
"Malam tahun baru nanti kita ngapain?" tanya Zilda.
"Kalau kita libur, pergi ke pantai yuk, sudah lama kita enggak main ke pantai."
"Iya, ayo. Aku sudah lama enggak lihat bule dengan roti sobeknya." Seperti biasa, yang berkata seperti itu sudah pasti Zilda.
"Semoga saja jodohku bule," doanya penuh harap.
"Tapi oppa-oppa juga enggak apa."
"Semoga jodoh Nania aku, aamiin." Zilda menatap kesal pada Marcell.
"Dokter Zilda," panggil seorang perawat pada Zilda.
"Ya?"
"Tadi dicari sama dokter Agam."
Marcell mendengkus, yang namanya dokter Agam itu memang selalu membuat dia dan Marva kesal.
"Tuhan, tolong segera berikan dokter Agam jodoh selain Nania, Rei, Freya, Nuna, dan Aruna." Doanya tidak tanggung-tanggung, semuanya sekalian dia sebut, karena kalau saudaranya yang lain galau, dia juga yang pusing mendengar curhatan mereka.
Memang sih, Ikmal dan Nuna itu hanya sahabat, tapi ya lebih baik sekalian saja didoakan.
"Apa aku kualat karena sering menertawakan Arby dan Marva?"
Marcell kemudian melihat Freya.
"Freya!" panggilnya penuh semangat.
__ADS_1
"Apa? Mau konsultasi cinta? Aku ini bukan biro jodoh, tahu!"
Marcell hanya cengengesan saja.
"Suruh siapa kamu bersahabat dengan mereka."
"Suruh siapa kalian mendekati mereka?"
"Tolong dong, deketin aku sama Nania."
"Usaha sendiri."
"Sudah, tiap hari malahan."
"Kalau gagal terus, berarti dia sudah empet sama kamu."
"Tega banget kamu."
"Ya ampun, aku playboy dari mana, sih?"
"Masih enggak sadar. Baru tadi pagi kamu ngegombalin perawat, 'Ajeng, kamu cantik banget, sih. Sudah punya pacar belum?' Tuh, memangnya aku enggak tahu."
"Lah, itu kan hanya memuji dan bertanya biasa, memangnya salah?"
"Salah. Perempuan itu jangan dilambungkan hatinya dengan dipuji-puji, kalau kalian para pria tidak tertarik. Nanti kalau dia salah paham dan menganggap lebih gimana? Dulu itu juga kan yang terjadi sama kamu dan Nania."
"Tapi dulu itu kan ...."
"Iya, iya, aku juga tahu kalau dulu Nania juga salah. Nasehatku sama kamu sama saja kaya ke Marva, kalau jodoh enggak ke mana. Sekalian tuh bilang sama si Vian. Tiap hari kirim pesan terus sama aku, nanya gimana Aruna."
__ADS_1
"Kamu kan mamanya mereka."
"Sialan!"
Marcell langsung tertawa, kemudian berjalan sambil merangkul pundak Freya.
Kalau dilihat Arby bisa mampus aku.
Para dokter dan perawat yang melihat Marcell dengan santainya merangkul dokter Naya, diam saja.
Yang tidak tahu apa-apa, selain dokter-dokter senior dan beberapa orang perawat senior, kembali bergosip.
"Kita bisa kehabisan dokter ganteng di sini."
"Masih ada dokter Valdo."
"Dokter Valdo juga kelihatannya dekat dengan dokter Rei."
"Dokter Rei maruk banget ya, semua yang ganteng dia rebut."
"Hush, jangan sembarangan kalau bicara. Ingat kan dia itu siapa."
"Tahu nih, yang saat itu menyebarkan gosip tentang tuan Marva dan dokter Rei yang berciuman saja, langsung kena SP."
"Masih bagus hanya kena SP, aku kira malahan akan dipecat."
"Itu tuan Arby juga sepertinya ngejar-ngejar dokter Naya. Aku sering lihat tuan Arby ke ruangan dokter Naya."
"Cukup gosipnya. Kerja yang benar!" perintah seorang dokter senior.
__ADS_1
Dokter senior itu tentu sangat tahu siapa itu Freya. Dan dia tidak mau ada gosip yang kembali hadir di rumah sakit ini. Dia sendiri sudah pusing dengan kemauan Arby yang menyuruh banyak orang yang ada di sana untuk memata-matai kelima perempuan itu.
Kami ini kan pekerja medis, bukan mata-mata cinta mereka. Dasar anak muda!