Mother

Mother
67 Tidak Melakukan Apa-Apa


__ADS_3

Dokter Agam kembali mendekati Rei dan kawan-kawannya.


"Boleh saya duduk di sini?"


"Boleh banget, Dok," jawab Zilda.


Dokter Agam melihat ke arah Chiro, Radhi dan Raine, tapi tidak bertanya apa-apa.


"Jadi kamu kuliah kedokteran? Di mana, dan sekarang praktek di mana?"


"Iya, Dok. Aku mengubah keinginanku yang dulunya mau menjadi arsitek. Aku kuliah di luar negeri, dapat beasiswa."


"Dokter tahu, berkat kebaikan dokter, aku bisa menjalani kehidupan aku setelah aku bisa lepas dari sesuatu hal."


"Aku?"


"Iya. Dokter kan dulu membantu aku berjualan kue, menitipkannya di kantin rumah sakit, juga memberikan aku banyak pesanan untuk teman-teman dan tetangga Dokter."


"Aku ikhlas, Rei."


"Aku tahu, aku bisa merasakan ketulusan yang dokter berikan. Saat dokter menemaniku dan membantuku menjaga nenek yang dulu dirawat di rumah sakit. Memberikan aku makan dan minum, juga selimut agar aku tidak kedinginan."


Marva terdiam.


Apa yang dulu dia lakukan saat Rei mengalami masa-masa sulit itu?


Tidak ada


Dia tidak pernah menginap di rumah sakit untuk menjaga neneknya Rei, bahkan membesuknya saja tidak, selain acara akad tanpa pesta itu.


Dia tidak pernah memikirkan apakah Rei merasa nyaman atau tidak saat tidur di rumah sakit. Apakah dia sudah makan atau belum.


Tidak pernah bertanya bagaimana keadaan neneknya, meski hanya sekedar basa-basi.

__ADS_1


Apa yang pernah dia lakukan untuk Rei?


Hanya memberikannya uang dan barang-barang mahal, yang hanya sedikit saja perempuan itu pakai.


Masih Marva ingat, dari sekian pakaian yang Marva belikan untuk Rei, hanya tujuh saja yang Rei pakai. Sisanya?


Masih ada bandrolnya.


Dari sekian botol minyak wangi, hanya satu botol saja yang Rei pakai, itu lun todak sampai habis.


Alat kecantikan? Tidak ada yang dipakai.


Tas dan sepatu sekolah?


Tidak ada sama sekali yang Rei gunakan, dia selalu menggunakan tas dan sepatu lamanya.


Perempuan yang kini ada di hadapannya itu tentu saja semakin cantik dan terlihat dewasa. Apa yang dia pakai juga bukan lagi barang-barang lusuh.


"Jadi waktu aku mengantar kamu ke bandara itu, kamu tidak pernah kembali ke sini lagi?"


"Iya. Aku tidak punya cukup uang untuk mondar-mandir ke luar negeri, Dok. Meski sebenarnya aku sangat ingin mengunjungi makam nenek dan kedua orang tua aku."


"Malam nenek kamu baik-baik saja."


Rei langsung menatap wajah dokter Agam, apa dokter itu tahu sesuatu?


"Terkadang aku mengunjungi makam nenek kamu, karena makam keluargaku juga di sana." Rei sangat terharu mendengarnya, berbeda dengan Marva yang merasa tidak nyaman.


Apa yang pernah dia lakukan? Kembali dia bertanya.


Dia tidak pernah mengunjungi makam nenek Rei, hanya saat pemakaman saja dia ke sana. Bukankah nenek Rei berarti neneknya juga? Eyang dari anak-anaknya. Meskipun hubungan dia dan Rei sudah berakhir, setidaknya dia masih menunjukkan kepeduliannya.


Tapi ini tidak.

__ADS_1


Marva benar-benar menunjukkan dirinya adalah orang asing.


Dokter Marva saja, yang bukan siapa-siapa, sangat baik dan peduli pada mantan istri sirinya itu.


"Dokter Agam baik banget, aku jadi terharu. Aku mau punya suami kaya dokter Agam," celetuk Zilda, yang langsung mendapat lirikan dari orang-orang.


"Pria tampan, mapan dan dermawan. Bego lah, kalau dilepaskan." Mencari pembelaan dan pembenaran atas kata-katanya.


"Benar. Sayang kalau dilepaskan. Semoga saja jodohnya baik, orang baik haris sama orang baik."


"Aamiin," ucap Rei, Naya, Monic, Zilda dan Letta.


Banyak yang tidak nyaman mendengarnya, selain dokter Agam tentunya, yang tidak tahu konflik dalam lingkaran para keluarga kaya itu.


Dokter Agam melihat keluarga Arthur, dia juga kembali teringat kalau dulu Rei pernah mengatakan kalau keluarga itu adalah majikannya. Aneh juga bertemu dengan mantan majikan dan pembatu yang kini keadaannya sudah sangat berubah. Mantan pembantu kini menjadi dokter.


.


.


.


Hari Seni, yang punya vote bisa kasih buat aku. Hadiahnya juga bisa tiap hari. Kan enak aja gitu kalo lihatnya banyak, mungkin bisa nambah pembaca. Hehehe ....


Makasih untuk yang masih setia membaca ceritaku. Jangan lupa like.


Oya, jangan lupa baca ceritaku yang lain ya:


Arrogant Wife


Akibat Pernikahan Dini (kisah tentang Freya dan Arby)


Jarak (sekuel Akibat Pernikahan Dini)

__ADS_1


__ADS_2