Mother

Mother
48 Nama Mereka


__ADS_3

Rei membuka matanya dengan perlahan. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba memahami di mana kini dia berada. Ingatannya perlahan kembali pada kediaman Marva, di mana dia yang mencoba untuk kabur, lalu rasa salit yang begitu besar melanda dirinya. Dirabanya perutnya yang kini menjadi rata. Air matanya menetes, memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi.


Apa dia telah melahirkan?


Tapi usia kandungannya masih tujuh bulan.


Apa anak-anaknya selamat?


Jika sesuatu yang buruk terjadi dengan anak-anaknya, pasti keluarga Arthuro, terutama Frans, akan marah besar.


Apa mereka sudah membawa anak-anaknya jauh darinya?


Apa mereka telah dilisahkan begitu saja tanpa dia diberi kesempatan untuk melihat mereka, mengecup, dan memeluk mereka.


Isak tangis Rei keluar, tidak sanggup lagi memikirkannya.


Ceklek


Pintu terbuka ....


Pandangan mata Rei dan Marva beradu.


"Kamu sudah sadar?"


Marva langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.

__ADS_1


"Anak-anakku?" tanya Rei lirih.


"Mereka ada di ruang inkubator karena lahir prematur."


Rei bernafas lega, karena anak-anaknya selamat, dan masih ada di tempat yang sama dengannya meski berbeda ruangan.


"Aku ingin bertemu mereka."


"Iya, nanti, ya. Biar dokter memeriksa kamu dulu."


🌺🌺🌺


Rei menatap penuh haru wajah kedua anaknya. Dipeluknya bayi-bayi itu, lalu dikecupnya berulang kali. Wajah bayi-bayinya tersenyum, seolah tahu bahwa yang melakukan itu adalah ibu kandung mereka.


Rei jufa merasa sedih, dua minggu lebih dia terbaring koma, melewatkan ASI pertama untuk anak-anaknya. Yang dia dengar, katanya ASI akan mempererat ikatan batin antara ibu dan anak. Apakah itu benar? Apakah ikatan batin dia dengan anak-anaknya akan menghilang karena selama ini dia tidak pernah memberikan ASI untuk mereka.


Setelah Marva pergi, Rei buru-buru memberikan ASI untuk kedua anaknya. Lagi-lagi dia seperti penjahat yang akan memberikan racun untuk anak-anak majikannya ... penuh ketakutan.


Dalam hati dia berdoa, semoga ikatan batin antara dia dan anak-anaknya akan selalu ada, meski jarak nanti memisahkan mereka.


Tidak lama kemudian Marva kembali masuk, untung saja Rei sudah selesai memberikan ASI.


"Nama mereka siapa, Kak?"


Marca terlihat heran dengan pertanyaan Rei.

__ADS_1


"Kenapa nanya? Kan kamu sendiri yang memberi nama mereka?"


"Apakah boleh menggunakan nama itu?"


"Tentu saja."


"Halo, baby Radhi Kama Reinando ... halo, baby Raine Kalila Reinanda ... ini bunda."


"Radhi Kama Reinando Arthuro dan Raine Kalila Reinanda Arthuro."


Ya, seharusnya Rei tidak lupa akan nama Arthuro di belakang nama mereka.


Rei kembali menatap wajah anak-anaknya. Yang laki-laki mirip dengannya, sedangkan yang perempuan mirip dengan Marva.


Semoga saja mereka mirip denganku selalu.


Rei ingat dengan erkataan tetangganya dulu, kalau wajah bayi itu masih bisa berubah-ubah. Mungkin sekarang mirip ayahnya, nanti bisa menjadi mirip mamanya. Entahlah, Rei juga tidak tahu itu benar atau tidak.


Yang jelas, Rei sangat ingin wajah keduanya mirip dengannya. Hati Rei merasa hangat.


Perawat datang untuk membawa kembali anak-anaknya. Rei merasa belum puas, tapi dia juga tidak bisa melarang. Sejak kondisi Rei membaik, kondisi anak-anaknya juga ikut membaik.


Marva melirik Rei, bingung dengan apa yang akan dia sampaikan. Begitu juga dengan Rei yang diam-diam melirik Rei, jantungnya selalu berpacu cepat. Takut Marva mengatakan hal yang tidak ingin didengarnya.


"Rei ...."

__ADS_1


"I ... iya, Kak?"


Sungguh, rasanya jantung Rei mau copot saja.


__ADS_2