Mother

Mother
90 Merayuku?


__ADS_3

Dan di sinilah akhirnya para dokter cantik itu. Kembali ada di bandara, pulang ke negara mereka. Melanjutkan pekerjaan mulia sebagai dokter.


Flashback Off


🍂🍂🍂


Rei tahu dia tidak punya kesempatan untuk menjemput anak-anaknya pulang dari sekolah, karena ada Vio sebagai ibu mereka.


Tapi tidak apa. Anak-anaknya sehat dan masih bisa bertemu saja, dia sudah sangat bersyukur. Manusia pada dasarnya memang sering tidak merasa puas. Ingin lagi dan lagi, sudah diberi satu kesenangan, mau meminta yang lain.


Karena teman-temannya sibuk, Rei akhirnya makan siang sendiri. Dia belum punya kesempatan untuk mentraktir dokter Agam, karena dokter itu juga masih sangat sibuk.


Tangan Rei yang akan memasuki sebuah kafe tiba-tiba saja ditarik dan dibawa masuk ke dalam mobil.


"Kamu apa-apaan, sih! Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Rei dengan ketus.


Marva melihat Rei. Dulu gadis ini sangat lembut. Sebenarnya masih lembut, hanya saja kalau dengan Marva, dia jadi kesal sendiri. Memang hanya sekali itu saja Viola mendatanginya, tapi Rei sangat paham kalau apa yang ingin Vio katakan adalah agar jauh-jauh dari anak-anak dan suaminya. Dia bisa jauh dari Marva, tapi tidak dengan anak-anak.


Rei memang menepati janji untuk tidak menemui anak-anaknya. Hanya saja dia ingin melihat mereka meski dari jauh. Kalaupun mereka bertemu, Marva kah yang membawa mereka. Jadi bukan salahnya, kan?


"Ke tempat anak-anak."

__ADS_1


"Apa?"


"Ayo kita jemput anak-anak. Sebentar lagi mereka pulang sekolah."


Wajah Rei melembut, dan Marva tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Marva sendiri bingung harus bicara apa.


"Vio tidak menjemput anak-anak?"


"Tidak, dia lagi ke luar kota."


Kembali hening, hingga mereka sampai di sekolahan.


"Sekarang sudah berani terang-terangan, ya!" ucap Arby.


Marva mendelik kesal pada Arby, sedangkan Rei hanya meringis. Arby melihat Rei, tapi tidak mengatakan apa-apa. Rei yang dilihat seperti itu, tentu saja merasa tidak nyaman. Mereka memang satu sekolah, bahkan satu kelas dulu, tapi tidak pernah bertegur sapa. Arby yang terlalu cuek dengan sekitar kecuali pada gadis-gadis biang rusuh dulu.


"Jangan melihatnya seperti itu, nanti dia bisa salah paham."


"Tenang saja, aku tidak tertarik denganmu sedikit pun. Hanya bebeb Freya yang paling cantik."

__ADS_1


Rei yang tadinya tegang, langsung tertawa.


"Freya mungkin akan lembur, kamu bisa menjemputnya nanti malam."


"Cih, kamu sedang mencoba memikat hatiku, ya?"


"Memikat hatimu? Ta ... tapi aku hanya menganggap kamu teman."


"Ck, bukan itu. Kamu sedang memikat hatiku, ya, biar mendapatkan restu agar bisa bersama Marva?"


"Arby!" seru Marva.


"Tenang saja. Aku juga tidak membela siapa-siapa. Kamu tetap ibu dari si kembar. Tapi aku saranin, kamu cari saja pria lain. Jangan main sama pria plin-plan seperti dirinya."


Marva berdecak kesal, sedangkan Rei hanya tersenyum. Arby lalu mengajak Chiro yang tadi duduk di ayunan bersama si kembar pulang.


Radhi dan Raine menghampiri keduanya.


"Aunty menjemput kami?"


"Iya, tidak apa, kan?" Si kembar mengangguk, mereka langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Kita makan siang dulu, ya?"


Marva lalu mengajak mereka ke restoran Jepang yang sudah dipesan Marva dengan ruangan privat, karena tidak mau ada yang melihat mereka.


__ADS_2