
Rei menahan isak tangisnya. Keluarganya memberikan dia kekuatan dengan memeluk perempuan itu. Mereka yang melihatnya masih bingung, bagaimana bisa Rei yang seorang yatim piatu dan tidak memiliki siapa-siapa lagi, tiba-tiba menjadi cucu Yujin, dan adik dokter Agam? Tapi, bukankah itu berarti, dokter Agam juga cucu Yujin?
Bagaimana bisa? Mereka ingin bertanya, tapi ini bukan saat yang tepat.
Sementara itu, Frans, Carles dan Delia sejak tadi tidak melepaskan pandangan mereka dari Rei.
"Sebaiknya kalian pulang saja dulu, tidak ada gunanya menunggu di sini," ucap Ikmal.
"Benar, biar aku, Ikmal dan Arby yang menunggu Marva di sini." Vian ikut memberikan komentar.
Mereka sudah sangat lelah saat ini. Ingin istirahat, tapi tentu saja tidak bisa. Mereka benar-benar sidah terbiasa dengan rumah sakit, tapi tetap saja rumah menjadi tempat yang paling nikmat untuk istirahat.
"Tidak, aku mau di sini saja," ucap Rei.
"Kalian pulang sana, melihat kalian membuat aku kesal saja!"
__ADS_1
"Arby, yang sopan dengan uncle dan aunty kamu!"
"Memang mereka menyebalkan. Sekarang saja, sedih, menyesal, takut. Dulu? Mana peduli mereka dengan perasaan orang! Kamu juga Rei, dulu Marva meminta rujuk padamu, kamu tolak mati-matian, sekarang? Apa kamu takut disalahkan jika Marva kenapa-kenapa? Hah?"
"Arby, kamu jangan ...!" Ucapan Monic terpotong, karena Ikmal sudah menarik tangannya dan menyuruhnya diam saja.
Dia tidak mau kalau Monic jadi sasaran Arby juga. Begitu juga dengan Marcell dan Vian yang langsung mencegah Zilda dan Letta bicara. Mereka tidak mau Arby marah-marah pada Monic, Letta dan Zilda.
Arby melirik ketiga gadis itu, yang langsung mendapat tatapan dari ketiga pria lainnya, seolah berkata jangan marahi mereka juga.
Mico yang juga masih ada di sana, hanya geleng-geleng kepala. Dia sangat heran dengan keluarga ini. Dia hanya menikmati pertunjukan ini, sama seperti biasanya.
"Bagaimana?"
"Keadaannya masih belum stabil, tolong mengertilah. Jangan buat dia tertekan dan banyak pikiran. Jangan juga kalian serombongan masuk ke dalam, kalian kira ini pasar malam!"
__ADS_1
Mereka diam, sadar kalau tadi mereka sudah membahayakan nyawa Marva.
"Kalau kondisinya sudah stabil, kami akan memindahkan dia ke ruang perawatan biasa. Jadi, tolong kerja samanya! Paham? Jadi tolong, sebaiknya kalian pulang dulu!"
"Nun, ajak Rei pulang dulu. Nanti kalau ada perkembangan, aku akan langsung memberi tahu kamu. Arby juga sekarang tidak baik-baik saja, jangan sampai kalian yang kena sasaran."
Monic mengangguk, lalu dia membujuk Rei untuk pulang bersama mereka. Toh besok pagi-pagi sekali, mereka bisa kembali ke sini, sekalian praktek.
Mereka juga harus membujuk para orang dewasa itu untuk pulang. Jangan sampai mereka ikut sakit karena keadaan ini. Memang mereka punya ruangan khusus untuk mereka menginap di sini.
"Tim dokter disini akan memantau keadaan Marva, jangan khawatir."
Arlan akhirnya mengajak Elya pulang, begitu juga dengan Frans, Carles dan Elya yang akhir ya berhasil dibujuk pulang, dan keluarga lain.
Doker mengawasi mereka pergi, kalau tidak begitu, bisa-bisa mereka kembali membuat kekacauan. Setelah mereka pergi, dokter baru bisa bernafas lega.
__ADS_1
Kalau saja dia bukan keluarga mereka, mana mungkin berani mengusir mereka dengan keras seperti ini. Tapi ini harus dilakukan, demi kebaikan bersama.
Kini yang tersisa hanya Arby, Ikmal, Marcell dan Mico. Mereka duduk di luar ruangan, Sama-sama menghela nafas berat.