Mother

Mother
161 Diam Kalian!


__ADS_3

Melihat Arby dan Chiro yang suap-suapan seperti itu, membuat hati mereka terenyuh.


"Makan, Nun!" perintah Ikmal pada Monic. Monic menggeleng.


"Makan, kalau enggak aku cium, nih." Monic diam saja, dia tahu itu hanya ancaman kosong. Dia dan Ikmal hanya bersahabat, tidak pernah ada konflik cinta di antara mereka.


Jika keadaan tidak seperti ini, pasti Ikmal dan Monic sudah diledek oleh yang lain.


Ikmal menghela nafas. Dia salah memberikan ancaman, mana mungkin juga Nina bakalan takut dengan ancaman seperti itu darinya, pikirnya. Lain lagi jika itu Zilda atau Letta yang diancam oleh Marcell dan Vian.


"Makan, kamu kalau memang sayang pada Freya, harus makan. Ayo, aku suapin."


"Aku makan sendiri saja."


Sendok yang dipegang oleh Monic terjatuh, karena tangannya yang gemetaran, membuat makanan itu berantakan di lantai. Ikmal menghela nafas, bukan karena makanan yang tumpah, tapi melihat keadaan Monic. Pegang sendok saja tidak sanggup, bagaimana mau makan sendiri?


Ikmal lalu mengambil sendok yang baru, lalu menyuapi Monic.


"Kamu juga makan!" Sama seperti Arby dan Chiro, mereka lalu suap-suapan dengan sendok dan piring yang sama. Orang tua Ikmal yang melihat itu memicingkan matanya. Melihat kedekatan antara Ikmal dan Monic.

__ADS_1


Agam dan Marva masing-masing duduk di kanan dan kiri Rei. Dengan Agam yang mengusap lembut kepala Rei, dan Marva yang menggenggam tangan Rei.


Tidak ada waktu untuk cemburu. Dan tidak pantas untuk memprotes di saat seperti ini.


Marva tidak mau protes pada Rei dan cemburu pada Agam.


Vio tidak mau protes pada Marva dan cemburu pada Rei.


Rei sendiri tidak sadar apa-apa. Tatapannya terlihat kosong. Pikirannya hanya berputar pada Freya dan neneknya. Kembali pada Freya lalu neneknya. Hanya di situ-situ saja.


Perdebatan, atau canda tawa yang biasanya terjadi saat mereka semua berkumpul seperti ini, sirna begitu saja.


Tidak ada candaan antar sahabat dan saudara.


Karena saat ini mereka merasakan duka yang sama.


Agam kembali memikirkan apa yang Freya katakan padanya. Lalu dia melirik Rei, Marva, Vio, keluarga Arthuro, si kembar, dan yang lain.


Mulai saat ini, aku titipkan Rei padamu. Hanya kamu yang bisa menjaganya dengan baik.

__ADS_1


Menjaga di sini tentu saja bukan hanya menjaga, kan? Dan Freya sengaja mengatakan itu dengan lantang di hadapan yang lain, berbeda dengan apa yang dibisikkan Freya padanya.


Agam lalu mengusap dengan lembut punggung Rei, lalu berkata pelan padanya.


"Rei, Freya menitipkan kamu padaku, aku akan menjagamu dengan baik. Lebih baik lagi dari sekarang." Memang dikatakan dengan sangat pelan, tapi karena ruangan itu sangat hening, masih bisa di dengar oleh yang lain, yang duduknya saling merapat.


"Tidak perlu, aku yang akan menjaganya dengan lebih baik dari pada siapa pun," bantah Marva.


"Diam kalian! Urusi kisah cinta kalian di luar sana!" bentak Arby.


Mereka diam.


Mereka yang ada di kafe itu kembali teringat pada perkataan Freya yang menitipkan Rei pada dokter Agam.


Bukankah itu berarti Freya mendukung Rei bersama dengan dokter Agam?


Tapi bukankah Freya juga mengatakan tidak akan memihak pada siapa pun?


Frans menatap Rei dan dokter Agam bergantian. Matanya memicing melihat Agam dan Rei. Begitu juga dengan Carles dan Delia yang melihat keduanya dengan intens.

__ADS_1


__ADS_2