Mother

Mother
123 Gara-Gara Pisang


__ADS_3

Tiga hari mereka terpaksa mengambil cuti, yang memang disetujui oleh pihak rumah sakit sampai keadaan mulai tenang.


"Hari ini kita pulang."


Yang lain mengangguk, dan kembali melanjutkan sarapan mereka.


Malam harinya mereka tiba di apartemen. Mereka mendengkus saat melihat sudah ada para pria yang menunggui mereka di depan pintu.


"Aku mau bicara padamu."


"Ya sudah, ayo."


Rei membuka apartemennya sendiri, lalu Marva dan anak-anaknya masuk. Saat berita itu beredar, Marva dan si kembar memang ada di tempat Arby, jadi mereka juga tidak bisa kembali ke mansion karena penuh dengan wartawan yang mencari berita.


Di kembar lalu duduk di sofa, sedangkan Rei ke dapur untuk membuatkan makanan dan minuman.


"Aku minta maaf, karena berita ini, kamu jadi mendapatkan kesulitan juga."


Rei menghela nafas. Dia memang sangat malu karena orang-orang sudah tahu tentang masa lalunya yang kelam.


Tapi mau diapakan lagi, nasi sudah menjadi bubur.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Aku harap nanti akan ada pria baik yang mau menerima masa laluku, begitu juga dengan keluarganya."


"Aku akan bertanggung jawab, Rei."

__ADS_1


"Bertanggung jawab atas apa? Aku tidak menuntut apa-apa darimu, kalau kamu mau berbuat baik padaku, jangan mengganggu hidupku. Aku tidak mau dicap sebagai pelakor untuk yang kedua kalinya."


Marva yang tidak suka mendengar itu, langsung memeluk Rei.


"Aku janji semuanya akan baik-baik saja." Pria itu langsung mencium Rei.


"Kamu melihat itu?"


"Iya, aku lihat."


Si kembar yang menyusul mereka ke dapur, tidak sengaja melihat Marva yang mencium Rei. Mereka langsung berlari lagi ke ruang tamu. Mereka saling pandang, lalu sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kamu ini apa-apaan, sih! Tolong jaga sikap kamu."


"Ayo minum. Ini aunty punya kue."


Si kembar diam saja.


"Kalian kenapa?"


"Kami mau ke tempat Chiro." Tanpa menunggu persetujuan dari Rei atau Marva, si kembar langsung keluar dan pergi ke tempat Freya. Rei dan Marva hanya bisa mengikuti, tanpa tahu kalau si kembar tadi sudah melihat mereka.


Sesampainya di tempat Freya, Radhi dan Raine langsung bermain dengan Chiro.


Di sana mereka juga membahas tentang berita itu, kecuali Freya yang terlihat enggan.

__ADS_1


"Kamu urus saja Mic, kamu kan sekarang pengacara Rei," ucap Freya.


"Menurutmu bagaimana, Nay?"


"Ck, jangan tanya aku. Dari dulu tuh aku paling malas membahas tentang cinta segitiga."


"Karena itu akan membuatku bingung dalam memilih," jawaban paling simpel yang Freya berikan.


"Makanya kamu bingung memilih Arby atau Mico, ya?" tanya Marcell.


"Kalau itu aku tidak perlu bingung, karena ...."


Tidak ingin mendengarkan jawaban yang takut membuat hatinya kempes, Arby langsung memasukkan pisang ke mulut Freya.


Freya terpaksa mengunyah pisang itu dengan susah.


"Dasar nyebelin!"


"Pisang yang itu mah, kalah digigit juga lembek dan langsung habis. Beda sama pisang lain yang digigit. Rasanya ngilu-ngilu gimana, gitu. Tapi awet, dan semakin keras. Tuh kan, mulai bereaksi," ucapnya sambil merapatkan duduknya dan melihat ke bawah.


Wajah Freya dan Rei langsung merah padam. Sedangkan perempuan lain merona.


"Kami juga mau pisang itu Daddy/Uncle. Di mana belinya?" tanya Chiro dan si kembar.


Tanpa babibu, Freya langsung menggendong Chiro dan Monic menggendong Raine. Rei menggendong Radhi. Para perempuan itu langsung masuk ke kamar dan menguncinya.

__ADS_1


__ADS_2