Mother

Mother
158 Tahun Baru Duka


__ADS_3

Ponsel Monic kembali berbunyi.


"Mungkin itu Freya," ucap mereka serempak.


"Arby," jawab Monic.


"Gimana?" tanya Monic langsung.


Perempuan itu langsung terisak pilu. Suara tangisnya menyayat hati. Tidak perlu ada yang bertanya, itu sudah pasti pertanda yang tidak baik.


"Ayo kita ke rumah sakit."


Letta yang kini mengambil tugas menyetir. Meskipun dia sendiri sudah gemetaran. Waktu dan jarak terasa lama dan jauh di saat mereka sedang terburu-buru seperti ini.


Mereka tiba di rumah sakit, dan sudah melihat tim cowok di sana. Tidak lama dari kedatangan mereka, keluarga Freya dan Arby juga datang. Terlihat jelas tidak ada yang peduli dengan baju apa yang mereka pakai.


Yang mereka pikirkan adalah mereka bisa sampai di rumah sakit secepat mungkin.


Penampilan mereka kacau semua. Baju kusut dan rambut berantakan.


Bukan hanya mereka, banyak polisi yang juga ada di sana.


"I ... ini sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa?"


Tidak tahu siapa yang bertanya, tapi takut untuk mendengar jawaban itu.


Tidak lama kemudian rekan dokter yang mendengar kabar juga langsung datang ke ruang UGD.


"Mobil dokter Naya terjun ke sungai, dan kami cukup kesulitan mengevakuasi dokter Naya karena sungai itu cukup tinggi dan dalam. Ditambah keadaan yang masih gelap dan aris sungai yang cukup deras ...."

__ADS_1


Salah satu polisi menunjukkan bangkai mobil yang berhasil diangkat dengan keadaan rusak parah, penyok di depan dan sampingnya. Tidak ada kaca yang tersisa di mobil itu.


Mobilnya saja seperti itu, apalagi korbannya yang hanya berupa daging dan tulang saja?


Jangan


Jangan


Jangan


Monic dan Rei saling berpelukan, begitu juga dengan Letta dan Zilda.


Tangisan tidak hanya terdengar dari perempuan, tapi juga laki-laki.


Dari yang muda juga yang tua.


Lama mereka menunggu.


Akhirnya pintu ruangan menyebalkan itu terbuka juga.


Mereka tidak ada yang mau bertanya, karena tetap saja takut yang lebih mendominasi.


"Keadaannya kritis. Berdoa sebanyak mungkin agar dia tetap bersama kita. Selain itu, banyak tulang yang patah, dan dia juga mengalami koma. Hanya keajaiban yang kita harapkan sekarang ...."


Monic dan Rei langsung pingsan. Agam langsung menahan tubuh Rei, sedangkan Marva menahan tubuh Monic karena posisi mereka yang seperti itu.


Ikmal sendiri langsung mengambil alih Chiro sebelum anak itu jatuh dari gendongan Arby.


"Freya."

__ADS_1


Mamanya Freya menyebut nama anaknya itu dengan pilu. Hati siapa yang tidak sakit mendengar berita buruk ini.


Monic dan Rei langsung dibawa ke ruangan kosong. Mereka saling membantu untuk mengatasi situasi yang sangat tidak terduga ini.


Tidak lama kemudian mereka kembali sadar, dan bersikeras untuk kembali bergabung bersama yang lain.


"Dia sudah berpesan pada kita, kan?"


"Dia bilang jangan menunggunya di apartemen, karena tidak akan kembali ke sana. Langsung saja temui dia di rumah sakit."


"Bahkan dia sudah memberikan kita cuti panjang lebih dulu."


Ya, mereka kembali ingat semua perkataan Freya yang mengisyaratkan sesuatu pada mereka.


Jangan sedih-sedih.


Always happy.


Makan yang teratur, istirahat yang cukup.


Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaan.


Nanti juga akan ada waktunya aku istirahat panjang.


Ayo kita foto bersama.


Jangan biarkan Chiro menangis terlalu lama.


Jangan rindukan aku, ya. Jangan rindukan aku, ya. Jangan rindukan aku ya ....

__ADS_1


__ADS_2