut.


Cukup lama mereka ada di negara itu, dan di sana juga ada Mico yang membantu.


"Jangan banyak pikiran, kamu juga harus istirahat." Marva melihat wajah Rei yang pucat dan lelah.


"Aku mau istirahat dulu."


Rei ada di unit miliknya sendiri, karena ada keluarga Naya yang tinggal sementara waktu di tempat Freya. Rei tidur di kamarnya, sementara anak-anaknya tidur di sebelahnya.


Pagi-pagi sekali Rei bangun, menyiapkan sarapan untuk mereka, dibantu oleh Monic, Zilda dan Letta. Banyak yang mereka buat, karena orangnya juga banyak. Untung saja I I hari Minggu.


"Terus Naya bagaimana?"

__ADS_1


"Tenang saja, dia pasti menang karena tidak bersalah. Jangan terlalu kamu risaukan. Aku yakin pada Naya."


Semua orang berkumpul di ruang keluarga, menikmati sarapan mereka dengan santai tanpa harus duduk kaku di ruang makan. Ada yang sambil nonton TV, main ponsel, atau baca buku.


"Rain senang di sini."


"Kenapa?"


"Karena Rain bosan kalau harus duduk di ruang makan terus, sama seperti di mansion eyang."


Gadis kecil itu makan sambil menggambar. Dia makan dengan rapih, tidak ada yang berantakan. Begitu juga dengan Radhi yang makan sambil nonton.


"Kami sudah masak, kalian yang cuci piring."


"Kapan kalian akan pulang?"


"Belum tahu."


"Kenapa tidak pulang sekarang saja? Masalah Freya itu kan bukan urusan kamu. Dia juga masih punya keluarga yang akan membantu dia."

__ADS_1


"Jangan mulai lagi, Vi. Bagaimana pun juga, Freya itu mommy-nya Chiro, berarti keluarga kita juga."


"Tapi dia juga sudah berpisah dengan Erlangga."


"Jangan begitu, apa kamu tidak punya rasa empati sedikit saja?"


"Tentu saja aku juga kasihan dengan dia, tapi aku tidak mau kalian lama-lama di sana karena di sana ada perempuan itu."


Tuh kan, benar. Pasti dilanda cemburu.


"Jangan mulai lagi deh, Vi. Aku dan Rei tidak ada hubungan apa-apa, yang mengikat kami hanya si kembar. Itu pun mereka tidak tahu kalau Rei ibu kandung mereka."


"Aku tahu."


"Kalau sudah tahu, ya sudah diam saja."


Marva langsung mematikan ponselnya, tidak ingin dihubungi oleh siapa pun yang bisa merusak moodnya.


Saat dia berbalik, ada Rei di belakangnya.

__ADS_1


"Rei, aku ... biar aku jelaskan."


"Tidak perlu menjelaskan apa-apa. Kita memang tidak ada hubungan apa-apa kan. Justru aku senang kamu menjelaskannya kepada istri kamu itu. Aku tidak mau dia terus-menerus salah paham dan berpikir kalau aku mau merebut kamu. Kalau memang ada yang akan aku rebut, aku pasti lebih memilih merebut anak-anak aku, yang lebih jelas status mereka dalam kehidupan aku. Bukan kamu, yang buka siapa-siapa aku, selain ayah dari anak-anak aku."


__ADS_2