Mother

Mother
178 Hasutan Arby


__ADS_3

Yang masih nyimpan cerita ini di favorit, selamat ... kamu pembaca yang kuat dan tahan banting 🤭


Lanjut ya, kita masuk ke season 2, di judul yang sama saja.


Happy reading


.


.


.


Hati Marva terasa remuk. Remuk seremuk-remuknya. Dia kembali ke apartemen, dengan langkah gontai dan seperti tidak bernyawa.


Hari semakin berlalu, Marva kini menjadi pria yang dingin. Jika biasanya pria kalem itu sering muncul di hadapan Arby dan yang lain, kini dia hanya di apartemen saja. Bahkan pekerjaan kantornya dia lakukan di apartemen.


"Patah hati memang membuat kita ingin mati. Kalau kamu tidak kuat, kenapa tidak memilih kematian saja?" tanya Arby.


"Arby!" seru Ikmal.


Mereka datang ke tempat Marva, karena ingin melihat saudaranya itu.


"Aku juga dulu seperti itu. Bahkan masalah yang aku hadapi, lebih berat dari kamu. Tapi aku tetap bertahan. Aku memiliki Chiro, yang akan selalu menguatkan aku."

__ADS_1


Mereka terdiam. Benar, bahkan masalah yang Arby hadapi dulu lebih berat dari Marva. Dan masalah itu datang dari Arby dan Freya sendiri. Mereka kembali teringat masa-masa kelam itu. Dari hari H pernikahan Freya-Arby, masalah itu sudah datang.


Sejarah terkelam dari keluarga Zanuar dan Abraham, yang tidak mungkin mereka lupakan.


"Bahkan setelah Freya kembali, aku tidak bisa langsung bahagia begitu saja. Masalah terus saja datang kepadaku. Bahkan sampai detik ini."


Arby meneteskan air matanya, hatinya selalu terasa sakit mengingat Freya, Lagi-lagi dia harus membesarkan Chiro sendiri saja, tanpa Freya.


"Aku tidak menyuruh kamu untuk menyerah atau melupakan Rei. Kalau memang kamu sangat mencintai dia, ya kejar dong. Meskipun dia menikah dengan orang main, ya rebut saja dari suaminya!"


"Arby!" Ikmal kembali menggeram kesal, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Arby yang sedang bersedih ini.


"Paling kamu hanya disumpahi orang, didoakan tidak bahagia dan mati kelindes truk!"


"Apa kun yang kamu pilih, resiko kamu tanggung sendiri. Sama seperti aku. Aku lebih memilih tetap mengejar Freya. Meskipun ditolak, aku tetap maju. Peduli setan dengan omongan orang yang mengatakan aku oria tidak punya harga diri, sudah ditolak masih saja mengejar. Hidup, hidup aku. Aku yang menjalani, bukan mereka. Waktu mommy menjodohkan aku dengan Jasmine, memangnya aku peduli? Mau Jasmine tersinggung, kek. Mau patah hati, kek. Kalau sabar ya terus saja bekerja denganku, kalau enggak kuat, ya sudah sana mundur jadi sekretaris aku. Bodo amat dengan hatinya, yang penting hatiku."


Entah ini hasutan baik atau buruk, mereka tidak yakin.


"Baru ditolak segitu saja sudah nyerah. Gimana kamu mau membuktikan keseriusan dan perjuangan kamu? Aku jadi Vio atau Rei juga, bakalan nolak pria model kamu. Enggak punya nyali, lemah. Gimana mau jadi kepala keluarga."


"Diam kamu brengsek, kamu tidak tahu apa-apa!"


Bugh

__ADS_1


Bugh


Bugh


Marva menghajar Arby, dan dibalas oleh Arby. Enak saja mau merusak wajah gantengnya!


"Malu tuh sama diri kamu sendiri. Aku doakan Rei dan Vio menikah dengan pria lain!"


Bugh


Bugh


Bugh


"Berhenti! Kalian ini kenapa, sih?"


"Sudah Ar, kamu ini kenapa menyulut api?"


"Malas aku, punya saudara begonya minta ampun! Jadi sahabatnya pun aku enggak sudi."


"Sudah Ar, kamu enggak kasihan pada Radhi dan Raine, nanti mereka sedih melihat ayahnya seperti ini."


"Biarin! Nanti juga mereka punya papa baru, dokter Agam, mungkin!"

__ADS_1


__ADS_2