Mother

Mother
40 Setan Cemburu


__ADS_3

Marva melihat sesuatu yang berbeda di kamar Rei. Ruangan besar ini terlihat sunyi. Apa yang kurang dari kamar ini? Marva berusaha untuk mencari apa yang kurang itu.


Buku-buku ....


Sudah tidak ada lagi buku-buku yang memenuhi meja atau pun kasur Rei.


Semua buku sudah dimasukkan ke dalam kardus tanpa sisa.


"Kamu enggak belajar?"


"Aku kan sudah lulus."


"Kamu tidak belajar untuk persiapan kuliah?"


"Aku sudah tidak semangat, lagi pula aku sedang hamil. Kalau pun melanjutkan kuliah, tahun depan baru bisa. Kalian pasti tidak akan mengijinkan aku kuliah sekarang, kan?"


Entah mengapa Marva merasakan nada kesal dari perkataan Rei.


Rei memang uring-uringan, entah karena hormon hamil, atau karena dia bosan terus berada di mansion ini tanpa punya alasan untuk ke luar, karena dia sudah lulus sekolah.


Makanan enak ala restoran terasa hambar di mulutnya.


"Rei, ini bibi buatin rujak untuk kamu."


"Wah, makasih, Bi."


Rei dengan antusias memakan rujak itu. Hanya bi Tuti orang di mansion ini yang mengerti dirinya. Saat Rei tidak memiliki selera makan, dia yang paling tahu apa yang harus dilakukan. Cukup memberinya makanan sederhana, tidak perlu mewah apalagi mahal.


"Kakimu sedikit bengkak, ayo bibi pijitin."


"Jangan, Bi. Nanti biar Rei saja yang memijitnya dengan minyak. Bibi istirahat saja."


Rei masuk ke kamarnya, duduk di sofa sambil sesekali memijit pelan kakinya.


Freya, sekarang aku sudah lulus. Maaf kalau sampai sekarang aku belum bisa membalas semua kebaikan kamu.


...****************...


Rei pergi ke dapur, malam ini rasanya dia sangat ingin makan nasi goreng seafood. Dia mulai mengolah bahan, rasanya sudah tidak sabar untuk menikmati makanan yang menurutnya sangat mewah itu.


Dulu, saat masih bersama neneknya, jika memasak nasi goreng paling dia hanya memberi sedikit kecap dan garam saja tanpa ada bumbu lainnya, apalagi telur atau ayam.


Jika menerima gaji, dia akan membeli telur agar neneknya tidak bosan makan makanan yang itu-itu saja. Keadaan mungkin akan lebih baik jika neneknya tidak sakit-sakitan dan harus rutin berobat.


Tapi Rei tidak pernah mengeluh, dia tidak pernah lelah merawat neneknya, karena dia tahu apa yang neneknya lakukan untuknya jauh lebih besar.


Karena melamun mengingat masa lalunya, Rei tidak sengaja menyenggol wajan panas.


"Aw!"


"Kamu enggak apa-apa?"


"Kak Marva?"


"Sini, biar aku yang teruskan."


Marva melanjutkan apa yang Rei kerjakan, hanya tinggal memasukkan bahan-bahan karena bumbu juga sudah dibuat oleh Rei.


"Ini!"


Marva meletakkan nasi goreng itu ke hadapan Rei.


"Lain kali kalau mau makan, bilang sama aku. Jangan pergi ke dapur sendiri."

__ADS_1


"Aku enggak enak kalau harus membangunkan Kak Marva dan mengganggu kak Viola."


Marva menghela nafas. Meskipun Rei tidak berkata banyak, tapi dia bisa menarik kesimpulan dari perkataan Rei.


Keesokan malamnya


"Mulai hari ini aku akan tidur di kamar Rei."


"Tapi kenapa?"


"Aku ingin menjaga Rei dengan baik. Bagaimana kalau malam-malam dia membutuhkan sesuatu atau terjadi apa-apa padanya?"


"Loh, tidak bisa begitu, dong."


Viola tidak terima apa yang akan dilakukan Marva.


"Kamu harus bersikap adil," lanjutnya.


"Vi, saat ini Rei sedang mengandung anak aku, apa salahnya aku menjaga dia selama masa kehamilannya. Aku ingin jadi suami siaga. Kalau terjadi apa-apa pada dia dan kandungannya, kamu mau bertanggung jawab karena kamu yang melarang aku menjaganya? Kamu berani menghadapi kemarahan kakek?"


Viola terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa jika sudah berhubungan dengan Frans.


Marva langsung ke kamar Rei, dilihatnya istri keduanya itu sudah tidur. Diusapnya perut Rei yang terasa sedikit menonjol.


"Anak-anak ayah yang sehat, ya."


......................


