Mother

Mother
43 Pembicaraan Frans Dan Carles


__ADS_3

Aku ingin kabur membawa anak-anakku. Aku tidak rela jika mereka merebut anak-anakku. Hanya anak kembarku yang aku miliki.


Rei terus bergumam dalam hati, tangannya menyentuh perutnya yang sejak tadi terus bergerak karena tendangan aktif dari si kembar.


Marva melihat kegelisahan Rei.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Aku hanya memikirkan saat melahirkan nanti, dan teringat akan orang tuaku."


Rei mencoba menutupi kegelisahannya. Dia tidak ingin ada yang tahu niatnya yang ingin kabur. Dia dilanda dilema. Satu sisi dia sangat ingin melarikan diri membawa kedua anaknya, satu sisi lagi dia juga merasa cemas akan banyak hal.


Mana ada orang tua yang ingin berpisah dengan anaknya, terutama seorang ibu. Saat masih di dalam kandungan, seorang ibu harus menjaga diri, baik hati dan fisiknya agar tidak berpengaruh ke janinnya. Rela mengalami berbagai jenis ngidam dan hal baru yang sebelumnya tidak pernah dirasakan.


Tinggal dua bulan lagi waktu yang tersisa sebelum dia melahirkan.


Ya Allah, berikan keajaiban. Biarkan aku tetap bersama mereka selamanya. Tidak masalah jika aku harus tinggal di rumah ini sebagai pembantu atau baby sitter mereka.


Hanya sebagai pembantu atau baby sitter yang ada dalam pikiran Rei. Memangnya apa lagi? Tetap menjadi istri kedua Marva? Jelas tidak mungkin, karena banyak yang akan menentangnya.


Jangan rebut anak-anakku.


Rei mulai terisak. Dipeluknya baju-baju bayi yang dibeli oleh Marva. Mainan-mainan dan perlengkapan bayi lainnya.


Dia teringat Marva yang sangat antusias dengan anak-anaknya. Membawakan banyak makanan setiap kali pulang kerja. Mengusap perutnya dan membisikkan kata sayang di perut itu. Marva memang tidak pernah mengatakan sayang, apalagi cinta kepadanya, namun hanya dengan menyayangi bayi kembarnya saja sudah membuat Rei senang. Hanya sesederhana itu untuk membuatnya bahagia, karena lagi-lagi dia cukup sadar diri apa kedudukannya.


"Awww ...," ringis Rei.

__ADS_1


Marva membuka pintu, dan lagi-lagi melihat Rei yang terlihat kesakitan.


"Kamu kenapa?"


"Kak, boleh aku meminta sesuatu pada Kak Marva?"


Marva melihat wajah Rei yang terlihat sangat memohon.


"Apa, kamu mau makan sesuatu?"


"Bukan makanan, Kak."


"Terus apa?"


"Boleh aku yang memberikan nama untuk anak-anakku?"


Anak-anakku? Dia bilang anak-anaknya?


Tidak sadarkah Marva, bahwa dia juga selalu mengatakan hal yang sama ... anak-anaknya, seolah Rei bukanlah ibunya.


"Tolong, Kak ... anggap saja ini permintaan terakhirku."


"Ya, kamu boleh memberikan nama pada mereka."


Entah kenapa Marva merasa tidak nyaman, seolah kebersamaan mereka tidak akan lama lagi.


"Terima kasih, aku akan memberikan nama mereka ...."

__ADS_1


🌺🌺🌺


Beberapa hari ini kondisi Rei kembali drop. Marva selalu berusaha membuat suasana hati Rei senang, tapi bagaimana bisa dia benar-benar membuat Rei bahagia, tahu isi hati Rei saja, tidak. Beberapa hari ini juga Rei harus bedrest.


Aku akan membawa anak-anakku.


Perlahan Rei melangkah ke luar kamar. Dia melirik kiri kanan, takut ada yang melihatnya. Rasanya Rei sangat tegang, dan itu membuat perutnya semakin keram.


"Jadi, apa rencana ayah dengan Rei, setelah dia melahirkan?"


"Bukankah janji harus ditepati?"


"Ayah akan memisahkan Rei dengan cicit-cicit ayah?"


"Menurutmu?"


"Selama ini ayah selalu menepati perkataan ayah."


"Itu, kamu sudah tahu."


Rei mengusap air matanya saat mendengar pembicaraan Frans dengan Carles.


Niatnya untuk kabur dengan anak-anaknya sudah semakin bulat. Dia berjalan pelan-pelan. Dia merasa seperti pencuri yang merampok rumah orang kaya. Dia memang perampok, lebih tepatnya mengambil anak kandungnya sendiri yang masih ada dalam perutnya.


Ya Allah, mudahkanlah jalanku ....


Dah, segini dulu, biar pada penasaran, wkwkwkkk😄😄😄

__ADS_1


Berhasil apa enggak itu kaburrr?😂


__ADS_2