Mother

Mother
42 Kegelisahan Rei


__ADS_3

Tidak terasa kini usia kehamilan Rei telah tujuh bulan. Sekarang Marva memiliki hoby baru, yaitu mengelus dan menempelkan telinganya di perut buncit Rei.


Dia tidak pernah mengira kalau menjadi calon ayah akan semenyenangkan ini. Merasakan tendangan-tendangan di perut Rei terasa sangat menyenangkan baginya. Begitu juga dengan Frans, Carles dan Delia yang sudah tidak sabar menunggu kelahiran bayi kembar tersebut.


Jika yang lain terlihat antusias, maka tidak untuk Rei dan Viola. Mereka terlihat lesu meski dengan alasan yang berbeda.


"Coba lihat, ini calon anak kalian. Laki-laki dan perempuan, ya. Keduanya sehat dan berkembang dengan baik. Nah, yang kita dengar itu adalah detak jantungnya."


Dokter terus memberikan penjelasan untuk Rei dan Marva yang terlihat sangat antusias menatap monitor di hadapannya.


Rei menggigit bibirnya menahan tangis. Dia merasa terharu, gelisah, senang, takut ... semua perasaan bercampur menjadi satu. Marva tentu saja merasa sangat bahagia, dipandanginya terus monitor yang menunjukkan anak kembarnya.


Aku akan memiliki anak sepasang sekaligus.


🌺🌺🌺


"Bagaimana hasilnya?" tanya Frans dengan perasaan tidak sabar.


"Kakek akan memiliki sepasang cicit."

__ADS_1


"Itu artinya mereka laki-laki dan perempuan?"


"Benar, Kek."


"Bagus kalau begitu. Keluarga Arthuro akan mendapatkan penerus..Anak laki-lakimu akan menjadi pengusaha yang sukses dan meneruskan perusahaan Keluarga."


Rei hanya diam menyimak, namun perasaannya masih merasa tak nyaman.


Di dalam kamar, perasaan gelisah itu semakin menjadi. Dia mengelus perutnya yang sejak tadi bergerak karena tendangan aktif kedua anaknya.


Bunda menyayangi kalian, bunda tidak ingin kalian direbut oleh orang lain. Hanya kalian yang bunda punya di dunia ini.


Tiba-tiba saja perut Rei terasa keram.


"Awww ...."


"Kamu kenapa?" tanya Marva saat memasuki kamar dan melihat Rei yang meringis sambil memegangi perutnya.


"Perutku keram, Kak."

__ADS_1


"Kamu tiduran dulu!"


Marva merebahkan Rei di kasur, lalu mengusap dengan perlahan perut istrinya itu.


"Anak ayah yang baik ya, di dalam sana. Sebentar lagi kita akan bertemu. Nanti ayah akan membelikan banyak mainan untuk kalian dan mengajak kalian bermain bersama. Ayah sayang kalian."


Cup


Marva mencium perut itu berkali-kali. Saat dia menyentuh perut itu dengan bibirnya, tendangan yang cukup kencang dirasakan olehnya.


"Wah, kalian juga tidak sabar ya, bertemu dengan ayah? Yang sabar, ya."


Diam-diam Rei meneteskan air matanya.


Apa aku harus berpisah dengan anak-anakku tanoa diberikan kesempatan untuk merawat mereka? Aki tidak ingin berpisah dari mereka. Walau bagaimana pun, aku yang mengandung dan melahirkan mereka. Bolehkan aku mengingkari kesepakatan itu? Aku tidak ingin harta mereka, tidak ingin suaminya ... yang aku inginkan hanya anak-anakku tetap bersamaku. Hanya mereka hartaku yang paling berharga setelah kepergian nenek. Hanya mereka yang membuatku tetap bersemangat menjalani hidup


Di kamar Viola


Sabar Viola, tinggal dua bulan lagi semuanya akan segera berakhir. Sebentar lagi kamu dan Marva akan memiliki keluarga yang utuh dengan kehadiran anak-anak itu. Kamu akan menjadi seorang ibu, meski bukan kamu yang mengandung dan melahirkan mereka. Mereka akan menyayangimu layaknya ibu kandung yang melahirkan mereka, jadi mereka tidak boleh tahu siapa ibu kandung mereka yang sebenarnya, sesuai janji kakek Frans.

__ADS_1


__ADS_2