Mother

Mother
150 Merenungi


__ADS_3

Hujan mulai turun, memberikan aroma khas tanah yang basah.


Ikuti kata hati


Haruskah seseorang tetap mengikuti kata hati meski akan menyakiti hati orang lain?


Apakah ada batasnya untuk seseorang menyenangkan hati orang lain meski semua itu justru menyakiti hatinya sendiri?


Tiga hati


Merenung di tempat yang berbeda


Vio ingin tetap egois dengan memiliki Marva, suaminya, meski mungkin Marva tidak lagi ingin bersamanya.


Marva ingin sekali egois dengan bersama Rei, meski itu akan melukai Vio dan ditentang keluarganya.


Rei ingin sekali egois dengan selalu bersama dengan anak-anaknya.


Vio, dengan melepas Marva, mungkin itu akan membuat Marva bahagia, tapi tentu saja sangat menyakiti hatinya sendiri. Sanggupkah dia menerima rasa sakit itu?


Marva, dengan melepas Rei, mungkin itu akan menyenangkan hati keluarganya termasuk Vio. Tapi itu akan membuat dirinya sendiri yang menderita. Mampukah dia menjalani semua kesakitan ini?


Rei, apakah dengan bersama Marva akan membuat dia selalu bersama anak-anaknya? Tentu saja, tapi itu akan menyakiti hati perempuan lain. Apa dia akan bahagia di ayas penderitaan perempuan lain? Bisakah dia egois seperti itu? Tidak, dia juga tidak mau dibenci oleh orang-orang, apalagi oleh sahabat-sahabatnya. Sahabat-sahabatnya memang sangat baik, tapi bukan berarti akan mendukung dia sebagai pelakor, kan?


Tiga orang itu menghela nafas berat.

__ADS_1


Ini seperti dejavu.


Sama seperti keputusan apakah Vio lebih memilih tetap bertahan namun diduakan, atau lebih memilih berpisah.


Sama seperti keputusan apakah Marva akan kembali menikah dengan orang yang tidak dia kenal, meski memang tidak ada pilihan lain untuk dia saat itu karena tekanan dari keluarganya.


Sama seperti keputusan apakah Rei akan menerima kesepakatan itu, menjadi istri kedua yang hanya dinikahi diri dan harus pergi dari kehidupan mereka selamanya.


Di tempat lain, Agam juga sedang merenung, memikirkan perkataan Freya.


Kembali ke tempat tiga orang itu.


Ikuti saja kata hati, tapi jika kamu terluka dan menyesal, tanggung sendiri akibatnya dan jangan menyalahkan orang lain.


"Hah? Ya enggaklah."


"Terus, kamu mendukung Marva?"


"Enggak."


"Mendukung dokter Agam?"


"Enggak."


"Aku tidak pernah mendukung siapa-siapa. Mau Marva sama siapa, mau Rei sama siapa, ya itu urusan mereka, lah."

__ADS_1


Freya dan Monic sedang ada di apartemen Monic berdua saja.


"Terus?"


"Ya pokoknya apa pun yang mereka pilih nanti, itu urusan mereka. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka bertiga."


"Kalau Marva bersama mereka berdua, gimana?"


"Ya terserah, asal sanggup saja mereka bertiga menjalaninya. Tapi pasti sulit, kan?"


Monic mengangguk, membenarkan apa perkataan Freya.


Kembali ke Vio, Marva dan Rei.


Di saat seperti ini, tentu saja mereka membutuhkan teman untuk bercerita, dan yang ada dalam pikiran pertama mereka adalah Freya.


Vio sadar, meskipun Freya teman Rei dan terkadang Vio seka kesal dengan Freya, tapi perempuan itu tidak pernah menyuruh dia melepaskan Marva atau tetap bertahan. Semua keputusan harus dia ambil dengan kepala dingin.


Marva sadar, meskipun Freya sahabat Rei sekaligus mantan istri Arby, tapi perempuan itu tidak pernah menyuruh dia menceraikan Vio atau tetap setia kepadanya. Juga tidak pernah memaksa dia melepaskan Rei atau terus berjuang untuknya. Semua bisa dia yang menentukan sendiri, meskipun akan ada hati yang tersakiti, tapi dia tetap harus bertanggung jawab dengan keputusan yang sudah dia ambil.


Rei sadar, meskipun Freya adalah sahabatnya, tapi perempuan yang lebih seperti kakak bahkan ibunya itu, tidak pernah menyarankan Rei untuk menolak Marva, atau bersama Marva demi anak-anaknya. Semua keputusan harus dia sendiri yang mengambil, tanpa ada pengaruh dari siapa pun.


Mereka ingin menghubungi perempuan itu, sekedar curhat.


Tapi mereka tahu, Freya sudah terlalu lelah mengurusi pekerjaannya yang banyak itu.

__ADS_1


__ADS_2