Mother

Mother
194 Menangis Darah


__ADS_3

Vio mundur, berakhir sampai di sini saja sudah, kisah rumah tangganya bersama Marva.


Kalau tahu begini, kenapa tidak dari dulu saja berpisah? Kenapa tidak saat Marva akan menikah dengan Rei untuk yang pertama kalinya saja, aku berpisah dengan Marva? Ini hanyalah perceraian yang tertunda. Hanya memperpanjang rasa sakit, tanpa ada akhir yang bahagia untuk aku rasakan.


Freya, aku ingin memeluk seseorang. Bisakah aku memeluk kamu?


"Tolong jangan membenci Rei. Aku yakin, dia juga tidak mau keadaan yang seperti ini. Aku diakan, di luar sana, kamu juga akan mendapatkan pria yang lebih baik untuk kamu, lebih dari Marva. Lebih mencintai kamu daripada kamu yang mencintainya. Bicara memang mudah, tapi anggap saja ini sebagai pintu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati kamu."


Marva mengusap kepala Vio sesaat, lalu kembali masuk ke dalam ruangan.


Benar, bukankah lebih baik menderita dulu, baru bahagia kemudian. Daripada bahagia di atas angin, lalu menderita hingga lubang terdalam.


Monic, Letta, dan Zilda, mendekati Vio dan memeluknya.


"Jangan benci Rei. Bukan karena dia sahabat kami jadi kami membelanya. Sebagai perempuan, kami juga sangat paham perasaan kamu, walaupun kami tidak berada di posisi kamu."


Mereka memeluk Vio, mencoba memberikan kekuatan untuk perempuan itu. Monic menatap iba pada Vio, rasa takutnya akan sebuah pernikahan semakin besar.

__ADS_1


Aku tidak akan menikah. Sampai kapan pun, aku tidak akan menikah! Tidak akan jatuh cinta, lalu akhirnya terluka, batin Monic.


Mereka kembali masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya Rei yang diam saja. Tidak terlihat bahagia, juga tidak terlihat menderita. Sepertinya perempuan itu berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Resepsi pernikahan ...."


"Tidak! Aku tidak mau ada resepsi pernikahan ... tidak ada Freya, tidak ada pesta!" ucap Rei.


"Setidaknya pernikahan kalian diumumkan, agar tidak ada fitnah."


"Sa ...."


Terlihat wajah yang menahan sakit, monitor kembali menunjukkan reaksi yang tidak diharapkan.


Perlahan mata Marva terpejam.


"Mar, Marva!"

__ADS_1


Rei, Vio dan Elya mendekati Marva, tapi langsung didorong oleh Arby.


"Ini semua gara-gara kalian. Kalau saja sejak dulu kalian tahu perasaannya, pasti tidak akan seperti ini jadinya. Kenapa di saat keadaannya sudah seperti ini, kalian baru mewujudkan keinginannya? Hah?"


"Mar, bangun! Hei, kita baru saja menikah. Apa kamu mau menjadikan aku janda? Apa kamu tidak kasihan pada anak-anak kita dan menjadikan mereka anak yatim? Mar, jangan jadikan mereka bernasib sama seperti aku!"


Rei menangis terisak. Apa dia tidak berhak bahagia?


"Bangun Mar, bangun! Jangan biarkan pengorbanan aku dan Vio kembali sia-sia! Dulu nenek aku, kamu juga jangan berbuat jahat padaku! Aku ikhlas, aku benar-benar ikhlas menikah dengan kamu. Ayo kita besarkan anak-anak bersama. Apa kamu mau menjadikan aku janda di hari pernikahan aku? Jahat banget kamu!"


Dokter terpaksa harus mendorong mereka semua untuk keluar, lalu melakukan pemeriksaan kepada Marva dengan tenang.


Arby menunduk, menggigit bibirnya. Ikmal menghela nafas, melihat mereka satu persatu. Semua diam, membenarkan perkataan Arby.


Kenapa di saat sekarat, baru mereka mengerti?


"Seharusnya kalian belajar dari pengalaman Freya! Seharusnya kalian melihat bagaimana aku dan Chiro begitu terpuruk! Kalian lah yang egois. Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Marva, menyesal hingga menangis darah pun, tidak akan ada gunanya!"

__ADS_1


__ADS_2