Mother

Mother
130 Siapa Yang Akan Menjadi Jodohnya?


__ADS_3

"Gimana? Dokter Naya hanya kelelahan saja, juga terlalu banyak pikiran. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang perawatan."


Freya segera dipindahkan ke ruang VVIP. Wajahnya terlihat pucat dan dipasang infus


Rei yang melihat itu merasa bersalah, apalagi Chiro sejak tadi juga menangis.


"Arby, maafkan aku. Gara-gara aku, kalian jadi terlibat dan repot."


Arby menghela nafas berat.


"Aku tahu Freya itu seperti apa. Dia memang setia kawan. Kalau kamu merasa tidak enak dan ingin membalas kebaikannya, kamu hanya perlu melakukan satu hal."


"Apa?"


"Berbahagialah dengan hidupmu, agar perjuangan dan pengorbanan Freya tidak sia-sia. Apa pun keputusan kamu, jangan sampai kamu menyesal. Aku tidak akan memaksa kamu agar bersama dengan Marva karena dia sepupu aku. Itu hak kamu sepenuhnya untuk memilih. Tapi kalau boleh aku menyarankan, lebih baik kamu sama Mico saja."


"Kenapa begitu, Ar?"


"Kali saja nanti kalau Mico sudah punya pasangan, dia tidak lagi mendekati Freya."


Mico mencibir, kenapa pria ini selalu menyalahkannya?


"Setiap pria yang dekat dengan Freya, selalu saja kamu cemburui, Ar!" keluh Ikmal.


Arby duduk di samping brankar Freya, dan mendekatkan wajahnya, tanpa peduli orang-orang di sekitarnya yang sudah melotot.

__ADS_1


Freya perlahan membuka matanya, dan langsung melihat wajah Arby, terutama bibirnya yang mendekat.


"Mau apa?"


"Eh, sudah bangun? Aku baru saja mau nyium kamu. akan biasanya begitu, tuan putri akan bangun setelah mendapatkan ciuman dari pangeran. Merem lagi bentaran, enggak lama kok."


Freya mendengkus, tapi karena kepalanya yang masih sedikit sakit, dia memejamkan matanya, yang tentu saja disalah artikan oleh Arby.


Cup


Freya langsung membuka matanya, dan sudah bersiap marah.


"Biar Chiro saja yang mencium mommy. Tuh lihat Daddy, mommy langsung bangun setelah Chiro cium."


Yang lain langsung tertawa, kecuali Arby yang gagal, dan yang menggagalkannya adalah anaknya sendiri.


"Maafkan aku, kamu selalu mendapatkan masalah karena membantu aku. Apalagi sekarang kamu jadi sakit."


"Bukan salah kamu."


Tidak lama kemudian, Freya kembali tidur setelah makan dan minum obat.


Satu persatu dokter membesuk Freya, karena tahu kalau dia dirawat di ruang VVIP.


Rei merasa canggung saat melihat teman-teman satu profesinya. Apalagi para dokter itu juga, meskipun tidak mengatakan apa-apa, tapi bertanya-tanya, ada hubungan apa antara mereka dengan Arby dan sepupu-sepupunya.

__ADS_1


"Halo, bagaimana keadaan kalian?" tanya Agam.


Agam melihat Rei dan tersenyum. Rei yang melihat itu ikut tersenyum. Tidak ada yang berbeda dari senyuman dokter Agam. Masih terlihat sama, hangat dan menyenangkan.


Arby melihat dokter Agam dan Rei, dan sedikit berpikir.


Dokter Agam meletakkan parsel buah yang dibelinya di atas nakas. Cukup lama dokter Agam dan para perempuan bicara, termasuk dengan Marcell yang juga ikut nimbrung.


Keesokan siangnya Freya sudah boleh pulang dan masih mendapatkan cuti tambahan.


Di apartemen, Rei memikirkan perkataan Freya, juga Arby.


Dia harus bahagia


Kebahagiaannya adalah bersama anak-anaknya.


Rei memejamkan matanya.


Bersama anak-anaknya, menjadi dokter yang baik, dan memiliki pasangan yang bisa menerima dia. Juga tidak lupa mendapat mertua dan saudara ipar yang baik, karena kalau mengingat bagaimana keluarga Arthuro, dia jadi cemas. Jangan sampai dia kembali mendapatkan mertua seperti mereka.


Dia tidak tahu siapa yang akan menjadi jodohnya.


Yang jelas, orang itu harus bisa menerima dia dan masa lalunya.


Entah dia dokter Agam?

__ADS_1


Marva?


Atau orang lain?


__ADS_2