Mother

Mother
104 Kegelisahan Marva


__ADS_3

Kembali ke aktifitas masing-masing, setelah dua hari menjalankan liburan.


"Kamu kenapa, sepertinya lagi banyak pikiran? Kalau ada masalah, kamu bisa menceritakannya padaku. Kita ini suami istri, jadi kamu bisa berkeluh kesah padaku."


"Aku hanya sedang banyak pekerjaan saja."


Mana mungkin aku menceritakan semua padanya.


Keesokan paginya, Marva sedang sarapan bersama keluarganya. Dilihatnya anak-anaknya, yang salah satunya sangat mirip dengan Rei.


Radhi, putra tampannya, yang setelah dewasa nanti akan menanggung banyak hal menggantikan dirinya.


Marva menghela nafas berat.


"Kamu kenapa, Va? Apa ada masalah?" tanya Delia. Sebagai ibu yang melahirkan Marva, dia merasa bahwa putranya itu tidak sedang baik-baik saja.


"Tidak, Ma. Jangan cemaskan aku. Ayo anak-anak, kita berangkat."


Sepanjang perjalanan, Marva terus berpikir. Radhi dan Raine hanya melihat ayah mereka yang terus melamun. Tidak seperti biasanya. Biasanya, ayah mereka akan mengajak mereka bicara. Bertanya bagaimana kegiatan mereka di sekolah, bertanya apakah Chiro di sekolah baik-baik saja. Apa saja akan ayahnya tanyakan.


Tapi sekarang?

__ADS_1


Ayah mereka itu hanya diam saja.


Sesampainya di sekolah anak-anak, mereka langsung turun dari mobil.


"Rain sayang pada Ayah. Sayang banget sama Ayah." Raine memeluk Marva dan mengecup kedua pipinya.


"Radhi juga sayang pada Ayah. Sangat sangat sangat sayang pada Ayah."


Mereka lalu masuk ke kelas mereka, meninggalkan Marva yang hatinya menghangat setelah mendapatkan pelukan, kecupan dan pernyataan sayang dari anak-anaknya itu.


Marva berbalik, melihat Freya, Chiro dan Arby yang mengantar Chiro ke sekolah bersama. Anak itu memeluk kedua orang tuanya, juga mencium dan mengatakan kata-kata sayang juga.


"Hai, Uncle Mava." Chiro terlihat bahagia karena diantar oleh kedua orang tuanya.


Dia kembali melihat Arby dan Freya, yang juga melihatnya.


Hubungan Arby dan Freya telah berakhir, tapi mereka masih bisa jalan bersama meski sering kali bertengkar, ditambah Arby yang terus mengganggu Freya.


Sedangkan Chiro, meski dia tidak mengenal mommynya sejak masih bayi, tapi setelah bertemu Freya dia ternyata menyayanginya.


Chiro sepertinya juga tidak keberatan jika Freya menikah dengan pria lain. Juga tidak marah kalau Arby menikah dengan perempuan lain. Jasmine misalnya, yang menjadi sekretaris Arby. Yang juga terlihat menyayangi Chiro dan mungkin akan dijodohkan oleh ibunya Arby.

__ADS_1


Marva kembali menghela nafas berat.


"Nanti siang kita makan bareng, yuk?" ajak Arby.


"Enggak bisa. Aku harus menjemput anak-anak."


"Ck, aku juga harus menjemput Chiro, kali. Memangnya kamu saja yang punya anak dan sibuk."


"Lihat bagaimana nanti saja, deh."


Freya hanya melihat Marva, tanpa mengatakan apa-apa. Perempuan itu juga sepertinya sedang banyak pikiran.


"Ya sudah, aku mau mengantar Freya dulu."


Marva juga masuk ke mobilnya, pergi ke perusahaan untuk mengerjakan pekerjaan yang terkadang baginya membosankan.


Marva duduk di atas kursi kebesarannya. Di hadapannya banyak dokumen yang menumpuk. Matanya menerawang jauh, tangan memegang pena tapi pena itu terlepas begitu saja dari tangannya. Menandakan bahwa sang pemilik sedang tidak ada di tempat. Bukan raganya, melainkan hati dan pikirannya.


Marva tersadar, lalu melihat jam di pergelangan tangannya. Masih jam sembilan kurang.


Memantapkan hati atas apa yang akan dia lakukan, dia berdiri dan meninggalkan pekerjaannya yang belum satu pun dia kerjakan sejak kedatangannya pagi tadi.

__ADS_1


__ADS_2