
Mereka masih saja berdebat soal nama anak itu, tidak ada yang mau mengalah.
"Raisuke!"
"Zayn!"
"Shinichi."
"Damian."
"Kimura."
"Arcellio."
"Kenzu."
__ADS_1
"Keviano."
Rei memijit pelipisnya, mendadak dia jadi sakit kepala.
"Bagaimana kalau namanya Raisuke Keviano saja?" Lebih baik Rei mengambil jalan tengah, daripada terus melihat dua pria yang sudah tidak muda lagi itu terus berdebat.
Mereka akhirnya setuju dengan pemilihan nama baby Rai. Baby Rai sendiri wajahnya lebih mirip ke keluarga Rei. Kulitnya putih bersih, namun kecil karena harus jalur prematur. Dan tentu saja nama keluarga dari kedua belah pihak juga digunakan, begitu juga dengan Radhi dan Raine yang namanya ditambah dengan nama keluarga Rei.
Frans sangat bahagia dengan kelahiran baby Rai. Kelahiran cicit laki-laki akan menambah penerus keturunan keluarga Arthuro.
☘️☘️☘️
Hari ini mereka berkumpul di rumah Marva. Tadinya mereka mau mengadakan syukuran atas kepulangan Rei, tapi Rei ingin mengadakan syukuran saat kepulangan baby Rai saja.
Marva memotongkan buah untuk Rei. Dia benar-benar bersyukur Rei bisa kembali berkumpul bersama mereka. Beberapa hari Rei koma, membuatnya sangat dan selalu ketakutan. Dia benar-benar takut kehilangan Rei. Bagaimana bisa dia menjalani hari-harinya dengan anak-anaknya saja, setelah banyak hal yang dia lakukan untuk bisa bersama dengan Rei lagi.
__ADS_1
Marva melihat Ikmal, Marcell, Vian dan Mico.
Dia berdoa, semoga mereka juga bisa segera bersama dengan jodoh mereka. Begitu juga dengan Arby, semoga bisa bersama dengan Freya kembali.
☘️☘️☘️
Hai ini baby Rai diizinkan pulang. Berat badannya sudah sedikit bertambah. Mereka mengadakan syukuran bersama anak yatim piatu. Marva menggendong baby Rai. Wajah tampan itu membuat Marva tersenyum.
Mengingat kondisi Rei yang melahirkan baby Rai dengan prematur dan sempat koma, membuat Marva tidak mau tambah anak lagi. Tiga anak saja sudah cukup. Tapi jika Tuhan ternyata memberikan kepercayaan kepada mereka untuk tambah anak lagi, tentu saja Marva tidak akan menyia-nyiakannya. Kebahagiaan Marva sudah lengkap. Yang ingin dia lihat setiap hari sudah ada di sisinya. Memiliki tiga orang anak, hal yang tidak pernah Marva sangka sebelumnya. Dia benar-benar bersyukur akan karunia-Nya. Merasa dia orang yang paling bahagia di dunia ini.
Masalah tentang kebohongannya, tentu saja dia akan tetap merahasiakannya. Dia takut Rei akan meninggalkannya dan membawa anak-anaknya. Tidak masalah dia dianggap pengecut. Setidaknya, Agam tahu rahasia itu.
Rahasia para lelaki di keluarga mereka.
Mungkin jika rambutnya sudah putih semua, baru dia akan mengaku.
__ADS_1
Marva mengecup pipi lembut baby Rai. Aroma bayi yang lembut sangat Marva sukai. Dia juga melihat Rei yang sedang mengobrol sambil tertawa dengan sahabat-sahabatnya. Suara tawa itu memenuhi ruangan, membuat suasana benar-benar hidup.
Marva melihat Marcell yang sering melihat ke arah Zulfa, juga Vian yang melihat ke arah Letta. Marva benar-benar berharap mereka bisa segera bersama dan menikah, agar anak-anak mereka dapat tumbuh bersama dan saling menjaga, seperti Marva dan saudara-saudaranya yang saling menjaga dan menyayangi.