
Saat Marva tidur, Vio membuka ponsel milik Marva. Dia ingin tahu apa selama ini suaminya itu berkomunikasi dengan mantan istrinya.
Tidak ada panggilan telepon atau video yang mencurigakan.
Tidak ada ada pesan masuk atau keluar.
Tidak ada foto-foto Rei.
Vio menghela nafas, meski ada kemungkinan kalau Marva bisa saja membersihkan jejak yang ada.
Hati Vio selalu saja diliputi resah dan curiga sejak kehadiran Rei kembali di hidup mereka.
Sebelumnya semuanya baik-baik saja. Aku tidak pernah ketakutan seperti ini. Aku tidak mau kehilangan kamu, Marva. Tolong apa pun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku.
Wajar!
Istri mana yang tidak cemas suaminya direbut oleh perempuan lain, yang lebih muda dan memberikan dua anak sekaligus. Anak-anak itu adalah pengikat Marva dan Rei, suka tidak suka, tapi itu kenyataan.
Saat sudah dewasa nanti, akan ada pertanyaan:
Kenapa Radhi tidak mirip ayah dan mama?
Kenapa Radhi mirip dokter Rei?
Sejak lahir, dan sampai sekarang, wajah anak itu semakin mirip dengan ibu kandungnya.
Orang bodoh mana yang bisa dibohongi kalau Radhi dan Rei tidak memiliki hubungan ala-apa?
__ADS_1
*Kenapa kamu harus kembali? Kenapa?
🍀🍀🍀🍀*
"Kalian di sana ke mana saja?" tanya Vio pada Radhi dan Raine.
"Jalan-jalan bersama Chiro dan para uncle juga ayah kalau mereka sudah selsai bekerja."
"Para uncle?"
"Iya. Ada uncle Ikmal, Marcell, Vian."
"Ketemu dengan tante dokter, gak?"
"Ketemu, sama dokter-dokter cantik. Tapi tidak lama. Kan dokter-dokter cantik sibuk menyembuhkan orang, Mama. Chiro juga suka sedih menunggu mommynya pulang. Jadi kami selalu diajak main ke taman."
"Enggak bilang apa-apa. Cuma bilang jadi anak baik ya, jadi anak soleh dan soleha, ya."
"Itu saja?"
"Iya, itu saja."
Vio menghela nafas lega. Dia sangat takut kalau Rei mengatakan pada Radhi dan Raine kalau dia adalah ibu kandung mereka.
"Mama, kami mau makan nasi goreng."
"Ya sudah, nanti mama bilang sama koki dulu."
__ADS_1
"Tapi kenapa Mama tidak membuatkan untuk kami?"
"Oke, mama buatkan untuk kalian pangeran dan putri cantik mama. Kalian tunggu di sini, ya."
Setelah Vio selesai memasak, si kembar langsung memakan masakan Vio. Mereka makan sambil berpikir, kalau masakan dokter Rei lebih enak, tapi tidak mengatakan apa-apa karena tidak mau membuat mama mereka sedih.
Ngomong-ngomong, kenapa mereka jadi merindukan dokter Rei, juga tante-tante dokter yang cantik dan baik-baik itu?
Radhi dan Raine bertatapan, saling memahami pikiran dan perasaan masing-masing.
Radhi dan Raine kembali ke kamar mereka dan langsung menutup pintu. Mereka mengambil ponsel dan mengetik pesan.
[Dokter cantik, kami mau bobo siang dulu ya.]
Satu hal yang Vio lupa, lupa memeriksa ponsel si kembar. Tapi kalau pun memeriksa, si kembar juga sudah menghapus semuanya.
Mereka teringat perkataan eyang, kakek, nenek, ayah, mama dan semua keluarga mereka, kalau jangan dekat dengan orang asing.
Tapi masalahnya, mereka suka pada Rei, dan ada perasaan sayang.
"Buaya itu kan mommynya Chiro. Berarti bukan orang asing. Dokter-dokter cantik itu juga saudaranya buaya, kan? Jadi mereka juga bukan orang asing."
"Iya. Tapi kita diam-diam saja. Jangan sampai ada yang tahu, termasuk ayah. Nanti ayah cerita pada mama terus kita dimarahi. Mama sepertinya tidak suka pada dokter-dokter cantik itu."
"Besok kita cerita pada Chiro, dan meminta Chiro selalu mengajak kita saat akan ke luar negeri, siapa tahu saja nanti kita ketemu sama para aunty dokter."
"Ayo tidur nanti ada yang datang."
__ADS_1