Mother

Mother
164 Ternyata Sama Sakitnya


__ADS_3

"Freya sadar!"


Mereka meneteskan air mata haru. Ini adalah nafas lega pertama setelah malam naas itu. Tapi tentu saja mereka tidak bisa bernafas lega sepenuhnya, kan?


Freya menatap mereka satu persatu, matanya terlihat kosong, seperti bingung dan tidak mengenali mereka. Mereka belum bisa mengajak Freya bicara terlalu banyak. Sadar saja sudah sangat bersyukur. Rei ingin memeluk sahabatnya itu, tapi tahu masih belum bisa. Tidak bisa dibayangkan bagaimana tubuh itu melakukan operasi tulang berkali-kali. Rei yang membayangkannya saja meringis ngilu.


Keesokan paginya.


"Tadi siapa namanya? Rei, ya?" tanya Freya.


Rei mengangguk pelan. Dokter mengatakan keadaan Freya saat ini.


"Dia akan ingat, lalu lupa, bisa ingat lagi, lalu lupa lagi. Sabar saja, ya."


Cedera di kepala memang membahayakan, dan itu yang terjadi pada Freya. Belum lagi Freya kembali harus melakukan pengobatan penyakit yang ada dalam tubuhnya.


Rasanya Rei terus menerus mau pingsan. Monic tidak kalah histerisnya. Memang di antara mereka berempat, Monic dan Rei lah yang paling sering dibantu oleh Freya. Rei tahu, jika dia menderita melihat Freya yang seperti ini, maka Monic lebih menderita lagi. Sudah tidak terhitung berapa kali Monic pingsan, begitu juga yang lainnya ikut lemes. Akhirnya mereka benar-benar cuti masal. Bagaimana nantinya seorang dokter salah memeriksa pasien, atau pingsan saat operasi, bisa fatal akibatnya.


Dan yang lebih menderita lagi tentu saja keluarga Freya, Chiro dan Arby. Jangan mencari gara-gara dengan pria itu, meski hanya bercanda saja.

__ADS_1


"Kamu Agam? Terus dia Marva?" kembali Freya bertanya, untuk yang kesekian kalinya. Tapi terkadang dia akan menyebut nama mereka dengan benar, bahkan cerita tentang masa sebelum kecelakaan seolah dia masih mengingat semuanya dengan sangat jelas.


"Si kembar gimana kabarnya, Rei?"


Bahkan di keadaan yang normal seperti ini, Freya masih mengingat tentang Rei dan anak-anaknya, padahal belum ada setengah jam yang lalu dia kembali bertanya siapa itu Rei.


Freya memandang Agam lekat-lekat, lalu melihat Rei.


"Kalian ...."


"Cukup Freya, jangan berpikir terlalu banyak. Tugas kamu hanya istirahat saja."


Kondisi Freya setiap harinya semakin buruk. Dia meminta untuk melakukan konferensi pers untuk memulihkan nama baik Abraham, terutama Arby, juga Chiro. Dia juga meminta maaf pada keluarganya juga keluarga Arby.


Semua keluarga Freya berkumpul tanpa ada yang kurang satu pun. Arby tidak hentinya menangis sejak tadi.


Bangunnya Freya sekarang seperti sebuah perpisahan. Perpisahan yang dilakukan dengan baik dan benar kepada semua orang.


Rasanya Rei ingin mati saja. Kenapa dia kembali harus dihadapkan dengan keadaan seperti ini? Bayang-bayang neneknya yang meninggal kembali hadir.

__ADS_1


Jangan Freya


Jangan Freya


Jangan Freya


Jangan ambil Freya dariku, Tuhan. Aku mohon!


Ikmal memeluk Monic dengan erat. Mereka semua seperti ada di ruangan minim udara, rasanya sesak sekali.


Pergi ditinggalkan begitu saja rasanya sangat sakit. Pergi tanpa salam perpisahan seperti nenek Rei dulu. Mereka pikir, jika ditinggal tanpa kata-kata, akan menyakitkan.


Ternyata mereka salah.


Ditinggalkan dengan sejuta pesan dan isyarat pun, seperti orang yang sudah sakit parah dan hanya tinggal dijemput maut, ternyata juga sangat menyakitkan. Mereka seperti ditancapkan pisau dengan perlahan, lalu di saat waktunya nanti, pisau itu akan langsung dicabut begitu saja.


Itulah yang mereka rasakan saat ini. Ikut menyaksikan dan merasakan penderitaan Freya. Apakah mereka harus berdoa agar mudahkan saja jalan itu?


Mudahkan saja jalannya, agar penderitaan ini segera berakhir. Bukankah Freya orang baik? Jangan lagi membuat dia menderita lebih lama ....

__ADS_1


__ADS_2