Mother

Mother
49 Doa Yang Tidak Akan Pernah Putus


__ADS_3

Pintu terbuka, Marva menghela nafas saat pembicaraannya dengan Rei terpaksa terhenti. Frans masuk ke dalam dengan wajah tenangnya.


Kali ini jantung Rei semakin berdetak tidak beraturan. Dia meremas tangannya yang kini keringat dingin dan gemetaran.


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik, Tuan."


Rei terlihat tenang, meski batinnya tertekan. Hidup yang penuh liku selama ini telah banyak mengajarkan dia untuk menutupi perasaannya dan tetap terlihat tenang.


"Kata dokter, tidak lama lagi kamu sudah bisa ke luar dari rumah sakit."


"Saya harap seperti itu."


"Terima kasih ...."


Rei menatap Frans yang menggantung ucapannya.


"Terima kasih karena sudah memberikan aku sepasang cicit sekaligus ...."


Rei hanya mengangguk, dia sendiri bingung ingin berkomentar apa. Ingin sekali dia mengatakan jangan pisahkan aku dengan anak-anakku, tapi perjanjian telah ditandatangani dengan matrei dan sah secara hukum. Salah-salah bisa dia yang dituntut. Jika dia dipenjara, tetap saja keluarga Arthuro yang akan mendapatkan anak-anaknya, dan dia tetap tidak mendapat apa-apa selain reputasi sebagai narapidana.


"Kalau begitu saya pergi dulu."

__ADS_1


"Ya, terima kasih Tuan, atas kunjungan Anda."


Marva dan Frans menatap perempuan muda di hadapan mereka yang terlihat tenang tanpa emosi. Tidak ada gurat kekhawatiran di wajah Rei yang mungkin takut dengan isi perjanjian itu. Membuat pikiran mereka bertanya-tanya, apa yang ada dalam pikiran perempuan yang baru saja memberikan keluarga Arthuro keturunan.


Tidak ada yang tahu, bahwa dalam hati Rei terisak pilu, hanya dengan membayangkan dirinya akan dipisahkan dengan anak kembarnya saja, sudah membuat dia gundah. Mereka adalah keluarga Rei, darah dagingnya. Dia menyesalkan kegagalannya yang ingin kabur saat itu. Jika saja dia tidak terlalu panik yang membuat dia akhirnya kontraksi dini, mungkin saja dia sudah pergi dengan status sebagai buronan.


Rei tidak tahu apa yang terbaik, berhasil kabur saat itu, atau saat ini ... yang lahir prematur dan tinggal menunggu waktu untuk berpisah.


"Rei ...."


"Kak, aku lelah. Aku ingin istirahat dulu."


Rei berusaha menghindari pembicaraan dengan Marva, tidak ingin membuat dirinya kembali tertekan. Tidak bisakah mereka menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan kontrak itu? Apalagi dirinya kini masih di rumah sakit. Marva menghela nafas, membiarkan perempuan yang masih berstatus istrinya itu tidur.


🌺🌺🌺


Perawat itu diam, dalam hati bertanya-tanya, memangnya kenapa kalau seorang ibu memberikan ASI untuk anaknya? Bukankah itu malah bagus, kan yang diberikan ASI, bukan racun. Perawat itu akhirnya mengangguk. Rei buru-buru memberikan ASI untuk si kembar.


"Apa saya bisa minta tolong?"


"Ya?"


"Apa ada botol susu kosong? Saya ingin memerah ASI saya untuk si kembar kalau nanti mereka ingin menyusu ... tapi ... sekali lagi, tolong jangan beri tahu siapa pun!"

__ADS_1


"Botol susu?"


"Kamu ingin memberikan ASI kepada anak-anakmu?"


Deg


Rei melihat dokter yang selama ini menjadi dokter kandungannya, yang dia tahu masih kerabat Arthuro.


"I ... iya ...."


Dokter itu tersenyum melihat wajah ketakutan Rei.


"Berikan botol susu padanya!"


Perawat itu mengangguk, lalu langsung mengambil botol yang dibutuhkan.


"Jangan takut, saya ini dokter, bukan penjahat yang akan menghalangi seorang ibu memenuhi kewajiban kepada anaknya."


Sang dokter tersenyum sambil menepuk pelan pundak Rei. Rei bernafas lega. Perawat datang membawa beberapa botol.


Dokter segera keluar dan Rei langsung memerah ASI yang dibantu oleh perawat.


"Ini ... terima kasih banyak atas bantuannya."

__ADS_1


"Iya, sama-sama."


Rei bernafas lega, sebisa mungkin dia ingin memberikan ASI sebanyak mungkin. Mungkin ini satu-satunya hal yang bisa dia lakukan untuk anak-anaknya, selain doa yang tidak akan pernah putus seumur hidupnya.


__ADS_2