
Masa-masa kehamilan Rei sangat dinikmati oleh keduanya. Marva akan langsung terbangun saat Rei bangun tengah malam, entah itu mau ke kamar mandi untuk buang air kecil, minum, atau mencari makanan.
Marva akan selalu membuatkan susu ibu hamil untuk Rei, memotongkan buah, atau hal lainnya. Dia benar-benar menjadi suami siaga.
Dulu, saat kehamilan pertama Rei, Marva tidak bisa melakukan banyak hal untuk Rei. Karena dia bimbang dengan keadaan, karena Vio, juga karena hal lainnya.
Kali ini, dia ingin melakukan semuanya dengan sangat baik.
"Sayang, apa ada yang kamu inginkan?"
"Enggak ada."
"Kenapa kamu selalu bilang enggak ada? Aku ini suami kamu, loh. Juga ayah dari calon anak kita. Aku ingin melakukan banyak hal untuk keluarga kecil kita."
Rei melihat wajah Marva yang terlihat sedih.
"Tapi aku memang tidak ingin apa-apa, benar. Aku juga tidak tahu kenapa, aku tidak ingin ini itu."
Marva lalu mengecup dan mengisap perut Rei.
"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu tidak mau sesuatu? Asal kamu tahu, ayah kamu ini sangat kaya loh. Ayah bisa membelikan kamu pesawat terbang, tapi mainannya."
Rei langsung tertawa geli mendengar perkataan Marva. Tadinya dia sudah mau protes kalau Marva akan bersikap berlebihan. Tentu saja Marva dan semua keluarganya ini sangat kaya, tapi bukan berarti harus berlebihan, apalagi memanjakan anak seperti itu dengan barang-barang yang belum bermanfaat untuk anak bayi.
Rei kembali tersenyum, mengingat kalau bukan hanya Marva yang antusias dan berbeda dalam kehamilan kali ini, tapi juga Frans, Delia dan Carles.
Sebentar-sebentar mereka akan bertanya, "Rei, kamu mau apa? Kamu butuh apa?"
Sangat berbeda dengan kehamilan yang sebelumnya, yang walaupun mereka yang menginginkan keturunan, tapi terlihat cuek dengan Rei.
Begitu juga dengan keluarga kandung Rei. Mereka (meskipun mereka tidak berkata dan berusaha menutupinya) terlihat sedih, dan Rei tahu itu. Bukan sedih kenapa-kenapa, tapi sedih karena saat kehamilan pertama, mereka belum bertemu.
__ADS_1
Kalau saja mereka bertemu lebih dulu, Rei tidak perlu mengorbankan dirinya untuk membiayai pengobatan sang nenek. Tidak perlu menderita lebih lama. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan kejadian itu sudah sangat lama. Ada si kembar sekarang.
Ya, mau bagaimana lagi, sudah seperti itu jalan hidupnya.
Lalu ....
Ada juga sahabat-sahabat Rei sekarang, yang juga sama antusiasnya.
Rei bahagia, sangat bahagia.
"Kamu nangis? Kenapa, ada yang sakit?" tanya Marva, karena tiba-tiba saja Rei menangis.
"Enggak, aku hanya terharu. Aku senang, karena kehamilan aku sekarang, ada banyak orang yang menyayangiku dan menjagaku. Beda banget saat hamil Radhi dan Raine dulu, aku hanya sendirian."
Marva merasa tertohok, dia memang menyesali sikapnya yang dulu. Memang dulu Marva tidak jahat, tapi juga dia sadar, tidak. maksimal dalam menjaga dan memperhatikan Rei. Yang seperti itu saja sudah dicemburui Vio. Juga saat itu, saudara-saudaranya itu menghilang secara serentak, dia jadi tidak punya teman curhat.
Keluarga mereka saat itu saling menutupi masalah keluarga masing-masing, jadi tidak tahu apa yang terjadi.
Rei melihat raut wajah Marva yang berubah.
"Enggak, kamu benar. Maafkan aku dan keluargaku, ya. Sikap kami saat itu padamu memang tidak terlalu baik. Padahal mereka yang menginginkan keturunan, tapi hanya memperhatikan kandungan kamu, dan cuek sama kamu."
.
.
.
.
Itu bonus chapter, ya. Kalau aku panjangin lagi ceritanya, nanti pada bosan😌
__ADS_1
Kalau ada yang tanya, kok namanya beda-beda nulisnya. Itu bukan typo, dan berarti kamu belum baca Akibat Pernikahan Dini dan Jarak.
Kalau ada yang merasa, ceritanya belum komplit banget, misalnya, Marcell gimana? Agam gimana? Itu beda cerita, ya. Punya judul masing-masing, kalau aku nulis nanti.
Aku mau namatin cerita ini juga enggak tega, ragu, tapi juga enggak mau para pembaca bosan😑. Tapi yang penting, tokoh utamanya udah pada bahagia, 😄
Ngomong-ngomong, karena ini hari senin, makasih buat yang mau kasih vote.
Terima kasih untuk semua yang sudah kasih like, hadiah, komen, bintang lima.
Buat yang enggak suka sama cerita ini, gak kasih like enggak apa, enggak komen positif enggak apa, enggak kasih hadiah enggak apa, TAPI kenapa ada yang kasih bintang kecil, rate-ku jadi 4.7 sebelumnya 4.9
Tolonglah jangan menjatuhkan begitu.
Ada yang komen negatif, aku diam saja.
Ada yang unfavorit, aku juga enggak apa.
Padahal komen negatif itu bisa saja dibaca sama calon pembaca, akhirnya mereka batal cerita itu, karena jadi ikut mikir jelek🥺
Rate kecil juga, mikirnya jadi jelek semua.
Cukuplah cerita JARAK yang didzolimi, sampai aku enggak semangat buat melanjutkannya (LAGI). Sudah dua kali tuh, ceritaku yang itu tersakiti, kasihan aku sama Arby. Padahal Arby dan Zion kesayangan aku.
Zion siapa?
Zion itu tokoh di Arrogant Wife
Kalau aku nulis cerita baru, baca juga ya. Nanti aku infoin di sini, jangan dihapus dari favorit.
__ADS_1
Cerita baru aku, tentang Monic dulu ya. Sebelumnya kan aku bilang mau bikin cerita yang judulnya The Lost Memories kan, ya? Tapi karena Word-ku ada yang hapus, ya enggak jadi, deh. Padahal sudah aku tulis beberapa bab.
Pokoknya, kalau aku nulis Nuna atau tiba-tiba Monic, ya berarti bukan typo, jadi sebaiknya yang belum paham, baca dulu cerita aku yang lain.