Rei merasa bosan, dia ingin jalan-jalan tapi apa diijinkan? Menfajak Marva tidak mungkin, karena pria yang berstatus sebagai suaminya itu sedang bekerja. Kalau pun tidak bekerja, Rei juga tidak ingun mengajaknya karena tidak ingin terlibat perselisihan dengan sang istri pertama.


"Rei?"


"Kak Marva sudah pulang?"


"Mau ke mana, Kak?"


"Aku mau ajak kamu jalan-jalan."


"Benaran, Kak?"


"Iya, aku mandi dulu."


Rei langsung tersenyum bahagia, senyum itu terlihat cantik di mata Marva.


Rei langsung mengganti bajunya dengan dress putih bermotif bunga orange.


Marva ke luar dari kamar mandi dan mekihat Rei yang sudah selesai bersiap-siap. Pria itu lalu memakai baju yang sudah disiapkan oleh Marva.


Pakaian mereka terlihat serasi. Kaos orange berkerah putih dan celana berwarna putih. Entah mengapa Marva terlihat menyukainya. Jujur saja, Rei memang tidak tahu banyak tenrang Marva. Apa hobinya, kesukaannya, dan sebagainya, tapi setiap pakaian yang dipilihkan oleh Rei untuknya, selalu dia suka. Semua masakan yang dibuat oleh Rei, sangat dia suka.


"Ayo!"


Mereka menuju ruang tamu.


"Kalian mau ke mana?"


"Aku mau ajak Rei jalan-jalan, Kek."


"Bagaimana nanti kalau menimbulkan masalah lagi?"


"Kek, kami ini juga sudah menikah, bukan selingkuh. Selama ini selain ke sekolah, Rei selalu di mansion. Kakek saja butuh hiburan, apalagi Rei yang sedang hamil. Kakek mau Rei stres dan jadi bermasalah pada kandungannya? Dokter 'kan juga bilang kalau dia tidak boleh tertekan."


"Ya sudah, kakian boleh ke luar."

__ADS_1


"Kami pergi, Kek."


Viola yang baru turun melihat kepergian mereka.


"Mereka mau ke mana, Kek?"


"Jalan-jalan."


Lagi-lagi aku tidak diajak.


"Kita mau ke mana, Kak?"


"Makan dulu, ya. Kamu mau makan apa?"


"Hm, apa ya? Aku juga bingung. Terserah Kak Marva saja, deh."


"Soto, mau?"


"Mau."


Marva tersenyum. Biasanya perempuan kalau ditanya lalu bilangnya terserah, giliran pria yang memilihkan tapi malah enggak suka ... tapi Rei oke-oke saja. Sesuai dengan perkataan dia sebelumnya ... terserah.


Mereka tiba di warung soto yang cukup ramai.


"Bu, soto kambingnya dua, ya."


"Minumnya apa, Den?"


"Es jeruk dua."


Tidak lama kemudjan pesanan datang. Marva dan Rei makan dengan tenang.


"Kamu mau nambah?" tanya Marva saat dilihatnya makanan Rei sudah habis.


"Enggak, Kak. Nanti kalau aku mau makan lagi, aku bilang sama Kak Marva, boleh?"


"Oke, kamu bilang saja kalau mau makan sesuatu."


Mereka lalu melanjutkan acara jalan-jalan mereka.


"Kita ke mall, ya."


Rei mengangguk, hatinya merasa senang karena bisa ke luar dari mansion.


Sekitar tiga puluh lima menit kemudian mereka tiba di mall. Marva langsung mengajak Rei ke area pakaian. Dia membelikan Rei pakaian ibu hamil. Marca bebas memilih karena dia dan Rei memakai masker.


"Perutmu pasti akan cepat membesar, jadi sebaiknya sudah memiliki persiapan."


Sambil memilih, Marva menggandeng tangan Rei. Bukan karena takut hilang atau posesif, tapi dia tahu bahwa Rei merasa canggung berada di mall yang diperuntukkan untuk golongan atas itu.


Memilih kebutuhan ibu hamil ternyata menyenangkan bagi Marva. Dia mendadak seperti perempuan pecinta shoping. Tidak hanya baju, Marva juga membelikan sepatu dan sandal yang nyaman untuk digunakan ibu hamil.


Setelah puas dengan kebutuhan Rei, mereka kini ke perlengkapan bayi.


"Jangan dibeli sekarang, Kak."


"Kenapa?"


"Masih lama lahirnya, lagi pula kita belum tahu jenis kelaminnya. Kalau beli sekarang, nanti ada model baru kan jadi pengen beli lagi, sayang."


Kali ini Marva yang mengangguk. Sebenarnya tidak masalah kalau dia harus membeli lagi, uangnya banyak. Hanya saja dia ingin menghargai Rei yang selama ini terbiasa hidup berhemat.


"Ayo kita beli baju couple!" ajak Marva.

__ADS_1


Baju couple? Bisa-bisa aku diamuk sama kak Viola lagi, karena dia kemasukan setan cemburu.


__ADS_2