
"Daddy, kenapa Daddy lama sekali? Ayo kita ir tempat mommy!"
Chiro masuk ke ruangan Marva dengan membawa sebuket bunga berukuran sangat besar, bahkan bunga itu sulit untuk dipeluk oleh Chiro.
Wajah Chiro berubah sendu.
"Apa Daddy sudah bosan mengunjungi mommy?"
"Jangan bicara seperti itu Chiro. Daddy tidak akan pernah bosan mengunjungi mommy."
Arby memeluk tubuh anaknya itu. Dia jadi merasa bersalah dengan Chiro, yang sudah menunggunya sejak tadi. Karena mengurusi Marva, waktu Arby yang biasanya dia habiskan bersama Chiro dan memikirkan Freya, jadi teralihkan.
Awas saja kalau setelah menikah, kalian masih saja menyusahkan yang lain, aku tidak akan membantu apa-apa lagi! Aku membantu kalian demi Freya, bukan demi kalian. Ini aku lakukan karena tidak mau apa yang sudah Freya lakukan sebelumnya jadi sia-sia.
Arby dan Chiro keluar dari ruangan Marva. Mereka hanya bisa melihat itu dengan tatapan nanar. Merasa iba dengan ayah dan anak yang selalu diliputi dengan kesedihan itu. Kapan mereka akan bahagia?
Kebahagiaan mereka hanya ada pada Freya.
Mereka diam, cukup lama, sampai akhirnya pintu dibuka dengan kasar.
"Dia kembali, dia kembali!"
__ADS_1
"Siapa?"
"Freya!"
Tanpa ba bi bu, mereka langsung berlari ke luar, terutama sahabat-sahabat Freya, termasuk Rei yang meninggalkan Marva begitu saja.
Hampir saja Marva membocorkan rahasianya sendiri, dengan ikut berlari dalam keadaan diperban sana-sini. Seorang perawat membantu Marva duduk di kursi roda.
Mereka sudah berkumpul di ruangan Freya, menunggu penjelasan dokter.
"Dia sudah sadar, syukurlah. Tapi kita tetap harus melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah ada efek samping dari operasi itu atau tidak."
Mereka menunggu dengan tegang. Hingga waktu berlalu beberapa saat.
Arby terhuyung ke belakang, untung saja ditahan oleh Ikmal. Chiro meneteskan air matanya. Ikmal dan Monic saling menatap dalam dan bercucuran air mata.
Terjadi lagi! Batin mereka.
Rei manahan isak tangisnya.
"Dia melupakan aku, dia melupakan aku. Dia tidak ingat aku sama sekali!" ucap Rei tersedu. Dilupakan oleh sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri ternyata rasanya sangat sakit menyakitkan.
__ADS_1
"Dia benar-benar tidak mengingat aku sedikit pun."
Wajah perempuan yang terbaring lemah itu terlihat bingung. Chiro langsung memeluk tubuh Freya dengan hati-hati. Arby berusaha menetralkan deru nafasnya yang terasa sesak.
Berbulan-bulan menunggu dalam kecemasan, ketakutan dan kesedihan, akhirnya terbangun dalam keadaan seperti ini.
Siapa yang tidak sedih?
Aku tetap harus bersyukur, setidaknya kekasih hatiku ini sudah membuka mata indahnya lagi.
Freya melihat mereka satu persatu, lalu tersenyum.
Senyum pertama yang menyejukkan hati dan juga menyesakkan sekaligus.
Rei merasa sedih yang sangat besar, lalu bagaimana dengan mereka yang sudah lebih dulu menjadi sahabat Freya?
Bagaimana dengan keluarga kandungnya, yang harus melihat cucu, anak, dan saudara mereka seperti ini?
Dan bagaimana dengan Arby dan Chiro, yang setiap hari selalu tidur di rumah sakit tanpa absen satu hari pun? Menjadikan rumah sakit ini seperti rumah mereka sendiri. Makan, mandi, tidur, bekerja dan belajar di ruangan tunggu Freya tanpa rasa lelah apalagi bosan, demi bisa bersama seseorang yang paling mereka sayangi di lubuk hati terdalam.
Rasanya sangat sakit, dilupakan dan tidak diingat sedikit pun.
__ADS_1
Mommy melupakan Ecan!