
Mengobrol dengan mamanya Agam ternyata menyenangkan, segala kegundahan dalam hatinya terlupakan saat itu.
Kalau ibunya masih hidup, pasti dia akan seperti ini setiap hari.
Apa nanti jika Radhi dan Raine sudah dewasa, mereka juga akan seperti ini?
Mama Agam yang bernama Lily itu memandang Rei dengan lekat, terutama matanya, lalu tersenyum hangat.
"Dulu kamu kan yang buat kue enak itu. Duh, mama suka banget, loh."
"Mama mau aku buatkan kue, sekarang?"
"Loh, memangnya kamu mau?"
"Mau."
"Ayo, ayo. Duh mama senang banget, akhirnya keinginan mama bisa masak sama anak perempuan mama kesampean juga. Kenapa enggak dari dulu sih, Gam, kamu ajak Rei ke sini."
"Kan mama juga jarang ke sini."
"Iya juga, ya. Ya sudah, mulai sekarang mama akan sering main ke sini, deh."
Rei tersenyum melihat kedekatan Agam dan mamanya.
Mereka membuat kue juga makanan untuk makan siang. Rei benar-benar menikmati semua ini.
Di lain tempat
Marva tidak melihat ada Rei bersama teman-temannya.
"Rei pergi dari tadi."
__ADS_1
"Freya, aku ...."
"Ayo kita ngobrol di sana," ajak Freya pada Marva. Arby yang melihat itu mau ikut.
"Ck, jangan ganggu."
"Enggak bisa, laki-laki dan perempuan kalau berdua saja, yang ketiganya setan."
"Iya, kamu setannya."
"Ck, bukan aku, lah. Tapi Marva."
Enggak mau ambil pusing dengan perkataan Arby, akhirnya mereka duduk di balkon.
"Apa dokter Agam sama Rei pacaran?"
"Enggak."
"Tapi mereka dekat, kan?"
"Kamu mendukung dokter Agam?"
"Aku enggak mendukung siapa-siapa. Aku juga tidak akan mempengaruhi Rei dalam mengambil keputusan."
"Tapi kamu kan sahabat Rei, dia pasti bakal mendengar nasihat kamu."
"Ya ampun, aku ini kan hanya sahabatnya, bukan orang tuanya. Jadi dia tidak perlu meminta restuku untuk bersama siapa pun. Kecuali aku tahu orang itu tidak baik intinya, baru aku karang, demi kebaikan dia."
"Jadi, menurut kamu aku baik?"
"Sebenarnya kamu baik, hanya keadaan kamu saja yang tidak baik."
__ADS_1
"Kalau Vio dan Rei mau, sudah sama dua-duanya saja, daripada ribet," ucap Arby.
Freya melirik Arby, tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Coba kamu jauh dulu dari mereka berdua, juga dari keluarga kamu, agar kamu bisa berpikir dengan tenang. Jodoh tidak akan lari ke mana."
Benar, menyendiri untuk berpikir dengan tenang mungkin yang Marva butuhkan saat ini.
Malam harinya, Rei pulang dengan hati senang.
Saat dia membuka pintu, semua mata langsung tertuju matanya.
"Kamu dari mana Rei, senang banget kelihatannya?"
"Oh, aku tadi jalan sama Agam, terus bertemu mamanya," jawab Rei sambil tersenyum cerah dengan binar mata bahagia.
Mereka langsung melirik Marva.
Semua merasa kasihan juga sama Marva, kecuali Freya. Dia memang tidak akan mencampuri keputusan yang akan Rei ambil. Kalau nanti Rei jadi menderita, kan dia juga yang bersalah.
"Radhi, Raine, ini bunda bawakan kue untuk kalian. Makan sama Chiro, ya."
"Iya. Bunda dari mana, sih?"
"Oh, tadi bunda pergi sama dokter Agam."
Radhi dan Raine lalu melihat ayah mereka yang terlihat sedih. Entah kenapa mereka juga jadi ikut merasa sedih.
Apa seperti ini yang sebenarnya Chiro juga rasakan saat melihat daddynya yang sedih?
Apa seperti ini yang sebenarnya Chiro juga rasakan saat orang tuanya tidak bersama?
__ADS_1
"Ayah, Bunda, kenapa kita tidak tinggal bersama saja setiap hari?"
Deg