Mother

Mother
216 Sindiran


__ADS_3

Orang-orang memperhatikan kumpulan Marva. Mereka memang bicara dengan pelan, karena tidak mau merusak acara yang sedang berlangsung, dan menghormati sang tuan rumah.


Masalahnya, para perempuan itu sudah mendengar perkataan buruk tentang mereka. Tapi mereka terlihat biasa saja, tidak terpengaruh sedikit pun.


Bukan hanya orang-orang yang sedang bicara dengan Marva, banyak juga yang membicarakan mereka. Jadi, apa mereka harus menutup mulut orang-orang itu, atau harus menutup kuping mereka sendiri?


"Kenapa kamu juga marah, Mal?"


"Ya jelas lah aku marah, Nuna itu kan sahabat aku! Kita sudah bersama dengan dia dari kita masih pitik, Ar."


"Kamu saka yang pitik, aku mah enggak!" ucap Arby sambil melihat ke arah bagian Ikmal.


"Sialan, punyaku juga enggak pitik!"


Yang lain menggelengkan kepala.


Dasar!


Para perempuan mulai bergabung lagi dengan para pria itu. Dan tim cowok mulai memasang wajah 'Tak terjadi apa-apa'.


"Memangnya kenapa kalau aku terlihat centil? Toh aku masih jomblo, belum memiliki hubungan dengan siapa pun, tidak berkencan dengan siapa pun atau bertunangan apalagi menikah. Wajar dong kalau aku mencari yang terbaik," ucap Zilda.


"Iya, selama kita belum terikat dengan siapa-siapa, kita masih bisa melebarkan mata untuk melihat yang ganteng-ganteng," jawab Letta.

__ADS_1


"Beda lagi, kalau sudah punya pacar, atau lagi menikah, tapi masih jalan sama orang lain, berbohong, dadar tukang selingkuh! Yang kaya begitu, pantas ditinggalkan dan dibenci!"


Jleb


Ada yang merasa tidak enak hati.


Sasaran utama Zilda dan Letta adalah Marcell dan Vian.


Tapi


Marva


Rei


Ya, seperti itulah!


"Aku ... ke toilet dulu!" ucap Monic, wajahnya sidah merasa tidak nyaman.


Suasana menjadi kaku.


"Kami ... tidak bermaksud menyinggung kamu, apalagi Monic, Rei!"


"Iya, aku tahu. Jangan khawatir. Monic juga pasti paham."

__ADS_1


Yang tidak paham di sini adalah Freya. Doa sedikit banyak sidah tahu apa masalah yang pernah terjadi di masa lalu (masalah sahabat-sahabatnya, bukan masalahnya sendiri).


Dia tidak bisa membenci Monic, juga tidak bisa marah pada Rei.


Dia juga tidak bisa menyalahkan Zilda, juga Letta.


"Kamu enggak apa?" tanya Arby, melihat ekspresi Freya yang seperti itu.


"Aku mau menyusul Nuna dulu."


Setelah Freya pergi, Marcell mulai bicara.


"Seharusnya kalian tidak perlu menyindir aku dan Vian seperti itu. Apa kesalahan di masa lalu itu begitu fatal? Itu hanya salah paham saja, kami juga sudah menjelaskannya pada kalian."


"Jangan dikira kami tidak tahu. Kami diam, bukan berati kami bisa dibodoh-bodohi. Kalian sudah terlalu sering membohongi kami. Pria seperti kalian memang tidak pantas untuk dipercaya!"


Letta dan Zilda meninggalkan mereka. Tinggal Rei sendiri perempuan di sana.


Bingung


Mau menyusul Letta dan Zilda, tapi tidak enak pada Marva dan saudara-saudaranya.


"Aku memang tidak tahu banyak tentang masalah kalian di masa lalu, tapi bukan berarti aku tidak mengerti. Setiap pria pasti ingin memiliki perempuan baik-baik untuk dijadikan istri. Begitu juga dengan perempuan, mereka akan mencari pria baik untuk pendamping hidup mereka. Karena, status janda itu ... entah kenapa, lebih terasa hina dari pada status duda. Aku dan Freya sudah merasakan itu. Padahal tidak banyak orang yang tahu, tapi ada saatnya kami merasa tertekan, apakah ada pria baik yang nanti akan menerima status kami. Jadi Marcell, Vian, jangan hanya menyalahkan Nania dan Aruna, mereka begitu karena kalian duluan yang memulainya. Jangan juga membuat mereka seperti Nuna, yang takut untuk menjalin hubungan apalagi menikah. Perempuan itu pengingat paling baik. Mereka mungkin sudah memaafkan, tapi bukan berarti melupakan. Kalian mungkin anggap sepele masalah di masa lalu, tapi sifat orang berbeda-beda. Yang kalian anggap sepele, belum tentu orang lain juga begitu."

__ADS_1


__ADS_2