Mother

Mother
225 Extra Part 7


__ADS_3

Tidak, aku tidak akan menyerah. Aku sudah melangkah sejauh ini untuk bisa bersama dengan anak-anakku.


Tak apa bila aku harus menanggung dosa seumur hidupku.


Tak masalah jika aku akan dibenci sepanjang hayatku.


Cukup benci aku sepuas hati, tapi jangan kucilkan anak-anakku.


Aku harus tetap bertahan untuk mendidik anak-anakku.


Mengajarkan dan mengingatkan mereka agar tidak menyakiti hati perempuan lain.


Cukup orang tua mereka yang penuh dosa ini.


Seumur hidupku, meski tidak terucap, aku akan selalu meminta maaf padamu Vio, pada ibu yang telah melahirkan kamu dan ikut terluka, pada ayah yang bersedih melihat anaknya menderita, untuk saudara yang kecewa melihat saudaranya bersedih.


Kenapa takdirku seperti ini?


Cukup hukum aku saja, jangan anak-anakku. Mungkin aku akan membuat malu mereka, menjadi anak dari seorang pelakor. Anak yang dilahirkan dari seorang pelakor.


Aku tidak meminta mereka untuk memahamiku. Tidak berharap mereka semua akan mengerti.


Maafkan aku Vio, sebagai sesama perempuan, aku telah menyakitimu sangat dalam. Entah harus dengan cara apa aku menebusnya.


*Aku harus kuat, meskipun aku harus menerima rasa bersalah seumur hidup, akan aku terima. Aku akan membesarkan anak-anakku dengan tanganku sendiri.


Radhi, Raine, dan my new baby, tunggu bunda*.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Semua bergantian membesuk Rei. Sudah beberapa hari, dan keadaan Rei dan bayinya masih sama saja. Mereka hanya bisa berdoa, agar semuanya bisa kembali sehat dan segera berkumpul bersama.


Sekarang Marva masuk kembali ke ruangan ICU. Diusapnya tangan Rei yang sedikit dingin.


"Bangunlah, Sayang! Maafkan aku yang punya banyak salah padamu. Apa pun yang aku lakukan, dan jika suatu saat nanti kamu tahu, yakinlah bahwa semua itu aku lakukan karena rasa cintaku yang begitu besar padamu. Aku ingin kita yang membesarkan anak-anak kita, bukan orang lain."


"Bangunlah Rei! Apa kamu tidak tahu kalau bayi kita kondisinya tidak baik-baik saja? Aku mengaku salah, tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini."


Kemabli digenggamnya tangan Rei. Marva terdiam, merasakan gerakan pelan di tangannya. Lalu dilihatnya mata Rei yang perlahan terbuka.


Dia langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.


🍂🍂🍂


"Anak kita ada di inkubator."


Mereka belum mengatakan kondisi bayi itu pada Rei, takut membuatnya kembali drop.


"Aku mau melihatnya."


"Nanti, ya."


"Aku mau melihatnya sekarang."


Tidak ada pilihan lain, Marga membawa Rei dengan kursi roda. Rei meneteskan air matanya. Tidak perlu banyak bertanya, dia yang seorang dokter, cukup mengerti kalau kondisi anaknya tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Setelah puas melihat anak itu, mereka kembali ke kamar inap.


"Rei, kamu belum memberikan nama untuk anak kamu," ucap Freya.


"Hmmm ...." Rei terlihat berpikir.


"Kakek, mama dan Agam saja yang memberikan nama," ucap Rei pada akhirnya.


Ada yang cemberut!


Tentu saja yang cemberut adalah Frans, Carles dan Delia.


Yujin tersenyum puas dan meledek Frans.


"Namanya Ryujin."


"Enggak bisa enggak bisa enggak bisa! Apa-apaan itu, kenapa namanya harus mirip dengan namamu?" protes Frans.


"Karena dia cicitku."


"Dia juga cicitku, jadi namanya juga harus sama dengan namaku."


"Enak saja. Rei sudah memberikan ijin untukku memberikan nama."


"Itu enggak adil."


Yang lain menghela nafas. Selalu saja begini kalau Frans dan Yujin bertemu. Kapan mereka bisa akur?

__ADS_1


__ADS_2