
Rei melamun, dia teringat satu tahun yang lalu. Saat itu Rei juga sedang melamun di depan balkon apartemen.
Flashback on
Rei memikirkan banyak hal. Tentang Freya, juga tentang anak-anaknya. Banyak hal yang dia tidak tahu tentang gadis itu. Rei ingin bertanya, tapi takut. Dia tidak ingin bersikap seolah mencamluri urusan adik kelas yang kini menjadi sahabatnya, juga yang selalu menolongnya.
Rei juga teringat dengan anak-anaknya. Bagaimana keadaan mereka? Rei menangis di keheningan malam.
Keesokan paginya, Rei sudah berkumpul di ruang makan bersama Naya, Letta, Monic dan Zilda.
Naya menatap Rei, menghela nafas sesaat lalu memulai pembicaraan dengan Rei.
"Rei?"
"Ya?"
"Sebenarnya, masalah apa yang kamu hadapi?"
"Apa? Tidak ada."
"Jangan bohong! Apa yang kamu tutupi dari kami?"
"Itu hanya perasaan kamu saja."
"Kenapa kamu malah menjadi dokter? Bukankah kamu seharusnya menjadi arsitek? Belum terlambat untuk kembali ke tujuan awal, mumpung semuanya belum terlankur basah ...."
"Tidak, aku baik-baik saja ...."
Zilda, Monic dan Letta hanya diam mendengarkan, karena mereka juga tidak tahu tentang Rei sebelumnya.
"Kalau kamu baik-baik saja, lalu kenapa setiap malam kamu menangis?"
Rei tersentak mendengar perkataan Naya. Apa selama ini mereka tahu kalau dia selalu menanhis diam-diam saat malam?
"Aku ... aku hanya merindukan nenek ...."
Naya menghela nafas berat.
"Rei ... aku bukan orang yang mudah dibohongi. Tapi kalau memang kamu tidak mau bercerita pada kami, ya sudah. Kami memang bukan siapa-siapa kamu, kamu juga pasti tidak percaya pada kami."
Naya tidak ingin memaksa, jika memang Rei mau cerita, nanti juga pasti cerita. Naya berdiri ....
"Aku ... memikirkan anak-anakku ...."
Naya, Monic, Letta dan Zilda saling pandang.
Anak?
Apa mereka salah dengar?
"Anak?"
__ADS_1
"Di mana mereka sekarang?"
"Kamu sudah punya anak?"
"Kamu kan masih sangat muda?" tanya Zilda
Naya langsung melihat Zilda. Zilda langsung cengar-cengir, paham akan arti tatapan Naya. Jika Rei terlalu muda untuk memiliki anak, lalu bagaimana dengan Naya yang lebih muda lagi umurnya?
"Kamu ... kamu diperkosa?" tanya Naya.
"Tidak. Aku ...."
Naya kembali duduk.
"Coba cerita, siapa tahu saja kami bisa membantu."
Ada keraguan dalam diri Rei. Bukan karena tidak percaya atau malu, tapi dia sudah menandatangani surat perjanjian kalau tidak akan menceritakan pada siapa pun?
"Jangan takut, ceritakan saja. Aku akan menjagamu dengan baik." Naya mengusap punggung tangan Rei, berusaha mencoba menenangkan gadis itu.
"Aku, aku sudah menikah saat masih kelas tiga, tapi hanya menikah agama saja. Saat itu, nenek sedang sakit keras, membutuhkan biaya perawatan yang sangat banyak, nenek juga jatuh di kamar mandi. Aku ... saat itu aku ingin menceritakan semuanya padamu, Naya. Tapi kamu tidak pernah lagi sekolah, juga tidak pernah datang ke kontrakan ...."
Naya, Monic, Zilda dan Letta saling pandang, tentu saja mereka tahu alasan Naya, Zilda dan Letta todak sekolah, hanya ada monic saja.
"Lalu, seorang pria tua menawarkan bantuan untukku, dengan syarat ...." Rei menghela nafas berat.
"Jangan-jangan kamu dinikahi pria tua itu?" tanya Zilda.
Naya mengepalkan tangannya, dia benci dengan orang yang memanfaatkan Rei.
"Aku hamil, dan melahirkan bayi kembar ...."
"Apa?" teriak mereka heboh.
"Mereka laki-laki dan perempuan ... namanya Radhi dan Raine ... tapi, aku meninggalkan mereka di sana. Aku pergi bukan karena tidak sayang. Aku ingin pergi sebelum diusir, setidaknya aku pergi dengan membawa harga diri yang tersisa. Aku juga tidak membawa apa-apa yang sudah diberikan atau yang pernah mereka janjikan, karena aku tidak mau menjual anakku."
Rei terus menceritakan semuanya, tentang penyesalannya, kesedihannya, perjuangannya.
"Siapa dia?"
"Maksudnya?"
"Mantan suami sintingmu itu?" ucap Naya.
"Marva."
"Marva? Seperti pernah dengar ... nama keluarganya?" tanya Naya.
"Arthuro."
"Tuh kan, kayanya familiar ...," ucap Naya kembali, sambil berpikir.
__ADS_1
Brak!
Rei, Monic, Zilda, dan Letta tersentak mendengar suara dobrakan meja yang keras.
"Dasar keluarga si alan!"
"Keluarga mereka memang tidak ada yang beres!"
"Kamu kenal, Nay?"
"Hm, aku tahu mereka."
"Kamu kenal?" tanya Rei lagi. Apa dugaan dia selama ini benar? Jangan-jangan Naya jiga mantan istri Marva yang gagal memberikan keturunan. Rei langsung menutup mulutnya.
"Jangan-jangan ... jangan-jangan kamu juga mantan istri Marva?"
Letta, Monic dan Zilda langsung tertawa.
"Sembarangan! Sebelum mereka memanfaatkan aku, aku yang akan lebih dulu menghancurkan mereka."
Rei tidak mengerti, jadi dia diam saja.
"Kamu tahu, Marca itu sepupu Arby."
"Arby?"
"Iya, Arby yang sok ganteng dan sok tenar itu ...."
Selain Naya dan Rei, yang lain menahan senyum.
"Arby teman sekelasku?"
"Memangnya ada Arby lain?"
"Ngomong-ngomong ... berarti si kembar jadi saudaranya Chiro, ya?"
"Chiro? Siapa Chiro?"
Naya menghela nafas.
"Anakku!"
"Apa?"
.
.
.
Yang masih punya Vote, bisa kasih ke aku, ya😊😊😊
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak