Mother

Mother
213 Menyindir


__ADS_3

"Tapi tentu saja aku tetap tidak sepintar Freya dan yang lain. Bidangku bukan di bisnis. Aku juga harus belajar management karena klinik, kan. Monic, Letta dan Zilda jauh lebih pintar dariku, selain Freya tentunya."


"Freya? Kaya pernah dengar."


"Freya Zanuar bukan, sih?"


"Yang mantan istrinya Arby, itu?"


"Ya. Rei ini sahabat Freya."


Dengan siapa kita berteman apalagi bersahabat, juga bisa mengubah sikap seseorang pada kita.


Lihat saja saat ini. Perempuan yang tadinya mencibir Rei, sedikit berubah, meski tetap saja terlihat tidak suka pada Rei.


Ya, siapa sih yang suka pada pelakor? Sebaik apa pun pelakor, yang namanya pelakor ya tetap saja pelakor, tidak peduli apa pun alasannya.


Mereka kembali melanjutkan pembicaraan, dengan Rei yang lebih banyak diam. Tetap saja, bisnis bukan bidangnya, dan dia memang tidak mengerti, membuatnya pusing saat mendengarkan pembicaraan mereka.


Marva sedikit menyesal tadi membiarkan teman-temanya bergabung di sana. Tapi ini dia lakukan agar Rei tahu dengan siapa saja Marva berteman, tahu tentang dunia kerjanya dan tidak harus pandai juga dalam bisnis. Marva juga tidak akan kaget jika ada temannya yang tidak suka pada Rei, karena mereka lebih dulu mengenal dan bergaul dengan Vio.


Tangannya tetap menggenggam tangan Rei, agar perempuan itu kuat.


Radhi dan Raine, yang sudah mulai mengerti, tentu saja paham kalau teman-teman ayahnya itu ada yang tidak menyukai bunda mereka.

__ADS_1


"Aku lebih suka masakan bunda."


"Iya, aku juga lebih suka masakan bunda."


"Masakan bunda yang terenak."


"Di mansion, selain koki, tidak ada yang benar-benar pintar memasak."


"Iya."


"Tante, apa Tante pintar memasak seperti bunda kami?"


"Eh?"


"Bunda kami bisa memasak apa saja yang kami mau."


Mereka diam, terutama perempuan yang bernama Siska itu. Mereka (selain Rei) tentu saja sangat tahu kalau Siska tidak bisa masak.


"Meskipun bunda sibuk, tapi setiap kami sekolah, bunda akan menyiapkan sarapan dan bekal untuk kami."


"Bunda juga akan menyempatkan diri membuat makan malam untuk kami."


"Bukan menyuruh koki."

__ADS_1


Suasana semakin hening. Gimana sih rasanya disindir oleh anak kecil? Apalagi anak itu adalah anak temanmu.


"Ayah, gimana kapan-kapan kita mengundang om-om dan tante-tante ini ke tempat kita, biar bisa ikut mencicipi masakan bunda?"


"Baiklah. Ayah akan mencari waktu. Kalian tahun sendiri kan kalau keluarga kita sering mengadakan kumpul bersama."


"Sekalian saja mereka diajak."


"Iya. Biar bisa bertemu dengan para aunty yang sangat baik, pintar memasak dan tidak sombong. Masakan mereka sangat enak, ya. Tante juga bisa ikut memasak bersama mereka, loh."


Glek


Ikut memasak bersama mereka?


Itu sama saja mempermalukan diri.


"Eh, Radhi, aku dengar katanya kuasai perut suami, agar dia tidak jajan di luar, ya?" tanya Raine, sambil berpikir di mana dia pernah mendengar perkataan itu.


"Ck, salah Rain. Kuasai uang suami, biar dia tidak jajan di luar. Kan kalau enggak punya uang, gimana kita bisa jajan di luar?"


Suara tawa terdengar nyaring di meja itu, kecuali dari Siska yang wajahnya sudah merah padam.


Marva memeluk gemas anak-anaknya itu, yang meski masih kecil, sudah bisa membela orang tuanya dengan cara mereka sendiri.

__ADS_1


Ini belum seberapa, coba saja kalau bertemu dengan semua anggota keluarga besar kami nanti. Harus menyiapkan jantung dan hati yang kuat. Kalian belum tahu saja bagaimana saat kami berkumpul.


__ADS_2